Manjali & Cakrabirawa

Title: Manjali & Cakrabirawa

Author: Ayu Utami

Language: Indonesia

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

 

Synopsis:

Manjali & Cakrabirawa is the second book of the Bilangan Fu series.

Yuda went for a cliff climbing training session for the military, therefore he left his girlfriend Marja with his bestfriend Parang Jati. He didn’t know that meanwhile, there was a love triangle happened between the three bestfriends, but that wasn’t his biggest problem at that moment.

Marja, spent few days with the angelic eyed Parang Jati felt something she never felt before. She didn’t know that Parang Jati actually felt the same, even they have one same thing kept them away from each other, their love to Yuda. Both Marja and Parang Jati went to an excavation area of the ancient temple and they soon learned the mystery of Manjali and Cakrabirawa.

 

Review:

Manjali & Cakrabirawa feels like the softer side of the Bilangan Fu series. Not only because the story was told from Marja’s side, but it was also lighter in the plot. It wasn’t written like journal like bilangan Fu, instead it was flowing and if you like more romance, you will be satisfied here. For me, personally, Manjali & Cakrabirawa is the anticlimax for Bilangan Fu, but for some people it might be different because the story was so different and it has no relation from the Bilangan Fu’s plot.

Even the characters were no longer described as detail as they are in the Bilangan Fu, it had more historical and myths stories in it. Sometimes even they mixed up so well you don’t know which was one. I think it is wise that the author write this as the second book because after the deep philosophic thinking with Bilangan Fu, Manjali & Cakrabirawa was so much entertaining. I even found myself smiling once or twice reading this book.

I really don’t want to choose between these two series, because they are really different, but if I had to choose I’d say I like Bilangan Fu better. But still, I love the book and would recommend it if anyone ever asked if it’s worth every penny.

Sekilas Update

Kemana Bybyq menghilang selama 3 hari?

Setelah long weekend itu saya tiba-tiba tidak bernafsu untuk posting. Menurut saya itu adalah tindakan yang cukup bijaksana selain karena saya tidak ingin membuat postingan-postingan jayus, saya juga tidak ingin membuat saya mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar ataupun dibaca. Pertama, karena saya sedang merasa kesal dengan sesuatu yang terjadi di blog ini, yang kedua karena saya memang tidak ada ide untuk menulis apapun.

Saya disibukkan dengan banyak kegiatan tidak penting. Saya latihan masak memasak, yang ternyata kata si Onyed (yang menjadi kelinci percobaan saya) tidak jelek juga. Saya juga latihan dandan, yang entah karena si Onyed takut saya ngambek atau memang dia jujur, dikatakannya tidak nampak aneh di muka saya. Saya juga berhasil hidup teratur dengan tidur menjelang tengah malam dan bangun saat matahari belom terlalu tinggi. Hebat?

Satu masalahnya.

Tidak menulis membuat saya menjadi cerewet, dan si Onyed menjadi korbannya. Mungkin sebenarnya hal-hal yang saya ingin katakan kepada si Onyed itu adalah apa yang ingin saya tulis, hanya saja saya mungkin terlalu malas untuk merangkai kata-katanya dalam tulisan. Saya membuat si Onyed bosan dengan ceramah saya yang panjang lebar dan obsesi saya tentang sejarah dan budaya yang akhir-akhir ini menjadi agak terlalu berlebihan.

Akhirnya saya dan si Onyed menghabiskan beberapa hari terakhir itu dengan berjalan-jalan nongkrong dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebenarnya kegiatan yang sama di banyak tempat berbeda, yaitu kami mengoceh, dan tibalah saatnya saya merasa saya kangen menulis.

Salah satu alasan saya kenapa saya sempat ngambek menulis adalah karena si Onyed bilang tulisan saya kadang boring. Yah, saya juga akui sih saya sering menulis hal-hal ga penting dan most of the time menggurui. Saya memang kepengen jadi guru, tapi bukan berarti saya harus menggurui semua orang kan? Dan dia menyebutkan salah satu personal blog milik seorang celebrity blogger yang terkenal karena itu lucu.

