Hello Hometown

Ada beberapa alasan kenapa saya tiba-tiba ga posting setelah lebih dari seminggu posting dengan rajin. Memang belom saya beritakan sebelumnya bahwa saya akan menghabiskan beberapa hari di Solo sampai lewat Tahun Baru Imlek nanti. Dan bukannya di Solo saya susah mendapatkan koneksi internet yang bagus, bahkan kadang-kadang koneksi internet di sini lebih bagus, tapi memang bisa dibilang hampir tidak ada waktu untuk ngeblog.

Dua hari terakhir habis untuk mengurusi pernikahan salah satu saudara jauh kami. Tentu saja, acaranya nggak serepot seperti beberapa minggu lalu saat saudara sepupu saya menikah di Jakarta. Meskipun begitu, acara pernikahan ini membuat banyak saudara dari luar kota berdatangan ke sini dan membuat orang tua saya harus membuat penyambutan yang pantas akan kunjungan ini.

Acara pernikahannya… Yah… Begitulah. Namanya juga acara pernikahan. Ada mempelai, ada makanan, ada sekelompok penyanyi yang menghibur para undangan. Ada kerabat yang harus disapa, ada yang tidak harus tapi datang menyapa. Ada yang sudah lama tak bertemu, ada yang sering bertemu tapi tetap saja penting untuk ditemui. Dari yang datang ada yang tidak pernah berubah, ada yang begitu banyak berubah hingga nyaris tidak dikenali.

Satu hal tentang kembali ke kampung halaman: memori.

Bukan hanya saya yang mendapat flashback saat berada di sini. Orang-orang yang bertemu dengan saya pun mendapatkan flashback saat melihat saya setelah sekian lama. Beberapa mungkin mengingat yang baik-baik. Yang lain mungkin mengingat yang jauh lebih baik. Apa boleh buat, Bybyq ini memang orang baik.

Salam dari kampung halaman saya. Apa kabar semuanya?

You Didn’t Take Away My Dream

Emang macem-macem yang bisa dikatakan seseorang pada saat dia sedang emosional. Sayangnya sering kali kata-kata yang keluar tanpa dipikir terlebih dahulu itu berdampak negatif, terdengar negatif, atau lebih tepatnya sangat negatif dilihat dari berbagai sisi.

Saat saya masih SD dulu, guru saya mengatakan kepada kami sekelas sebuah trik untuk mencegah berantem dengan teman. Beliau mengatakan bahwa setiap kali ada hal buruk terjadi, dan kita ingin sekali mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang seseorang atau kepada seseorang, kita harus cepat-cepat menarik nafas. Cepat-cepat kita tuliskan apa saja yang membuat kita kesal atau marah tanpa ada yang terlewat, lalu kalau kita masih marah bacakan saja langsung apa yang kita tulis di kertas itu.

Saat SMP, guru saya punya tips yang lain lagi. Kalau keadaan memburuk dan kita merasa marah kepada seseorang, dan hasrat untuk mengatakan hal-hal buruk dan jahat muncul, maka kita harus menarik nafas dan mengatakan pada orang tersebut, “saya lagi marah sama kamu lho”.

Setiap orang, saya yakin punya cara tersendiri, tapi intinya secara tidak langsung kita menyadari betapa berbahayanya akata-kata yang terucap pada saat sedang marah. Tanpa ingin memunculkan efek drama ala sinetron, tapi bayangkan letupan emosi macam opera sabun di mana dua orang emosi berteriak satu dengan yang lain dan mengatakan banyak hal yang saya yakin 100% akan mereka sesali, meskipun mereka tidak akan mengakuinya,

Begitu pun saya.

Beberapa waktu yang lalu saya berantem dengan si Onyed. Tidak usah khawatir, sebenarnya pertengkaran ini masih diambang batas wajar kok, bahkan masih termasuk biasa-biasa saja. Masalahnya pun sepele, kalau tidak bisa dibilang hanya masalah salah paham yang berkolaborasi dengan Pre Menstruation Syndrome. Tapi saya mengatakan sesuatu yang tidak benar dan tidak seharusnya dikatakan.

