Sudah Setengah Jalan?

Kemarin salah seorang teman yang sudah lama tidak muncul, menyapa saya. Seperti biasa, seperti yang sudah saya duga, dia memanggil kalau lagi ada masalah. Bukannya dia teman yang jahat, yang kalau lagi ada problem baru muncul memanggil saya, tapi memang dia adalah orang yang hanya bisa memulai bicara kalau sudah kepepet. Kepepet masalah hanyalah salah satunya. Dan kebetulan, satu-satunya orang yang dia tahu bisa memprediksi dan mencari jalan keluar (menurutnya) adalah saya.

Sebenarnya masalah teman saya ini sudah dimulai jauh sebelum saya mengetahuinya. Jujur saja, menurut saya pun dia sudah tahu bahwa dia akan terlibat masalah, karena awalnya dia ngumpet-ngumpet dari saya mengenai apa yang dilakukannya. Bukannya dia terlibat hal kriminal atau gimana, tapi dia pacaran sama cewe yang dia tahu bakal bikin dia repot sendiri. Begonya lagi (maaf saya tidak bisa tidak menggunakan kata yang lebih halus lagi) dia meninggalkan sebuah pekerjaan dengan penghasilan tetap di negeri Singa dan menjadi pengangguran di pulau dewata. Freelancer adalah pengangguran paruh waktu kan? :D

Sekarang, bukan hanya dia dikekang oleh pacarnya, tapi bahkan dia juga tidak punya penghasilan tetap karena dilarang bekerja. Saya tidak mengerti ke mana hilangnya teman saya yang dulu punya ambisi untuk jadi mandiri dan mapan itu, dan kenapa sekarang muncul seorang penakut pengangguran yang bersedia hidup dikempit ketiak istrinya. Mau makan cinta sih boleh… Mending kalau love lifenya adem ayem… Orang ke tiga, ke empat dan kelima bergerilya menunggu waktu mereka putus.

Dua tahun lalu, saat teman saya itu memutuskan untuk berangkat ke Singapura untuk bekerja, saya, dan Si Onyed juga mulai membuat tujuan masa depan. Saya ingin sekolah tinggi, bekerja dengan gaji yang cukup dan bisa menabung untuk dana pensiun. Si onyed pingin punya usaha yang menghasilkan duit sebanyak-banyaknya supaya bisa menghidupi dirinya dan keluarga. Maka, sejak itu kami mulai membangun mimpi itu. Saya, si onyed dan teman saya itu…

Harus diakui, bahwa perjalanan tidak semudah yang diharapkan. Harus diakui bahwa kami mulai melakukan modifikasi-modifikasi dalam menempuh perjalanan itu. Saya yang sempat mau jadi online businesperson memutuskan untuk sekolah dulu yang bener baru bisnis belakangan. Saya bahkan mulai investasi di sebuah usaha kecil-kecilan milik teman saya di Solo. Si Onyed mengetahui bahwa memulai usaha sendiri itu tidak mudah tanpa modal cukup mulai membangun bisnis kecil-kecilan sambil mempelajari bisnis orang tuanya yang sudah lebih dulu mapan. Sekarang untuk memperluas network, si Onyed berencana belajar bahasa ke Cina sekaligus mencari supplier untuk usahanya.

Tetapi apapun yang saya dan si Onyed lakukan saat ini, dengan segala modifikasi cara kami melakukannya, kami tetap fokus dengan tujuan akhir kami nanti. Sedangkan, teman yang saya ceritakan itu berbeda. Dia hilang fokus, dan bahkan mulai masuk pada fase mencari-cari alasan untuk tinggal di zona nyaman yang dia kira aman.

Salah seorang financial planner favorit saya selalu berkata kepada klien yang meminta bantuan untuk bikin rencana keuangan padanya: “tujuan lo apa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat tepat ditujukan kepada seorang yang bingung. Kalau teman saya itu tidak tahu apa yang dia tuju (atau dia sebenarnya tahu tapi terlalu malu untuk mengatakannya pada saya) maka percuma mencari solusi. Yang ada, teman saya itu hanya akan pusing sendiri tanpa tahu apa yang harus diselesaikannya.

