Hampir Setahun

Yap yap…

Hampir setahun saya ngeblog dengan hosting sendiri seperti ini.

Bukan apa-apa… dan saya bukan tipe orang yang suka merayakan milestone-milestone (selain anniversary saya dengan si Monyed, soalnya itu berarti si Monyed nraktir saya makan-makan enak). Yang agak mengganggu saya mengenai setahun usia blog ini adalah… saya menggunakan blog ini dengan mubazir.

Sewaktu masih kecil, Papa selalu mengingatkan saya untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan sesuatu. Misalnya kalau mau pergi ke luar kota sama teman-teman, Papa akan mengingatkan dan membawakan uang jajan berlebih. Atau kalau membeli makanan atau cemilan khas saat kami berlibur ke luar kota, Papa lebih suka membeli secara berlebihan. Atau kalau mencampur warna untuk pewarna sablon, lebih baik cat sablon nya sisa daripada kurang dan harus mencampur ulang dengan resiko warna cat nya tidak sama. Alasannya mudah, menurut Papa… mending kelebihan daripada kekurangan.

Nggak salah… Itu sama aja ngomong: “mendingan jadi orang kaya daripada jadi orang miskin”.

Itu pula yang terjadi saat saya memutuskan untuk membeli hosting ini.

Karena kebetulan saya mendapatkan harga yang murah, saya pun segera kalap dan membeli paket dengan kapasitas terbesar. Seperti apa yang Papa saya katakan, mendingan lebih daripada kurang, saya pun membeli paket dengan kapasitas hard disk 5GB.

Coba bayangkan apa yang bisa saya lakukan dengan 5GB itu? Oh.. Salah. Pertanyaan yang benar adalah: MAU NGAPAIN SAYA DENGAN 5GB?

Sampai saat ini, dengan banyak upload-an theme dan gambar di sini saja, saya tidak pernah berhasil mencapai 100MB. Awalnya mau saya gunakan untuk apa kek gitu… tapi teman-teman saya yang suka sibuk sendiri itu kemudian membatalkan diri membuat komunitas…

Jadilah 4GB itu tersia-siakan begitu saja.

Tapi, kalau ditanya apakah saya mau menurunkan kapasitas (downgrade) saat daftar ulang (ciyeh, daftar ulang kaya anak sekolahan aja) nanti, maka saya akan dengan yakin menjawab tidak. Jujur aja, saya masih berpikir bahwa kelebihan lebih baik daripada kekurangan. Saya tetap paranoid, kalau seandainya tiba-tiba kapasitasnya tidak mencukupi, maka akan ribet buat saya dan orang-orang yang datang ke blog ini. Iya kan?

orang baik banyak temannya

Ditulis sambil agak sedikit mabok Bailey’s

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film “The Social Network” bersama si Monyed di bioskop dekat rumah. Dalam cerita itu, ceritanya si Mark, pendiri salah satu social network paling besar saat ini, diceritakan sebagai orang aneh yang tidak punya banyak teman. Dan bahkan, pada akhirnya si Mark ini, karena apa yang dilakukannya kemudian dituntut oleh sahabatnya sendiri. Satu-satunya sahabat yang dia miliki.

Selama beberapa hari saya sempat berpikir bahwa memang semua orang yang jenius pasti tidak punya teman. Kadang kala, ketika seseorang begitu pintarnya, dia tidak bisa mengendalikan sisi sosialnya. Dari apa yang saya pelajari (teman-teman yang lulusan psikologi tolong bantuin), manusia ituy memiliki beberapa jenis intelejensia. Bukan cuma intelejensia versi markisa, tapi intelejensia versi beneran, versi manusia bumi.

Secara teoritis, ini disebut dengan multiple intelligences; yaitu: Spatial, Linguistic, Logical-mathematical, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Naturalistic, dan  Existential.

