Excuse Me. Do I Owe You Something?

Dalam sebuah film karya Joko Anwar yang berjudul “Pintu Terlarang”, saya mendapati sebuah statement yang lumayan fenomenal (bagi saya). Saya tidak tahu apakah di novel karya Sekar Ayu Asmara, yang juga berjudul sama, ada kalimat ini atau tidak. Saya rasa yang sudah menonton film “Pintu Terlarang” pasti tahu:

“Tidak ada seorang anak pun yang ingin dilahirkan ke dunia ini”

Sebenarnya, beberapa tahun sebelum saya menonton film ini, saya pernah mendengar pernyataan yang isinya kurang lebih sama dari seorang teman. Teman yang saya kenal di sebuah forum ini (sekali lagi, saya tidak main ke forum TERBESAR se Indonesia, melainkan bagi saya, secara subjektif, forum yang saya kunjungi ini adalah forum terbaik se-Indonesia) mengatakan bahwa:

“Merawat anak, dan membesarkannya sampai dewasa adalah KEWAJIBAN orang tua dan bukan hutang anak kepada orang tuanya”

Atau kira-kira semacam itu.

Read the rest of this entry »

According To Byq

Saya dan si Monyed punya pendapat masing-masing tentang bagaimana seharusnya liburan yang menyenangkan itu. Jujur saja, pandangan kami tentang bagaimana menghabiskan liburan itu sungguh-sunggung nggak mirip satu dengan yang lain. Pastinya tidak ada yang menyangka kalau kami bisa menghabiskan liburan tanpa berantem.

Dan memang tidak. Pasti kalau mau liburan ada berantemnya. Tapi entah kenapa, setiap kali liburan bersama si Monyed, selalu berujung menyenangkan.

Cukup aneh juga menurut saya, mengingat selera liburan saya dan si Monyed yang begitu bertolak belakang. Kalau si Monyed lebih suka jalan-jalan yang tergolong high class, dan mewah ke tempat-tempat eksklusif dan lain dari pada yang lain, saya lebih suka perjalanan budaya mengunjungi tempat-tempat dengan nilai sejarah dan memiliki cerita tersendiri. Kalau si Monyed suka berbelanja oleh-oleh, buat saya oleh-oleh terbaik adalah cerita yang tidak bisa ditukarkan oleh benda apa pun.

Read the rest of this entry »

Dog Isn’t A Toy. Please Treat Them Kindly

Saya benci anak-anak yang dibiarkan melanglang bebas tanpa pengawasan yang proper dari orang tuanya. Serius. Saya pernah jadi pembenci anak kecil, dan si Onyed berhasil mengubah pandangan saya. Akan tetapi saya tidak akan ragu-ragu untuk mengubah kembali pendapat saya, kalau saya lebih lama lagi melihat anak-anak liar itu berulah di sekitar saya.

Saya ragu kalau anak-anak itu tidak bisa membaca perintah “Dilarang mengetuk kaca” dan keterangan di bawahnya “dapat menyebabkan hewan menjadi stres”. Tetapi seandainya pun begundal-begundal kecil itu buta huruf atau buta betulanpun, orang tua yang membawa mereka ke kebun binatang itu harusnya bisa mengajari. Atau haruskan mulai dibuat peraturan bahwa kebun binatang hanya boleh dikunjungi oleh orang yang cukup dewasa untuk menaati peraturan-peraturan dalam kebun binatang.

Read the rest of this entry »

3 GPS 1 Tujuan

Liburan kali ini terasa lain. Bukan cuma lain karena kali ini kami sekeluarga nampaknya lagi malas pergi-pergi. Tapi juga lain karena liburan kali ini digunakan Papa sebagai ajang pembuktian keakuratan GPS navigator yang baru saja dibelinya.

Dengan menggunakan sistem GPS, maka Papa bersikeras untuk menggunakan alat itu daripada nanya jalan sama orang. Bayangkan bagaimana sengsaranya saya yang sudah kelaparan di dalam mobil sambil memangku Berry, menunggu sampainya kami ke restoran… Dan nggak nyampe-nyampe karena Papa sedang sibuk mengurusi GPS nya itu. Dan saya pun mengutuki siapapun yang menciptakan benda kotak itu, dan salesman yang menjual benda itu ke Papa.

Read the rest of this entry »

Ground Zero

Sudah saya duga, keputusan untuk mengijinkan pembangunan masjid di area ground zero menuai kebencian berkepanjangan. Meskipun caranya salah, namun saya rasa ini merupakan salah satu cara mereka yang merasa disakiti menunjukkan perasaan mereka. Apakah saya membela satu golongan tertentu? Anda yang sudah lebih lama mengenal saya tentu tahu saya tidak seperti itu.

Ground zero, adalah sebutan untuk area bekas peledakan gedung WTC di New York, pada insiden 11 September 2001. Beberapa waktu lalu ada ide dari beberapa kaum Muslim di Amerika Serikat untuk membangun Masjid di area tersebut. Tentu saja wacana ini menjadi sebuah kontroversi yang membuat beberapa pihak merasa marah.

Meskipun hal ini ditentang oleh banyak pihak, akan tetapi pemerintah NY tetap mengeluarkan ijin untuk pembangunan Masjid di ground zero. Alasannya pada saat itu adalah untuk mempererat hubungan antar umat beragama. Alasan yang menurut saya benar-benar tidak masuk akal. Bagaimanapun saya mencoba membolak balik logika saya, saya tidak pernah bisa cukup gila untuk mengerti kebijakan yang dikeluarkan pemerintah NY tersebut.

Read the rest of this entry »