Perlukah?
Menjelang Ramadan, banyak usaha yang bergerak di bidang hiburan malam mengalami nasib buruk. Bukan cuma buruk, tapi juga apes! Banyak warung remang-remang, ditutup, bahkan dibongkar dan dihancurkan oleh Satpol PP. Pertanyaan saya hanya satu. Perlukah?
Bukannya saya tidak memahami tujuan baik dari tindakan ini, yaitu untuk menghormati bulan Ramadan, dan juga untuk menjaga kekhusyukan mereka yang menjalankan ibadah puasa. Tapi entah mengapa, alasan ini memunculkan dua pertanyaan yang mengganjal pada diri saya.
1. Perlukah mengorbankan orang kecil?
Di layar kaca saya melihat seorang ibu-ibu pemilik warung remang-remang pingsan saat melihat warungnya dibongkar dan dibakar. Warung itu terbuat dari dinding anyam dan bahkan dipan-nya pun terbuat dari anyaman bambu. Pastinya, ibu itu bukan orang kaya. Untuk membangun warungnya saja mungkin dia sudah menginvestasikan seluruh uang yang dimilikinya. Dan mungkin, warungnya itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya.
Perlukah, membuat seseorang kehilangan seluruh penghidupannya? Mau menyalahkan ibu itu karena mencari uang dengan cara asusila? Siapa yang akan membiayai kehidupannya nanti? Bagaimana kalau ibu itu punya anak yang harus diberi makan dan disekolahkan?
Perlukah penertiban ini mengorbankan kehidupan seseorang seperti itu?
Kok saya merasa hal seperti ini tidak adil buat si ibu ini. Bagaimana bulan ini bisa menjadi bulan yang penuh berkah kalau awalannya saja sudah dimulai dengan kekerasan kepada seorang perempuan seperti ini?
Salahkah saya berpikir demikian?
2. Perlukah penertiban seperti ini?
Katakanlah ini hanyalah persepsi saya tentang berpuasa. Saya dengar dari teman-teman yang melakukan puasa, bahwa puasa itu sebenarnya adalah tindakan menahan diri. Melakukan kontrol kepada diri sendiri, ditunjukkan pada kemampuan mengontrol lahir dan batin. Benar tidak sih?
Kalau memang benar masa puasa adalah masa menahan diri, maka bukankah itu semestinya menjadi tanggung jawab pribadi untuk menahan diri? Saya yakin bahwa mereka yang berpuasa dengan benar tidak akan terpengaruh meskipun masuk ke rumah bordil sekalipun, karena mereka mampu menahan dirinya. Saya percaya mereka yang berpuasa dengan benar tidak akan kepengen sedikitpun meskipun ditawari makanan enak di hadapan mata.
Benar tidak sih?
Kalau benar begitu, perlukah pemerintah ikut campur dalam urusan pribadi manusia dan Tuhannya dengan cara melakukan penertiban di luar sana? Bukankah penertiban yang dilakukan itu sama saja memandang rendah mereka yang menjalankan puasa, karena menganggap mereka tidak mampu menahan diri kalau disodori hal-hal duniawi begitu.
Ataukah logika saya yang salah?
…
Saya minta maaf kalau misalnya entry kali ini membuat beberapa pihak menjadi tersinggung. Saya tidak sedang berusaha menyerang siapapun, karena tidak ada ruginya juga bagi saya penutupan-penutupan itu. Saya juga tidak sedang menyebarkan propaganda, karena tidak ada untungnya juga bagi saya memikirkan ini. Mungkin saya hanya ingin bertanya. Karena logika saya tergelitik.
Mungkin ada yang bersedia menjawab dengan analisa?