Bilangan Fu

Title: Bilangan Fu

Author: Ayu Utami

Language: Indonesia

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

 

Synopsys:

Bilangan Fu is the first part of two books in Bilangan Fu series.

Yuda is a young man shaped in modern society. He didn’t believe in anything but himself and always looked down to villagers and people who believed in urban legend. The only thing interests him was mountain climbing, and Parang Jati, his new twelve-fingered friend.

Parang Jati is a mysterious man with angelic eyes and unstoppable devotion to the nature. Not only he could make Yuda, a modern kid who want to conquer the nature to see the mountain climbing the whole different way, but gave Yuda and his girlfriend Marja, with new point of view in looking at the mystery of life.

The love triangle between Yuda, Parang Jati and Marja happened under the surface of their tight friendships. Together the three of them tried to solve the problem in the society, and the curious matter of Bilangan Fu.

 

Review:

Ayu Utami is one of my favorite Indonesian authors. The supernatural-spiritual tales on the story, featured with urban legend and folktales are her signature which made the story very Indonesia. She wouldn’t hesitate to bring the fictional character as close to the real events, made each characters feels so realistic.

The story was written with a flashback plot, as if it was a journal of Yuda. Of course it means the whole story was seen from Yuda’s point of view, which I think is wise because Yuda is the link between the three best friends and the connection between the three and the whole story.

Even the problem was stated boldly in the story, Ayu Utami still gave the readers the space to develop their own interpretation of it. The author didn’t separate the good, and the bad character, but describe them with flaws and quality, and let them make mistakes. The story grow, and even for me the ending was not as what I wanted I can’t imagine a better closure for the story.

Would I recommend it? Of course I will. If you have read Saman and Larung and you loved it, or you have read Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan, and you like them, you might love this one too.

HAPPY EASTER

Ternyata banyak hari besar berdekatan dengan ulang tahun superbyq tahun ini. Bukan hanya hari kartini yang dekat-dekatan dengan ulang tahun blog saya ini, ternyata tahun ini ulang tahun Superbyq.com juga dekat dengan hari raya paskah. I used to celebrate it, but not this year, for one and another personal reasons :D

Jadi, saya hanya mau mengucapkan Selamat Paskah bagi yang merayakannya.

Saya tidak punya banyak cerita tentang Paskah saat ini tapi semoga siapapun yang merayakan paskah mendapatkan hari libur yang penuh makna.

KARTINI

Yap… Kemarin adalah hari Kartini, dan saya menghabiskan waktu mencari-cari tahu tentang perempuan yang namanya harum dan dinyanyikan berulang-ulang dalam lagu ini. Bukan hanya saya ingin mengambil keuntungan dari perjuangan yang sudah dilakukannya dulu untuk kaum perempuan Indonesia, saya ingin lebih mengenal mengenai pribadi perempuan yang menjadi idola penulis Pramoedya Ananta Toer ini. Tentu saja saya tidak akan menuliskan biografinya di sini, karena saya tidak cukup meriset tentang Ibu Kita Kartini.

Saya jadi ingat pelajaran sejarah dulu saya dapatkan di SD mengenai pahlawan-pahlawan nasional kita. R.A. Kartini adalah satu tokoh yang wajib dipelajari; dikatakan karena kiprahnya memajukan pendidikan untuk kaum perempuan Indonesia. Tapi, setelah mempelajari tentang perempuan ini, saya jadi tidak mengerti kenapa setiap hari Kartini kita disuruh mengenakan baju adat. Jujur aja, ritual ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan memorial R.A. Kartini itu.

Ya. Kartini adalah seorang feminis, dan yang tidak banyak orang ketahui dia juga seorang pengajar dan pengamat budaya yang cukup kritis. Keberanian Kartini untuk melakukan otokritik membuat Kartini dianggap berbahaya oleh banyak orang pada jaman itu. Kenapa berbahaya?

Pada saat Kartini sedang semangat-semangatnya, Belanda juga sedang giat-giatnya melakukan politik devide et impera, menggunakan budaya Jawa sebagai alatnya. Dikisahkan bahwa orang Jawa itu punya semangat kepriyayian yang tinggi, dan sangat suka dengan kekuasaan, maka dipecah-pecahlah tiap daerah dengan diangkatnya raja-raja kecil/bupati untuk tiapkantong-kantong kekuasaan Belanda. Kalau si Bupati mau pangkatnya tetap aman, maka dia harus mengikuti maunya penjajah, dan segala upeti dan pajak menjadi milik si Bupati.

