Bola dan Nasionalisme

Saya tidak sedang meniru-niru topik yang sedang diungkit di salah satu stasiun tipi, tapi kemenangan Indonesia di piala AFF sampai semi final ini, membuat saya teringat wacana yang sempat muncul santer pada waktu piala dunia kemarin. Wacana serupa juga muncul waktu perebutan piala Thomas dan Uber tidak lama yang lalu. Saya mencoba memikirkan, kenapa olah raga menjadi penting untuk membangun nasionalisme bangsa…

Pada jaman dahulu kala, prestise sebuah negara dilihat melalui kekuatan yang dimilikinya, dan itulah sebabnya mereka berperang, menunjukkan kekuatannya. Semakin besar negaranya, semakin bangga rakyat negara tersebut akan bangsanya. Semakin sering mereka menang perang, semakin nasionalis warganya karena mereka merasa bangga dengan kemenangan-kemenangan itu. Kemenangan dalam perang menunjukkan kekuatan, superioritas, keberhasilan untuk menundukkan bangsa lain, dan saya pikir itu jugalah yang menyebabkan munculnya negara-negara kolonialis.

Kemudian, manusia tidak lagi berperang. Perang dilihat sebagai sebuah tindakan menghabis-habiskan sumber daya, tidak hanya sumber daya manusia yang mati di medan laga, tapi juga keuangan negara. Tidak terhitung banyaknya kerugian negara yang berperang (itu kenapa Amerika Serikat merugi karena tentaranya tidak segera ditarik dari timur tengah… STUPID). Besarnya biaya untuk membayar gaji prajurit, amunisi, biaya  intelijen perang dan masih banyak lagi… (belum lagi dikecam warga dunia karena dianggap sebagai negara barbar dan haus darah) tidak sepadan dengan prestise yang diinginkannya.

Perang kemudian direduksi. Ingat filem TROY, dimana dua negara yang berperang hanya ditentukan kemenangannya melalui pertarungan dua prajurit terkuat mereka. Setelah budaya kolonial ditinggalkan, kemenangan prajurit terkuat hanya berbuah prestise dan superioritas.

Mungkin bosan hanya dengan permainan pedang, mulailah permainan-permainan fisik yang biasa dilakukan di ‘kampung-kampung’ dijadikan tolok ukur kemampuan mereka. Badminton, misalnya, asalnya adalah permainan yang dilakukan di India dan Inggris. Ping pong, pada awalnya merupakan permainan yang dikembangkan di Cina. Sepak bola yang juga awalnya berasal dari Cina mungkin menyebar setelah dikembangkan di Inggris melalui jajahannya. “Perang” kini ditunjukkan dengan cara yang lebih halus, lebih tidak memakan korban, dan tetap merupakan pertaruhan prestise tingkat tinggi.

Mengirim kontingen olah raga, bagi saya tidak ada bedanya dengan mengirimkan gladiator ke medan perang untuk melawan gladiator lawan. Kompetisi antar negara moderen, negara dengan peradaban tidak lagi ditunjukkan dengan perang militer. Kompetisi antar negara seperti pertandingan olah raga, olimpiade sains, atau kompetisi yang bersifat ‘swasta’ seperti The Amazing Race Asia atau The Biggest Loser Asia, yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional adalah contoh ‘perang’ peradaban.

Itu jugalah kenapa saya berharap banyak pada final nanti. Jangan sampai kita kalah dengan negara tetangga itu. Setidaknya di acara “The Amazing Race Asia s4″ kemarin kita sudah menang lawan mereka, kali ini pun kita harus babat habis negara kecil yang sombong itu.

My Name Is Bybyq, And I am An Addict

Saya sering melihat di tipi-tipi atau di pelem-pelem luar, ada yang namanya AA, atau Alcoholic Anonymous. Bukan hanya AA, banyak kegiatan-kegiatan serupa dibuat bagi para pecandu, untuk merehabilitasi dirinya sendiri. Rehabilitasi tersebut dilakukan dengan cara si pecandu, atau pasien yang ingin sembuh bergaul dengan orang-orang lain yang sama seperti dirinya untuk membicarakan masalahnya dan mencoba memecahkan masalah mereka. Sayangnya tidak banyak, atau setidaknya saya tidak pernah mendengar hal yang sama ada di Indonesia.