Beberapa orang memiliki kemampuan lebih di bidang linguistik. Pernah dengar atau bahkan kenal seseorang yang mampu menguasai beberapa bahasa sekaligus? Di mana kita yang susah payah mempelajari Bahasa Inggris selama hampir seumur hidup saja belum tentu bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, ini orang bukan cuma bisa cas cis cus dalam Bahasa Inggris, bahkan bisa menirukan beberapa dialek bahasa sekaligus, misalnya. Pernah dengar orang yang begitu ahli di bidang olah raga, tapi bahkan menghitung perkalian sederhana saja mesti menggunakan kalkulator?

Mungkin pada jaman saya dulu, yang paling beruntung adalah mereka yang mempunyai logical-mathematical intelligence dengan level yang cukup tinggi. Setidaknya pada saat saya masih kecil dulu, dari sanalah definisi “pintar” dan “bodoh” dibentuk. Untungnya anak-anak sekarang (dan tentunya anak-anak saya nanti) tidak perlu mengalami hal tersebut, karena orang tua- orang tua jaman sekarang lebih memahami konsep multiple intelligence semacam ini.

Mark, si pendiri facebook yang pintarnya bukan main ini, diceritakan sebagai seorang yang jenius di bidang programming, tetapi sangat payah setiap kali berhubungan dengan orang lain. Sekilas dia terlihat seperti sociopath yang berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan orang lain di sekitarnya. Tapi bagi saya, yang berhari-hari memikirkan situasi itu, saya hanya melihat… mungkin… si Mark ini emang punya level logical-mathematical yang sangat tinggi, tapi sangat rendah di bidang interpersonal intelligence. Siapa yang bisa menyalahkan.

Dari definisinya, kemampuan interpersonal adalah kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang-orang lain di sekitarnya. Jujur saja, saya sendiri termasuk orang yang punya level interpersonal intelligence yang sangat rendah. Saya tidak mudah berteman, apalagi orang-orang yang saya temui dalam kehidupan nyata. Beberapa orang mungkin menganggap saya agak aneh, atau bahkan melihat saya seperti si Mark (bukan IQ nya yang pasti). Mungkin mereka melihat saya sebagai orang yang sulit bersosialisasi (dan itu benar) dan  tidak mau bergaul dengan orang lain (dan yang ini tidak selalu benar).

Waktu kecil, saya sering mendengar dari banyak cerita rakyat, atau dongeng-dongeng, atau berbagai cerpen bobo, yang menyatakan bahwa orang baik selalu memiliki banyak teman. Sayangnya ketika saya dewasa, stigma yang sama tertancap di benak banyak orang termasuk saya, dan saya mulai berpikir, mungkin saya bukan orang baik. Kemudian, orang-orang seperti saya mulai membuat alasan-alasan yang sebenarnya tidak perlu. Pada akhirnya kami selalu bisa menjawab bahwa tidak semua orang diberi kemampuan atau intelegensia di bidang interpersonal sama baiknya dengan orang-orang lain.

Saya tidak.

Mungkin saya bukan orang terbaik di dunia… tapi yang jelas saya bukan orang jahat. Meksipun saya tidak punya banyak teman… toh akhirnya saya tahu, banyak sedikitnya teman, bukan ukuran baik tidaknya seseorang…

Hari ini teman saya menikah

Saya baru saja pulang dari pesta pernikahan kedua teman saya. Saya mengenal mereka semasa saya masih kuliah sebelum saya pindah ke kampus yang itu. Dan di sana, saya bertemu dengan teman-teman lama saya.

Sebenarnya, saya bukannya tidak senang bertemu dengan teman-teman lama saya, karena saya dulu akrab dengan orang-orang ini. Tapi, jujur saja, tadi waktu kami bertemu… maksud saya, untuk sebuah pertemuan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, saya rasa pertemuan itu agak terasa sedikit hambar. Bukannya saya ingin menyalahkan, tapi menurut saya ini karena saya mengajak si Monyed ke sana.

Saya merasa tidak melakukan kesalahan mengajak si Monyed ke sana. Memangnya kenapa?  Saya tahu, ada perasaan canggung antara teman-teman saya itu dengan si Monyed, seperti orang-orang lain pada umumnya, tapi saya rasa saya tidak sedang melakukan kesalahan, karena saya hanya melakukan apa yang tertulis di undangan: BYBYQ AND PARTNER!! Mungkin dari sini saya bisa menilai teman yang mana yang bisa menerima saya apa adanya, dan mana yang tidak. Setidaknya, saya tahu saya sudah cukup terbuka kepada mereka. And that’s the way I am.