Saya mengatakan pada si Onyed bahwa dia menghalangi saya untuk mencapai mimpi saya. Saya bisa mengerti (sekarang) kenapa si Onyed marah banget waktu saya mengatakan itu, karena itu tentu saja tidak benar.
Saya adalah manusia dewasa, saya bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan, tidak ada hubungannya dengan si Onyed. Saya bisa memilih melakukan atau tidak melakukan, mempercepat atau menunda, berhenti atau meneruskan, dan apabila saya tidak berhasil mencapai apa yang saya inginkan, sudah pasti itu salah saya bukan?

Agak canggung juga saya menceritakan ini, karena saya bukan tipe yang suka curcol. Tapi, tak apalah… Anggap saja ini edisi spesial permintaan maaf saya kepada si Onyed atas apa yang sudah saya katakan kemarin…

You didn’t take the dream away from me. You have given your best and I appreciate it. Thank you :)

I Want To Give Something To My Sister

Beberapa bulan terakhir ini entah kenapa salah seorang adik saya, La, yang selama ini tidak suka belajar bahasa tiba-tiba tertarik les bahasa. Tidak tanggung-tanggung, di semester santainya yang terakhir ini dia belajar langsung dua bahasa yang benar-benar asing buat saya maupun dia. Dia les Bahasa Jerman dan Bahasa Perancis sekaligus di kampusnya bersama dengan teman-temannya.

Seiring dengan perkembangan apa yang dia pelajari itu, makin lama dia makin condong menyukai Bahasa Jerman, dan bahkan mulai agak-agak gila menggunakan bahasa Jerman untuk menyebut benda-benda di dalam rumah. Beberapa minggu belakangan, setelah les Bahasa Jermannya berakhir di kampusnya, dia malah bilang dia mau les lanjutan di Goethe Institute. Dia juga berusaha mencari tempat kuliahan yang bagus di Jerman sesuai dengan apa yang dia pelajari selama kuliah ini.

Sekitar satu bulan yang lalu dia sempat mengatakan bahwa dia ingin membeli novel berbahasa Jerman. Meskipun saya sering beli novel online di Amazon, tapi saya tidak pernah tahu ada novel berbahasa Jerman di Amazon UK tempat saya biasa membeli novel (saya biasa beli buku menggunakan voucher yang saya dapatkan melalui menulis, dan voucher itu hanya bisa saya tukarkan di Amazon UK).

Jujur saja saya pernah jauh dari saudara-saudara perempuan saya. Ada masa-masa di mana saya menjauh dari mereka dan itu membuat saya merasa kecewa karena saya senang berada di dekat mereka. Saya mungkin tidak bisa mengganti waktu yang sudah hilang bersama dengan mereka, tapi saya yakin saya bisa memberikan sesuatu yang mereka sukai sebagai ganti apa yang pernah mereka lakukan kepada saya saat saya melakukan hal-hal bodoh di masa lalu saya.

Sebenarnya saya bisa aja ke blog tetangga yang sekarang lagi tinggal di Jerman dan nitip novel sama dia, tapi saya juga takut akan merepotkan. Kalau ada yang tahu di mana bisa menemukan website yang menjual buku berbahasa Jerman, atau toko buku yang menjual buku-buku yang berbahasa Jerman di Jakarta, saya akan sangat senang sekali kalau siapapun yang membaca blog ini bisa berbagi informasi dengan saya.

Anger Management

Ada alasan kenapa entry kali ini saya masukkan dalam kategori spesial. Tumben-tumbenan saya dapat pesenan posting dari seorang teman, untuk membuat entry tentang Anger Management, yang tentu saja ditulis dengan sotoy ala bybyq. Ya iya lah, kalau mau info tentang anger management yang beneran pasti nanyanya sama yang profesional di bidang psikologi, bukan sama blogger pengangguran kaya saya, kan?