Pecandu, biasanya paling sering dikaitkan dengan hal-hal seperti obat-obatan terlarang, atau minuman beralkohol atau rokok. Tapi, kalau kalian nonton pelem “Confession of Shopaholic” , seharusnya memang ada pengkategorian lain terhadap “kecanduan”; seperti misalnya di film itu, kecanduan belanja. Seharusnya ada yang membuat kegiatan-kegiatan serupa untuk mereka yang kecanduan hal-hal lain, misalnya kecanduan ngemil, kecanduan nonton, kecanduan BLEKBERI…

Saya selalu mendapatkan komplain tentang kebiasaan saya merokok, dan mereka yang melihat saya merokok suka meributkan tentang bahaya kecanduan merokok. Saya tidak kecanduan merokok, saya melakukan itu bukan karena saya kecanduan, tentunya saya bisa berhenti kapanpun saya mau dan saya tidak mengalami fase-fase kecanduan yang merongrong apabila kebutuhan atas “candu” tersebut tidak dipenuhi. Beberapa orang lain, yang tidak bersentuhan dengan rokok dan alkohol (dan juga obat-obatan) kebanyakan lebih rendah tingkat kesadaran mereka mengenai kecanduan.

Kesalahan besar.

Sebagian besar teman perempuan yang saya tahu, tidak merokok dan tidak minum, ketagihan belanja. Beberapa teman laki-laki yang saya kenal, ketagihan game online atau porn. Beberapa yang lain ketagihan bekerja dan menjadi workaholic. Yang lain ketagihan blackberry (atau handphonnya), dan bisa ngamuk-ngamuk seharian kalau tidak dapat signal di gunung.

Saya? Kalau saya ketagihan internet.

Sudah saya bilang saya tidak ketagihan rokok. Tidak ada masalah kalau saya tidak merokok seharian, tapi saya pasti terlihat seperti orang tolol kalau saya tidak bersentuhan dengan internet seharian. Akhir-akhir ini, saya kembali ‘kambuh’ akan ketagihan saya terhadap salah satu game online, Tribalwars.

Beberapa tahun lalu, saya tidak bisa tidak berada di depan komputer, karena saya harus mengawasi game saya ini. Lebih dari dua jam tanpa pengawasan, desa saya bisa tiba-tiba kena serangan beruntun dan saya bisa kehabisan prajurit di sana. Saya bisa menghabiskan 10 jam bermain game ini seharian, dan menghabiskan sisanya untuk membicarakan game ini, dan memimpikannya waktu tidur. Pada masa-masa ini, hubungan saya dengan si Monyed sedang dipertaruhkan, begitu juga dengan kuliah saya yang pada saat itu sedang ‘agak’ terganggu, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak bermain lagi.

Sampai beberapa waktu yang lalu, entah kenapa saya iseng main. Dan saya kembali menghabiskan berjam-jam mengawasi bagaimana desa ini tumbuh dan mempersiapkan diri saya untuk berperang beberapa hari nanti. Saya bahkan bisa membuat diary bagaimana perang ini nanti akan berlangsung. Saya bahkan rela untuk membayar beberapa dollar untuk mendapatkan premium account supaya saya bisa selalu mengakses game ini melalui HP saya. Seandainya si Monyed tidak mengingatkan, mungkin saya sudah benar-benar melakukannya.

Rokok? Rokok tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.

Jujur saja, tidak banyak orang yang menyadari bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi seorang junkie. Hanya saja, mereka ‘nagih’ di hal-hal yang berbeda. Bagi saya, tidak ada satupun dari proses ‘nagih’ itu yang tidak berbahaya. Saya membayangkan teman-teman saya yang dulu bahkan bisa tidur di warnet karena mempertahankan ‘spot’ mereka di game online, atau mereka yang terjebak di hutang kartu kredit karena belanja yang tidak pernah terpuaskan. Mungkin pada saat ini banyak orang yang berpikir bahwa mereka tidak mungkin kecanduan akan sesuatu.