Saya tidak ingin terkenal karena melucu di blog saya. Meksipun memang teryata survey membuktikan bahwa pembaca blog di Indonesia lebih suka kalau membaca blog yang lucu dan menyenangkan. Mungkin karena sudah terlalu banyak hal menyebalkan di negara ini sehingga berpikir adalah hal terakhir yang ingin mereka lakukan saat membaca hidup orang lain di sebuah blog. Sayangnya saya tidak bisa melakukan itu, bukan karena saya tidak mau, tapi memang karena saya tidak lucu. Saya pernah membuat tulisan tentang itu.

Tapi, membaca kembali tulisan saya saat itu, dan membaca komen-komen orang lain di sana, saya jadi ingat juga bahwa meskipun saya tidak lucu, masih ada yang menyukai blog ini apa adanya. So, I’m back blogging. Lagipula, konyol rasanya ngambek ngeblog setelah merayakan satu tahun usia blog ini, ya kan?

How Do You Hate Yourself?

Saya menanyakan hal ini selama beberapa hari, atau mungkin sudah lebih dari seminggu ini. Pertanyaan ini terasa lebih mengganggu ketika saya sedang nongkrong di WC, doing my business, sambil bengong menunggu selesainya panggilan alam tersebut. Saya tidak mengerti juga kenapa toilet telah menjadi tempat yang sangat inspiratif bagi saya. Bahkan, sejak saya masih kuliah arsitektur, toilet adalah tempat favorit saya mencari ide kalau saya sedang tidak tahu harus mengerjakan apa.

Suatu ketika, dalam posisi paling nyaman nongkrong di WC, dan saat kaki saya kesemutan setelah beberapa menit tidak bergerak, saya mendapatkan pencerahan. Mungkin pada dasarnya semua orang membenci dirinya sendiri, tentu saja, karena perbedaan antara benci dan cinta itu setipis kertas, mungkin seseorang terlalu membenci dirinya sendiri sampai dia tidak sadar bahwa dia membenci dirinya dan mengira perasaan benci pada diri sendiri itu adalah perasaan cinta. Aneh? Tidak juga, karena ternyata dalam kehidupan sehari-hari banyak kisah percintaan serupa; you think that’s love, but that isn’t.

Sering saya mendengar di televisi, atau di majalah, orang-orang berkata kepada media betapa mereka cinta kepada diri mereka sendiri. Saking cintanya mereka melakukan banyak hal kepada diri mereka. Mereka membebani tubuh mereka dengan gym supaya sehat, mereka mendadani wajah mereka supaya cantik, mereka juga mulai memilah milih makanan yang tidak enak untuk menjaga bentuk tubuh supaya tetap ramping. Buat sebagian orang mungkin itu tough love, menyakiti diri sendiri atas nama cinta, sebagian, seperti saya mulai menduga itu adalah bentuk kebencian yang tidak diakui.

Sama seperti cinta, tidak semua orang berani bertindak atas kebenciannya. Beberapa mengaku mereka cinta diri mereka dan merasa nyaman dengan bentuk tubuh mereka padahal mereka terlalu takut mengakui bahwa mereka benci dengan obesitas yang menggerogoti diam-diam. Beberapa yang lain tega melakukan tindakan ekstrim dengan menyodok-nyodok kerongkongan mereka supaya muntah demi menurunkan berat badan. Di bagian lain dari dunia ini, orang-orang memutuskan untuk memutilasi diri sendiri agar memenuhi kriteria kecantikan agar mereka bisa mencintai diri sendiri. Intinya? Mereka membenci diri mereka yang asli.

Mungkin saya juga membenci diri saya. Saya benci tulang pipi saya, saya benci pipi saya lebih tepatnya. Saya benci rambut saya, yang menempel di kepala saya, terlebih yang jatuh karena rontok. Saya benci dengan kuku jempol kaki saya yang tumbuh miring, dan saya benci dengan tubuh bagian bawah dari pinggang sampai mata kaki. Saya benci dengan tulang saya yang terlalu besar, terutama tulang hidung dan tulang punggung saya yang tidak lurus dan mengganggu kesehatan saya. Pertanyaanya adalah, apakah saya akan menjadi mencintai tubuh saya setelah saya mengubah sesuatu darinya? Atau apakah saya akan berubah sikap dan dengan cinta saya itu saya berani melakukan perubahan untuk membuat diri saya menjadi lebih baik?