Saya tidak tahu apakah teman saya itu membaca entry ini atau tidak. Saya tidak tahu apakah dia masih suka bolak balik mampir ke blog ini atau tidak. Tapi paling tidak meskipun dia tidak membacanya saya berharap entry kali ini akan selalu mengingatkan saya dan siapapun yang membaca blog saya ini untuk ingat dan fokus. Karena saya sudah setengah jalan menuju apa yang ingin saya capai. Kamu, sudah sampai mana?

Update-an Akhir Bulan

Akhirnya saya kehabisan ide mau menulis apaan semenjak Miki dipulangkan ke Solo. Meskipun saya selalu mendapat info dari Solo kalau Miki dalam keadaan sehat dan lebih senang, tapi akibatnya saya tidak tahu apa yang sehari-hari dilakukannya, jadi yah cerita saya tentang Miki jadi terbatas mengenai apa yang saya dengar dari mama dan adik-adik saya yang sudah lebih dulu ada di Solo.

Saya baru sadar ini sudah menjelang pertengahan tahun semenjak saya mendapatkan banyak undangan pernikahan. Ada apa dengan bulan Juni, dan kenapa banyak orang memilih menikah di bulan tersebut? Kalo budaya barat sih, katanya bulan Juni diambil dari nama dewa Juno, dewa cinta. Oh ya? Saya juga ga tau sebenernya gimana, tapi seandainya Junojuno itu benar pun saya merasa tidak ada hubungannya juga karena semua yang mau merit bulan depan (yang saya kenal) semuanya Cina!

Dipikir-pikir, cepat juga tahun ini berjalan. Tiba-tiba saja sudah bulan Mei. Rasanya kok saya belum ngapa-ngapain, dan masih banyak dari list resolusi tahun baru saya yang belum saya laksanakan. Misalnya saya mau menurunkan berat badan, dan saya mau hidup lebih sehat. Meskipun saya mulai bisa mengurangi rokok, tapi untuk dibilang hidup sehat rasanya kok masih jauh…

Oleh karena itu, sudah dua hari ini saya memutuskan untuk bangun jam 6 pagi dan melakukan power walk selama setengah jam untuk memulai hari. Setidaknya sebuah awal yang diniati lebih baik daripada kebanyakan kepingin tanpa realisasi kan? Target-target hidup pun saya mulai susun kembali, dan seperti biasa si Onyed jadi korban kecerewetan saya tentang itu.

Saya membeli HP baru. Setelah lama saya berkeluh kesah tentang signal bb yang timbul tenggelam di tempat tinggal saya, saya kali ini tidak beli bb lagi. Selamat tinggal blackberry. Halo android.

Jempol besar saya ini memang kurang bersahabat dengan gadget-gadget yang beraliran layar sentuh. Tapi, entah kenapa kok saya naksir banget sama benda yang satu ini sampai saya tidak pikir panjang untuk membelinya. Kali ini, bukan saja saya harus menyesuaikan diri dengan layar sentuh, saya juga buta sama sekali dengan feature-feature di android itu. Moga-moga saja, meskipun saya sudah tidak muda lagi, saya belum memasuki tahap gagap teknologi total…

Saya juga mulai belajar masak. Bukan apa-apa, ternyata belajar masak banyak untungnya buat saya. Selain saya terlihat keren dengan tambahan domestic skill semacam itu, saya juga bisa menghemat uang jajan saya dan menyantap makanan yang lebih sehat dan bersih. Kecil kemungkinannya saya akan meracuni diri sendiri, dan yang pasti waktu saya kuliah nanti saya bisa menabung karena menghemat uang akomodasi. Sejauh ini saya cuma bisa masak itu-itu saja… Tapi tenang! Saya sudah ndonlot resep di hape baru saya supaya saya bisa masak dengan lebih beragam.

Percayalah, nanti bukan cuma si onyed saja yang akan jadi kelinci percobaan saya. Papa mama dan adik-adik saya harus merasakan juga. Muahahahaha….