Setidaknya itu yang saya pikirkan dulu.

What’s your addiction?

Not So Busy Day

Saya mulai berpikir, bahwa jangan-jangan orang-orang di sekitar saya benar, dan saya harus mulai mencari kegiatan lain. Apa daya, kegiatan bermalas-malasan di rumah terlalu menyenangkan untuk dilakukan, apalagi saya menemukan kesenangan baru dengan memainkan permainan-permainan lama, seperti: TribalWars.

Beberapa tahun lalu saya tergila-gila dengan game tersebut, saya bahkan sempat menjadi leader di sebuah tribe di salah satu world continent. Sayangnya saya kemudian berhenti bermain, selain karena permainan tersebut benar-benar menghabiskan waktu, saya merasa agak bosan pada saat itu. Dan berhubung sekarang saya mulai ada waktu lagi, saya merasa senang bisa kembali memainkan game tersebut.

Saya tahu saya tidak ada tampang orang yang suka main game online. Tapi seperti beberapa hal yang lain, misalnya blogging, rokok, dan minum, orang-orang juga selalu bilang saya tidak punya tampang untuk itu. Moga-moga saja, nanti waktu saya menambahkan gelar Professor pada nama saya, orang-orang tidak mengatakan hal yang sama tentang itu.

Yang menyebalkan adalah, hari ini koneksi internet benar-benar buruk, dan tidak ada yang lebih menyebalkan selain koneksi internet yang buruk pada saat kita sedang main game online. Koneksi internet yang biasanya cepat karena mendapat signal HSDPA, turun kecepatan menjadi EDGE setiap beberapa menit. Tepatnya setiap kali saya mau ‘berburu resources’, dan membuat ‘pekerjaan’ saya terganggu.

Sekarang, mumpung internet lagi bagus, saya mau balik lagi ke game. See you around.

Milestones (2)

mari… mari saya lanjutkan. Terima kasih bagi yang sudah rela menunggu satu hari untuk mendapatkan lanjutan life review saya selama satu tahun ini. Setelah hal-hal yang berhubungan dengan blogging, dan rekreatif seperti buku dan film, saya lanjutkan dengan pencapaian-pencapaian yang lebih serius.

6. Lulus kuliah

Ini penting buat saya. Selain karena akhirnya saya mendapatkan gelar dan tidak perlu lagi kuliah di kampus itu, tapi ini lebih pada kepuasan pribadi karena sudah membuktikan pada orang tua saya bahwa saya bisa. Tentu saja, ini menyenangkan, di luar kegelisahan saya menghadapi wisuda. Karena sebelumnya saya pernah putus kuliah, ini juga menunjukkan pada keluarga besar saya bahwa saya bukannya ga mampu (CIH!).

7. Dapet kerja

Yah… ini juga sudah saya buktikan. Saya bisa dapet kerja dan saya pernah bekerja. Menurut saya ini sangat penting karena saya tahu bahwa beberapa dari anggota keluarga besar saya berpikir bahwa saya adalah spoiled brat yang tidak bisa apa-apa. Well, mungkin saya memang spoiled brat, tapi saya bukannya tidak bisa apa-apa. :D

8. Postingan di beberapa forum internasional

Sebenarnya ini kerja kecil-kecilan. Saya dibayar untuk posting di beberapa tempat, dan penghasilannya lumayan buat jajan atau beli sepatu. Tapi saya tidak berhasil mencapai apa pun dari sini tahun ini. Saya bisa saja beralasan bahwa saya kemarin disibukkan oleh skripsi dan lain-lain… tapi bukan itu sebenarnya. Saya memang agak malah saja. Pada akhirnya penghasilan online saya selama setahun ini (yang saya targetkan mencapai 100 dollar) bahkan tidak mencapai 10 dollar.