Kartini adalah anak Bupati Jepara, itulah kenapa dia bisa punya gelar Raden Adjeng di depan namanya. Dengan pangkat dan koneksi bapaknya dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Dan di sinilah memang pentingnya pendidikan dan membaca (Kartini dikisahkan sangat suka membaca), karena dengan menjadi pintar, manusia itu (bukan hanya perempuan saja) tidak menjadi buta, dan berjalan seperti kuda yang diberi kacamata kuda, disetir oleh siapapun itu kusirnya. Dan memang dengan membaca dan belajar itu, Kartini menyadari kelemahan budayanya, bukan hanya secara politis namun bahwa budaya jawa itu menempatkan perempuan sebagai warga negara kelas dua.

Pada saat itu, perempuan tidak boleh berada di ruang depan kecuali mendapatkan undangan dari pihak laki-laki. Makan dan beraktivitas pun selalu di bagian belakang rumah, karena menurut adat memang begitulah posisi perempuan di strata sosial, di belakang. Meskipun kemudian muncul pembelaan-pembelaan bahwa posisi perempuan bukan direndahkan melainkan diberikan kewajiban yang berat sebagai pendukung dan penopang keluarga dari dalam, tapi saya rasa itu hanya pembenaran saja karena toh sebenarnya perempuan tidak diberikan pilihan ingin menjadi penopang atau menjadi pemimpin.

Pandangan-pandangan Kartini yang dianggap subversif ini, hendak diajarkannya kepada banyak perempuan, sehingga menurut Belanda, Kartini harus diredam. Tidak terbayang kalau Kartini mengajar banyak perempuan (sedangkan perempuan itu mayoritas secara jumlah), bisa-bisa timbul pergolakan karena akan muncul kekuatan yang selama ini tidak disadari oleh orang Indonesia sendiri. Belanda memaksa bapaknya Kartini mencarikan suami untuk anaknya, untuk ‘memasung’ dan ‘meredam’ semangatnya yang berapi-api untuk mengajar. Dan… berhasil!

Ancaman Belanda kepada sang Bupati Jepara itu berhasil karena Kartini merasa kasihan kepada bapaknya yang merasa tertekan dan terjepit antara rasa sayangnya kepada anaknya dan keinginannya untuk mempertahankan jabatannya sebagai Bupati. Dan setelah menikah dan dijadikan istri muda seorang pejabat, Kartini akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perjuangannya untuk terus belajar dan pada akhirnya mengajar. Meskipun terlalu dangkal kalau saya mengambil kesimpulan bahwa pernikahan adalah sebuah penjara untuk perempuan, tapi pada jaman itu mungkin memang begitulah kiranya.

Pernikahan itu, oleh Kartini, dipolitisir menjadi alatnya untuk muncul ke permukaan. Di mana sebagai lajang dia tidak bisa melakukan beberapa hal karena harus menjaga image-nya, sebagai istri pejabat dia bisa bersuara lebih lantang. Itulah mulanya dia memiliki surat-surat berisi pemikiran-pemikiran yang sebenarnya ingin dia tulis sebagai buku.

Sempat beberapa lama saya berpikir ulang, kenapa Kartini begitu historisnya, padahal dia tidak berhasil mewujudkan keinginannya sedikitpun. Kartini akhirnya menikah padahal dia menentang budaya patriarkal Jawa, juga mendukung poligami (karena pernikahannya sebenarnya hanya alat politik baginya), berhenti belajar, dan batal mengajar. Saya tidak mengerti kenapa kegagalannya menjadi sesuatu yang besar? Kenapa dia disebut pahlawan perempuan padahal akhirnya dia tunduk kepada budaya yang ditentangnya sendiri?

And this is why.

Kegagalan Kartini menginspirasi banyak perempuan-perempuan lain; yang terkenal seperti Dewi Sartika dari Jawa Barat, untuk melanjutkan misinya. Bahkan menurut kata Pram, menurut risetnya sendiri mungkin, Kartini juga menginspirasi banyak kelompok-kelompok kecil perempuan untuk belajar dan setidaknya mengerti akan hak-haknya sendiri. Mungkin sekarang perjuangan itu belum terasa karena benturan budaya dan agama, tapi Kartini adalah seorang feminis, bahkan sebelum gelombang feminis di dunia dimulai. Kartini menjadi historikal karena dia adalah pelopor.

Sekarang, orang bebas mengintepretasikan sendiri makna hari kartini untuknya. Ada yang mengatakan bahwa hari Kartini adalah waktunya perempuan menilik kembali bahwa hak-haknya diperjuangkan. Ada yang bilang bahwa hari Kartini mengingatkan kembali bahwa perempuan memiliki kebebasan. Ada yang bilang bahwa di Hari Kartini perempuan harusnya bersyukur karena sekarang nasib perempuan tidak seperti dulu lagi. Suka-suka mereka yang mengintepretasikan.

Mengeluh Time

Yap! Sudah waktunya saya mengeluh. Setelah sekian lama saya nggak bisa posting dari komputer, dan harus menguatkan jempol saya (lagi) karena internet yang nggak beres-beres itu, akhirnya saya bisa online lagi di komputer. Dan, tentu saja, yang pertama kali saya lakukan untuk merayakan kembali normalnya internet saya, ya dengan mengeluh ini.

Beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya di awal-awal saya menulis di blog ini, saya sangat sering mengeluh mengenai betapa leletnya kecepatan internet saya, tapi saya tidak menyangka akhir-akhir ini bahkan saya tidak bisa membuka blog saya sendiri. Alhasil, keinginan saya untuk membuat tampilan blog saya menjadi baru pun tertunda sampai hari ini. Nggak apa-apa sih, bukan sesuatu yang penting banget, tapi yang membuat kesal adalah, saya jadi susah posting saja.

Untungnya si Onyed datang ke rumah saya hari ini.

Bukannya si Onyed bersusah payah membetulkan jaringan internet di sini, tapi… saya pernah cerita nggak sih kalau si Onyed punya chemistry yang aneh dengan segala sesuatu yang bersifat elektronik? Nggak pernah ya? Kayaknya memang ga pernah deh…

Jadi… Si Onyed itu memang punya chemistry yang aneh dengan segala sesuatu yang berbau elektronik (dejavu?). Segala sesuatu yang sifatnya elektronik akan jadi beres kalau dia yang pegang. Dari laptop, handphone, DVD player, TV, segala macam gadget dari mp3 player sampe GPS, dan segala jenis benda elektronik lainnya. Saya tidak tahu kenapa, tapi sepertinya dia memang tertakdir untuk menjadi seorang montir peralatan elektronik. Sayangnya dulu dia males sekolah jadi dia nggak pernah masuk ke jurusan teknik elektro untuk mengembangkan bakatnya itu.

Pernah suatu ketika geblekberi saya nggak bisa dipakai selama beberapa hari karena nggak pernah dapat jaringan. Saya mati-nyala-mati-nyalain lagi, seperti yang biasa sukses untuk memecahkan masalah jaringan ngadat, tapi tidak kunjung berhasil juga. Si Onyed memegang geblekberi itu sebentar, mematikannya, dan menyalakannya lagi sama seperti yang saya lakukan dan hasilnya… sigeblekberi itu menyala lagi. Aneh?

Lebih aneh lagi… saya sedang mendownload software untuk geblekberi saya. Tiga atau empat kali saya lakukan dengan jaringan 3G yang mestinya paling lancar jaya, tapi tidak sukses juga. Saat sigeblekberi itu saya berikan kepada si Onyed, jaringan 3G berubah jadi EDGE, saya pikir kekuatan electromagic si Onyed sudah habis pada saat itu. Dengan tenangnya si Onyed melakukan proses mendownload seperti yang saya lakukan, persis nggak ada bedanya (lha wong dia mentor saya kok!). Bedanya hanya satu: di saat saya dengan jaringan 3G selalu gagal download, si Onyed dengan EDGE sukses hanya dengan satu kali percobaan.

Dan hari ini pun begitu… Dengan kekuatan electromagicnya, si Onyed bahkan ga perlu menyentuh laptop saya. Tiba-tiba aja, jaringan internet dari modem colok saya yang biasanya menunjukkan indikator lemot, tiba-tiba kedip-kedip dengan ceria, menunjukkan internetnya lagi lancar jaya.

Saya sempat berpikir kalau dalam diri si Onyed ini ada semacam daya listrik yang membuat benda-benda elektronik jadi bersahabat dengan dirinya. Pantas saja kalau sedang jalan-jalan di mall dengan si Onyed, saya sering kesetrum pas gandengan. Mungkin ga sih?

Yah… Intinya, meksipun saya melewatkan entry untuk hari kartini (nggak papa, saya bikin postingan panjang tentang Kartini, satu tahun lalu), saya masih bisa online saat ini dan mengganti background blog saya dengan karya si Onyed. Haha!

I felt bad.

I believe I have said many times before that I hate waiting. Therefore, if it was up to me, I would have taken any other way to avoid waiting. Too bad, it wasn’t up to me. So here I am, waiting.

I wasn’t talking about a person, so for those who have assumed that I was complaining about someone, I can assure that whatever you had on your mind was wrong. Unbelievable how someone could have such a negative thought about other person. *tsk* I was waiting for two things; one, a result of a test I had taken several weeks ago, and an answer.

Well… I didn’t want to tell you what they were, just yet, because I don’t want to jinx it. They are big things for me and if I failed it would be a heartbreaking experience all over again. So, although I can’t tell you what I was waiting for, wish me luck because I might need it this time.

Oh. Yeah.

And that made me feel bad about myself.

I used to be so confident, if not conceited, that nothing (I repeat: NOTHING) in this world I can’t do if I want to do it. And I always said, that I don’t need luck.

And today I asked you to wish me luck? I am pathetic! Really. Am I really that desperate?