Customer Is The King?

Saya pikir hari ini saya tidak akan berhasil membuat satu entry karena sudah beberapa hari ini saya tidak mendapatkan inspirasi. Apalagi, mengingat persediaan tulisan saya sudah habis dan saya hanya bisa mengandalkan apa yang terjadi hari ini. Tapi, ternyata saya bisa menemukan bahan tulisan setelah malam tiba, saat saya pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari di sebuah supermarket besar di dekat tempat tinggal saya.

Sering kita mendengar para penyedia jasa mengatakan bahwa pembeli adalah raja. Tentu saja, para penjual jasa hanya bisa mengandalkan kepuasan pelanggan akan servis dari mereka, bukan hanya masalah harga dan kualitas barang. Tapi, bagaimana dengan penyedia barang seperti supermarket?

Berapa kali kita pernah mengalami membayar barang belanjaan dengan kasir yang sibuk bercanda dan bergosip dengan temannya yang bertugas memasukkan barang ke dalam kantong plastik. Berapa kali kita pernah mendengar kasir atau resepsionis atau seorang sales menjawab pertanyaan kita dengan ogah-ogahan atau tidak memperhatikan karena mereka sibuk dengan HP nya? Atau dijawab dengan jutek karena ketidak tahuan kita mengenai hal-hal baru di sana?

Lebih spesifik lagi…

Beberapa minggu lalu saya membeli jamur di supermarket tersebut, dan karena jamur tersebut sudah dalam kotak, saya tidak perlu menimbangnya lagi. Tadi, saya berniat untuk membeli jamur yang sama, tapi ternyata kali ini kita harus menimbangnya dulu. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba saja aturan membayarnya diganti seperti itu? Saya tidak keberatan menimbang lagi, atau membatalkan karena malas mengantri, tapi si kasir itu hanya bertanya dengan jutek:

“Belum ditimbang?”

Exactly like that.

Beberapa tahun lalu saya pernah melihat di sebuah forum yang sekarang sudah tutup, sebuah pembicaraan mengenai servis dari penyedia barang. Ada dua mini market yang selalu bersaing ketat, di mana ada mini market A, pasti dalam radius 10 meter di sekitarnya ada mini market I. Waralaba mini market ini memang sudah terkenal saingan harga dan kelengkapan jenis barang, sampai akhirnya saya tahu bahwa ternyata mini market A lebih disukai karena layanan kasirnya jauh lebih baik daripada mini market I.

Kenapa?

Mini market A pernah melakukan semacam customer review untuk layanan mereka. Caranya, kalau pelanggan tidak puas dengan layanan mereka, maka mereka memasukkan sebuah kertas berwarna merah ke dalam kotak saran. Kalau pelanggan puas, maka yang dimasukkan adalah kertas berwarna hijau, sampai akhirnya sekarang meskipun tanpa kertas merah-hijau itu, semua kasir dan penjaga mini market tersenyum kapanpun ada pelanggan yang datang. Di mini market I, mereka menawarkan lebih banyak potongan harga dan harga yang lebih murah dan range produk yang lebih banyak. Tapi soal returning customer, mini market A jauh lebih menang.

Yap. Saya tidak pernah setuju kalau pembeli dijadikan raja, membuat pembeli suka berlaku seenaknya kepada penjual. Saya pernah melihat pembeli yang seolah-olah cuma mereka saja yang punya uang, dan itu membuat saya sebal juga melihatnya. Tapi, service adalah bagian dari apa yang ingin mereka jual kepada customer, bukan?

Letters From Home

Ternyata kekhawatiran saya yang berlebihan tidak beralasan. Kemarin malam, Mon dan Mama saya memberi kabar bahwa Miki sudah sampai dengan selamat di Solo. Bukan hanya sehat dan segar bugar, dia juga langsung bisa berbaur dengan dua teman barunya, Caca dan Beri.

Bagus lah. Saya jadi kaya ibu-ibu yang khawatir saat mengirim anak balitanya pergi untuk liburan. Takut sakit atau sedih karena pergi jauh, dan ternyata anaknya malah hepi bukan main karena mendapat teman untuk bersenang-senang.