Katakanlah, semua ini berawal dari seorang mutual friends yang kami kenal tidak berapa lama yang lalu di dunia maya. Cerita tentang orang ini mengingatkan saya kepada banyak kejadian tentang orang-orang yang ada di sekitar saya. Mengingatkan saya, bahwa people can be so mean sometimes, dan sering kali mereka bisa menjadi begitu jahat justru kepada orang yang paling mereka sayangi. Dan kalau ditanyakan kepada saya kenapa mereka melakukan itu, saya akan dengan jujur menjawab bahwa saya tidak tahu.

Tahun lalu, untuk proyek tugas akhirnya, adik saya Mon membuat proyek mengenai Woman Crisis Center. Saat mengerjakan tugas itu, Mon mendapatkan banyak informasi dan data mengenai seperti apa Woman Crisis Center, dan mengapa perlu ada Woman Crisis Center. Pada kenyataanya meskipun sudah ada undang-undang mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga, tetapi masih sangat sedikit dari korban yang mau melaporkan diri, dengan banyak alasan masing-masing.

Dari data tersebut, Mon mengatakan bahwa para korban, sering kembali berulang-ulang masuk ke dalam siklus yang sama. Mon mengatakan itu juga terjadi pada salah seorang sahabatnya sendiri yang menjalani sebuah abusive relationship. Si korban akan berulang-ulang mengalami jatuh bangun sampai akhirnya kepercayaan dirinya runtuh dalam artian sulit percaya bahwa dia sebenarnya worth untuk dicintai dengan cara yang normal. Dalam keadaan ini korban akan menerima kembali pasangan yang kasar ini, setelah permintaan maaf yang tulus dan berbulan-bulan dengan kelakuan baik, yang kenyataannya kebiasaan kasar itu bisa kembali lagi.

Bukan berarti pasangan yang dikatakan kasar dan jahat ini tidak mencintai pasangannya. Beberapa malah mengatakan mereka tidak tahu bagaimana caranya menyayangi seseorang tanpa berbuat kasar. Masalahnya adalah mereka sering kali tidak tahu di mana batasan ‘kasar’ dan ‘salah’. Menurut undang-undang, bahkan penyerangan verbal sudah dapat dimasukkan dalam kategori Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jadi, kalau pasangan mulai mencaci maki, mengeluarkan kata kasar dan bahkan mulai menyebut pasangannya dengan nama-nama yang tidak pantas, maka dia sudah dianggap melanggar UU KDRT.

Sayangnya, konseling yang diadakan di banyak tempat hanyalah ditujukan untuk membantu korban, bukan pelakunya, sedangkan menurut saya, mata rantai ini harus diputus di pelakunya. Korban mungkin saja move on dan menemukan orang lain, tapi pelakunya akan bisa mencari korban-korban baru, terutama kalau mereka tidak tahu bahwa ada yang salah dengan tindakan mereka memperlakukan pasangan mereka selama ini. Dan saya melihat banyak contoh.

Pelaku kekerasan di dalam rumah tangga menurut saya memiliki gangguan jiwa. Saya tidak mengatakan dia kelainan jiwa atau sakit jiwa, tapi saya yakin ada gangguan pada kejiwaannya. Entah dia memiliki sifat dominan yang terlalu berlebihan (dimana segala sesuatu yang sifatnya berlebihan itu tidak baik), atau dia memiliki rasa insecure berlebihan yang membuat dia harus melindungi diri dan keluarganya dengan ancaman baik fisik maupun verbal. Mungkin saja itu muncul dari masa kecil yang penuh kekerasan dari orang tuanya sehingga dia merasa bahwa kekerasan adalah jalan untuk menunjukkan afeksi kepada orang yang disayangi.

Kadang saya suka kesal pada orang tua yang mengatakan, “mama mukul kamu karena mama sayang sama kamu, mama nggak mau kamu berakhir jadi anak jalanan, jadi mama menghukum kamu dengan memukul”. Saya tidak suka mereka menanamkan ide bahwa “memukul” adalah tanda sayang. Bahkan mereka tidak mengatakan “maaf” setelahnya.