9. Tabungan

Saya melakukan hal baik dengan menabung tahun ini dan itu berhasil. Sebelum akhirnya saya menghabiskannya dengan membeli laptop, saya sudah berhasil mencapaitarget tabungan tahun ini. Senangnya. Itu menbuktikan bahwa saya masih bisa menabung, kalau saya mau. Toh sebenarnya pada saat saya sedang berhemat, bukan berarti saya harus hidup sengsara -_-”

10. Lain-lain

Yang saya maksud lain-lain ini sifatnya rekreatif. Misalnya target saya untuk mencoba 20 restoran baru, atau mencoba beberapa makanan seru, tapi saya tidak lakukan tahun ini. Mungkin tahun depan.

Milestones (1)

Jauh sebelum ini, di awal tahun saya punya beberapa resolusi yang harus saya tepati untuk tahun ini. Dan meskipun entry tentang resolusi tahun baru saya itu sudah hilang karena blog tersebut ikut hilang, tapi saya setidaknya masih ingat beberapa di antaranya.

Setelah masuk bulan Desember, sepertinya saya harus mulai melakukan review dari apa saja yang telah saya capai. Bukan bermaksud untuk merayakannya, tapi rasanya menyenangkan kalau mengetahui bahwa ada sesuatu yang bisa saya capai, menandakan bahwa saya sudah melakukan perkembangan sejak setahun yang lalu. Okay… dimulai dari hal-hal yang sudah saya lakukan:

1. 100 post di blog

Gampang saja… kalau di blog ini (yang dimulai dari bulan April) saja saya sudah mencapai lebih dari 100 entry, maka sudah jelas saya melakukan tugas ini dengan baik. Tujuan saya membuat ini sebagai pencapaian adalah melatih konsistensi saya dalam melakukan sesuatu. Saya adalah tipe orang yang sering berhenti di tengah jalan saat apa yang saya lakukan sudah mulai membaik. Dengan berusaha menjadi konsisten dalam blog, setidaknya saya melatih diri saya untuk tidak dengan mudah berhenti di tengah jalan.

2. Menonton 100 award winning movies

Sepertinya yang ini sudah tercapai tapi saya tidak ingat apa saja yang sudah saya tonton. Kalau ada waktu coba saya review satu-satu. Tapi beberapa review film yang sudah saya tonton ada di blog ini kok, cek aja satu-satu kalau mau tau…

Diantaranya: Caramel, Hunger, An Education, The Kite Runner, A Touch of Spices, Everybody’s Fine, dan The Road

3. Membaca 10 Buku Bahasa Inggris.

Nah, yang ini lebih mudah. Entah kenapa kalau mengingat buku lebih mudah untuk saya daripada mengingat film. Yang sudah saya baca tahun ini adalah:

- Captain Corelli’s Mandolin

- Life of Pi

- Acqua Alta

- Kiki Strike

- Tatty

- Thigmoo

- Indelible

- A Thousand Splendid Suns

- The Boy in A Striped Pajamas

- The Kite Runner

- The Time Traveller’s Wife

- (re-read) Mistress of Spices

dan yang sedang on progress: Around The World in 80 Days

4. 50 Buku BAGUS Berbahasa Indonesia

Okay… Listnya lebih panjang… dan sepertinya saya belum memenuhi quota ini:

- Bumi Manusia

- Anak Semua Bangsa

- Jejak Langkah

- Rumah Kaca

- Ibuku dan Si Turki (terjemahan)

- Teraphy (terjemahan)

- Jampi-Jampi Varaiya

- Perahu Kertas

- Entrok

- Killing A Mockingbird (terjemahan)

- Air Mata Iblis (terjemahan)

-  Tea For Two

- Smokol (kumpulan cerpen)

- Ways To Live Forever (terjemahan)

- Wednesday Letters (terjemahan)

- Janda-Janda Metropolitan

- Ayu Manda

Tuh kan masih kurang banyak. Moga2 kekejar 50 buku deh

5. 10000 page views untuk blog

Yang ini saya yakin sebenernya udah nyampe, cuman karena account saya hilang (termasuk di dalamnya google analytics), saya tidak bisa membuktikan bahwa saya sudah mendapatkan lebih dari 10000 page views dalam setahun ini. Moga-moga tahun depan bisa terbukti.

(To Be Continued)