Jadi, saya hanya mau mengucapkan selamat menempuh hidup baru, dan semoga berbahagia untuk teman saya itu… terlepas dari orang-orang yang membuat saya mati gaya di sana, saya menikmati acaranya… Saya menikmati tempat dan suasananya… Saya menikmati makanannya… dan saya juga menghargai undangannya :) Semoga langgeng-langgeng, dan seperti kata tante, semoga kamu cepat dapat momongan supaya tante cepat bisa ngemong cucu.

HORAY…

Kenapa Bybyq Ga Mau Pergi Ke Acara Wisuda

Tentu saja, terlepas dari alasan bahwa toga yang akan kami gunakan nanti adalah berupa kostum aneh yang membuat kami akan terlihat seperti makhluk luar angkasa, masih banyak alasan yang membuat saya tidak ingin pergi ke acara wisuda. Sebelum saya menjelaskan alasan yang lain, saya harus meyakinkan semua orang bahwa toga itu benar-benar tidak layak tampil di permukaan. Saya belum mencobanya, dan saya tidak berniat melihat bentuknya sampai nanti hari H. Serius… saya tidak sedang mood mempermalukan diri sendiri.

Saya tidak mengerti kenapa saya harus pergi ke acara wisuda tersebut. Jujur saja, saya tidak melihat untungnya buat saya, karena saya sudah mendapatkan transkrip dan ijazah saya. Pergi ke acara wisuda itu hanya membuang-buang waktu saya, orang tua saya, adik-adik saya… dan juga semua pelaksana dan panitia. Acara graduation semacam itu mulai terasa seperti hallmark-holiday buat saya… meaningless festive. Sudah pasti kerjaannya orang-orang kapitalis yang mengeruk keuntungan dari membuat ratusan toga dan menawarkan jasa foto.

Toh, baru saya tahu beberapa minggu yang lalu bahwa ternyata ada beberapa orang yang benar-benar memutuskan tidak datang di acara wisuda nanti. Saya rasa mereka itu membuat keputusan yang tepat, salah satunya karena mereka tidak membuang uang untuk foto dan membeli baju wisuda yang tidak waras itu. Toh esensi kelulusan sebenarnya tidak ditunjukkan dengan foto saya mengenakan toga ajaib, tapi dengan nilai yang tertera di atas kertas transkrip dan gelar yang dipejeng di belakang nama saya di ijazah.

Lagipula… bukankah saya sudah terlalu tua untuk wisudaan? Saya sudah terlalu tua untuk merayakan hal-hal semacam ini. Atau malah bagi orang tua saya, ini kesempatan untuk merayakan bahwa “AKHIRNYA” si bybyq yang bebal ini lulus kuliah juga. Intinya… kemeriahan semacam ini tidak mendatangkan apa-apa untuk saya… saya hanya berharap saya bisa mendapatkan sinyal yang cukup bagus sehingga saya bisa menggunakan HP saya selama acara wisuda itu dilaksanakan.

Tapi lalu kata-kata tante saya membuat saya sadar sedikit. Mungkin hal yang sama terjadi pada semua peserta wisuda di sana… Mungkin mereka juga sebenarnya tidak seantusias itu mengikuti acara wisuda. Mungkin mereka sebenarnya juga malas mempertontonkan diri mereka dengan kostum aneh itu. Mungkin mereka juga sebenarnya malas ada di sana dan meninggalkan hal-hal yang mungkin lebih seru dilakukan. Tapi mungkin, memang acara wisuda ini bukan untuk mereka. Bukan untuk kami.