Saya merasa pelaku kekerasan ini (verbal maupun fisik) butuh Anger Management. Mereka juga membutuhkan konseling untuk mengontrol rasa marah itu supaya tidak muncul dalam bentuk yang destruktif. Saya mengenal banyak orang yang memiliki emosi yang tidak stabil. Saya yakin banyak seniman memiliki emosi yang bergolak-golak dengan mood yang selalu berubah-ubah. Tapi saya tahu, semakin seseorang melampiaskan kemarahannya dalam bentuk yang destruktif, makin buruk efeknya untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Mumpung lagi membicarakan tentang hal ini, ada yang tahu nggak tempat konseling untuk anger management di Jakarta?

Nawala, Penting atau Tidak?

Jarang-jarang dapat signal untuk internet yang bagus, saya memutuskan untuk membuka salah satu website favorit saya. Elhadalah, kok ternyata website yang biasanya bisa dibuka dengan baik-baik saja, sekarang tidak bisa dibuka sama sekali. Malah website itu dialihkan ke page NAWALA. Saya mencoba membuka website lain yang sejenis, kok sama saja hasilnya, saya dialihkan ke NAWALA.

Ada apa gerangan?

Empet hati saya tidak bisa menikmati hari itu membuka website yang saya sukai padahal internet lagi kenceng-kencengnya, saya mencoba mencari tahu apa itu NAWALA. Dari beberapa blog (anehnya kok saya malah dapat info tentang makhluk ini dari blog-blog personal bukan dari situs resminya), saya mengetahui bahwa nawala project ini adalah proyek pemblokiran situs-situs yang dianggap memiliki konten pornografi, perjudian, internet phising, dan SARA.

Saya tidak habis pikir.

Bisa-bisanya si provider menyempatkan diri untuk bekerja sama dengan si nawala project ini menghalangi kesenangan pribadi pengguna-penggunanya, tapi tidak pernah beres membuat signal internet di daerah tempat saya tinggal menjadi lebih baik. Sebagai pengguna internet, yang saya inginkan adalah akses tanpa batas (kaya iklan), bukan akses terbatas karena nawala dan/atau kecepatan internet menyedihkan.

Kalau di dunia politik selalu ada kasus menyebalkan satu untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kasus yang sebenarnya, saya kok merasa si Nawala ini adalah pengalih dari kebobrokan layanan provider internet yang sebenarnya.

Kalau saya ditanya soal setuju atau tidak setuju dengan Nawala, saya akan menjawab saya kurang sejalan dengan proyek ini. Lha wong itu urusan personal manusia kok, buat apa orang lain ikutan utak atik? Kalau ada orang tua yang khawatir anaknya membuka konten pornografi, banyak program untuk membatasi kegiatannya. Kalau khawatir warnet menjadi tempat buat penyebaran konten pornografi, ya warnetnya aja yang dijerat dengan peraturan-peraturan.

Jangan karena sebagian orang ga suka, terus semua orang harus kena akibatnya?

Sekarang konten-konten itu ga bisa diakses. What’s next?

Kalau nanti banyak yang protes soal shareware, nanti shareware juga diblock? Kalau ada yang menganggap shareware sebagai alat untuk penyebaran pornografi, nanti shareware kena juga dilarang untuk dibuka?

Dan, satu hal yang membuat semua ini terasa bullshit buat saya. Nih saya ajarin yah, bagi yang pengen membobol si nawala ini. Cara pertama, cari saja di google dengan queary ‘cara menembus Nawala’. Atau, kalau yang sudah ahli menembus youtube dan blogspot waktu jaman blogger dan youtube diblock waktu itu, gunakan lagi ilmu proxy yang pernah sukses itu. Masih tetep sukses tuh.

Lihat betapa proyek ini nggak ada gunanya?

Nawala masih bisa ditembus. Tidak sulit pula melakukannya. Filtering seharusnya bukan dilakukan seperti itu. Kalau mau filtering lakukan secara perorangan, bukan massal kaya gini.

Saya tidak bisa menemukan kata-kata hinaan yang lebih buruk lagi dari apa yang sudah ada di kepala saya. Hh,,,