Kebaya Kartini

Pada waktu saya lulusan kemarin, saya dibikinkan kebaya untuk acara wisuda. Kebaya itu berwarna putih dengan motif garis samar dan bordiran bunga di bagian leher dan bagian bawah kebaya tersebut. Kebaya sederhana semacam ini biasanya disebut dengan Kebaya Encim; karena pada jaman dulu banyak encim-encim (wanita-wanita Cina yang sudah berumur) mengenakan kebaya semacam ini. Tapi, banyak yang mungkin belum tahu bahwa Kebaya Encim disebut oleh beberapa kelompok sebagai Kebaya Kartini; karena Kartini sering terlihat mengenakan kebaya semacam ini. Bahkan bisa dibilang, ciri khas Kartini adalah Kebaya Encim ini.

Lalu kenapa kalau lagi hari Kartini, orang-orang merasa penting menggunakan kebaya mewah dengan broklat mahal, mendandani anak-anak mereka dengan baju-baju daerah yang bermacam-macam jenisnya (dan dilombakan pula); bukan hanya yang perempuan, tapi juga yang laki-laki. Benar-benar nggak nyambung sama sekali, bukan? Mungkin dalam hal ini, saya setuju dengan tetangga blog saya si Soe, yang juga menginspirasi tulisan saya hari ini.

Kadang-kadang saya kasihan dengan negara ini, dan merasa nelangsa kalau ingat para pahlawan dan pejuang nasional dulu. Dengan diberikannya pelajaran sejarah di sekolah, betapa anehnya kalau banyak orang (setidaknya yang saya kenal) tidak tahu apa-apa mengenai sejarah bangsa ini. Okelah, banyak yang bilang kalau sejarah bangsa ini sudah banyak diputarbalik faktanya, tapi setidaknya hal-hal yang mendasar seperti kenapa ada keraton Jogja dan Solo atau siapa pahlawan dari Makassar bukan sejarah yang berbahaya kalau dipelajari.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya. Bukannya saya tidak tahu kalau sejarah ditulis oleh para pemenang, tapi siapapun pemenangnya kita selalu bisa belajar banyak dari sejarah. Kebenarannya, kesalahannya, kebaikannya maupun keburukannya.

Saya tidak tahu kenapa muncul tradisi mengenakan pakaian adat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kartini. Coba. Apa maknanya mengenakan pakaian adat? Apa mau mencontoh poto Kartini di buku sejarah mengenakan baju adat jawa?

Tidak tahukah para pembuat tradisi ini kalau Kartini sebenarnya adalah perempuan yang tidak bisa diam dan seandainya pada jaman itu sudah populer jeans dan kaos oblong, mungkin beliau akan memilih mengenakan baju nyaman itu? Atau, jangan-jangan Kartini lebih suka mengenakan blazer dan rok bahan yang chic dan modern? Kenapa? Karena sebenarnya Kartini bukan perempuan yang senang dengan kerangkeng budaya. Karena dibalik Kebaya Encim-nya, Kartini adalah ROCKSTAR pada jamannya. Pikirannya moderen dan melaju ke depan.

Ke depan.

Ke masa depan.

Lha kok sekarang, bukannya ngajari anak-anak dengan pikiran-pikiran maju, di Hari Kartini anak-anak diajari untuk melihat ke belakang tanpa diberitahu apa yang harus dilihat dari masa lalu. Diajari untuk mengenakan baju adat untuk mengenang perjuangan Kartini tanpa pernah tahu sebenarnya apa yang diperjuangkan. Mungkin orang tua yang menyuruh anaknya berdandan ala puteri keraton seperi Kartini dulu memang tidak tahu apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini. Nggak ngerti kalau Kartini menginginkan modernisasi.

Kebaya Kartini membuat saya jadi merana. Saya selalu diingatkan betapa kacaunya sejarah negeri ini sampai-sampai orang-orangnya saja malas mempelajarinya. Betapa sejarah yang seharusnya bisa diceritakan berulang-ulang seperti dongeng penyemangat yang menarik hanya terdengar seperti kisah membosankan yang wajib dipelajari. Kenapa?