Mungkin acara ini memang bukan untuk kami yang lulus, tapi untuk mereka yang ingin melihat kami secara simbolik menyelesaikan pendidikan kami. Untuk orang tua, untuk keluarga yang lain yang ingin melihat apa yang sudah kami capai. Saya pun merasa, mungkin acara ini berarti besar untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah lulus kuliah… melihat anak-anaknya (dua sekaligus) menyelesaikan pendidikannya dengan gelar sarjana. Mungkin itu sebabnya kedua orang tua saya menjadi begitu rempongnya ingin menghadiri acara ini.

Dan saya pun jadi agak maklum.

Meskipun dalam hati saya berharap orang tua saya nggak bisa datang dan saya nggak perlu wisudaan… tapi menurut saya, apa yang dilakukan orang tua saya, berlebai ria itu, wajar.

Di akhir tulisan ini, tiba-tiba saya merasa agak sedikit menua tiba-tiba… Wisudaan membuat saya tua dalam sekejap…

update dulu sebelom posting…

Iya… saya tahu saya udah lama nggak posting. Maaf bukannya malas, tapi akhir-akhir ini saya lagi buntu…

Bukan buntu ide atau buntu kreatifitas… Banyak hal yang sudah lebih dulu muncul di kepala saya tapi saya ternyata buntu dalam merangkai kata. Apa pun yang saya tulis rasanya kok jadi terdengar agak lebay, misalnya seperti tulisan saya kali ini. Baiklah saya mulai mencoba mengupdate apa saja yang sudah terjadi belakangan ini…

Pertama… akhirnya saya sudah punya gelar. Meskipun wisudanya belom, tapi saya sudah dapat ijazah dan nilai (dan ini membuat saya berpikir untuk tidak ikutan wisuda saja, daripada harus diabadikan dalam kostum aneh itu). Nilai saya cukup memuaskan, dan sebenarnya saya sempat menyesali seandainya saya tidak malas-malasan mungkin saya bisa mendapat nilai yang lebih baik lagi. Jadi… perkenalkan… nama saya Bybyq, S.Sos.

Yang kedua… karena gelar tersebut saya dapatkan berdekatan dengan ulang tahun saya kemarin, saya memutuskan untuk berbaik hati kepada diri saya sendiri, dan menghadiahi diri saya sendiri dengan sebuah laptop. Lumayan lah… dengan bantuan si Monyed saya berhasil mendapatkan laptop yang bisa saya gunakan untuk main the sims 3, dengan harga yang tidak terlalu mahal. Saya berharap laptop ini bisa bertahan sama lamanya dengan komputer saya, sebagai pendahulunya (8 thn)

Kegiatan saya sehari-hari, menulis dan menulis. Mencoba nulis blog, batal melulu… nulis artikel nggak jadi-jadi… akhirnya saya kembali lagi pada hobi lama saya menulis fiksi. Bukannya mau saingan sama pemilik blog tetangga, tapi saya merasa saat-saat seperti ini memang moment nya pas banget kalau mau mulai menulis lagi.

Selain menulis, tentu saja saya juga main game. Game favorit saya, sekarang berubah wujud… kalau dulu saya pakai windows XP, maka game solitairenya seperti itu… sekarang dengan windows 7 game solitairenya ganti wajah. Nggak masalah sebenarnya, cuma saya belum terbiasa saja melihatnya. Lalu, sebagaimana tujuan wal saya membeli laptop ini, adalah untuk memuaskan saya dalam bermain game… saya pun tancap gas dengan menginstall the sims 3. Lain kali kalau ada waktu untuk keluar rumah, mungkin saya akan membeli expansion pack lanjutannya.

Oh ya… ngomong-ngomong adik saya yang juga akhirnya lulus juga dan sudah menjadi seorang desainer interior sekarang memilih bekerja freelance. Memang nggak gampang mulainya, karena dia harus mulai cari kenalan satu demi satu, dan saya sebagai kakak yang baik mau membantu jualan… siapa tahu saya dapat pembagian hasil… Portfolio adik saya bisa dilihat di SINI. Atau kalau ada yang butuh interior designer bisa kontak saya di sini.

Horay…

Selesailah sudah saya mengupdate blog ini. Selamat datang bulan desember… Happy International AIDS Day.