Menurut Mon, kalau Caca terlihat sangat hepi dengan si pendatang baru, si Beri terlihat takut pada si Miki. Heran. Apa yang perlu ditakutkan dari Miki? Kalau Caca sih, kita udah tau ya kalau dia sangat mudah berteman dengan pendatang baru dan sangat penyayang.

Satu cerita tentang Caca sebelum dia kami beli. Caca kami beli pada saat dia sudah agak besar, karena waktu dia masih kecil tidak banyak yang menginginkan Caca. Di rumah pemilik lamanya, Caca menjadi penolong saudara-saudaranya yang dikurung kandang, dengan… Membukakan kandang buat saudara-saudaranya. Bukan cuma lebih pintar dari anjing lainnya, Caca juga sangat suka bermain (untuk ukuran anjing jenis pemburu).

Sampai sekarang Caca selalu bisa menunjukkan kemampuan intelegensi lebih dari teman-temannya. Dia berperan sebagai “tante” buat bayi-bayi semacam Beri dulu, dan Miki sekarang. Bahkan untuk anjing ukuran besar macam Vali dan Kensy pun, Caca masih bisa ngemong mereka waktu mereka masih bayi.

Saya sudah berpesan supaya Miki tetap mengkonsumsi obatnya karena itu antibiotik. Saya tidak tahu bagaimana kemarin paman saya dan Mon melakukannya. Mungkin nanti saat saya ke Solo saya bisa melihat tangan mereka juga luka-luka karena pertarungan mereka dengan Miki. Siapa tahu?

The Comfort(er) Zone

Baru saja saya membicarakan tentang membuat keputusan yang sulit, dan kemarin saya mendengar di televisi bahwa ada sebuah survey yang mengatakan bahwa sebesar 36% dari 1200 responden memilih almarhum presiden Soeharto sebagai presiden yang paling disukainya. Saya tidak tahu berdasarkan apa surveyor tersebut memilih sample, tapi ini benar-benar contoh yang bagus untuk apa yang saya katakan kemarin. Seandainya saya mendengar ini lebih cepat maka mungkin saya bisa membuat entry saya kemarin lebih keren lagi.

Saya tidak memungkiri bahwa pada jaman Soeharto, pembangunan berjalan dengan cepat, dan kriminalitas cenderung lebih rendah daripada yang saya tahu sekarang. Subsidi berlimpah dan inflasi relatif rendah dibandingkan sekarang, rakyat miskin hidup lebih santai meskipun mereka sengaja dibuat buta akan penyalahgunaan kekuasaan dan politik. Dengan kedaan negara kita pada saat ini, mahalnya biaya hidup, tingginya harga bahan pokok dan bahan bakar, dan gonjang ganjing di tingkat elit politik, saya bisa membayangkan beberapa orang menginginkan kembalinya masa-masa Soeharto tersebut.

Padahal, saya merasa kita sudah berada di jalur yang benar. Tidak ada yang mengatakan bahwa jalur yang benar akan menjadi jalan yang mudah, dan pada titik-titik tertentu keadaan bisa menjadi sangat sulit. Misalnya saat ini, ketika perbaikan belum mulai terlihat dan perubahan-perubahan yang diharapkan belum mulai nampak kasat mata, kita mulai merasa, mungkin lebih baik kita kembali ke masa silam.

Sama seperti kata seorang single mother pengangguran yang mulai merasa lebih baik hidup berkecukupan bersama suaminya yang abusive. Sama seperti perempuan kesepian yang merasa lebih baik pacaran dengan orang yang tidak disukainya daripada menghabiskan malam minggu sendirian atau menjadi nyamuk diantara teman-temannya yang sudah punya pacar. Sama seperti seorang pecandu yang merasa lebih baik kembali menggunakan obat-obatan daripada mencoba sembuh dan mengalami sakau yang menyakitkan di panti rehabilitasi.

Mungkin pada masa ini hal-hal tidak semenyenangkan yang kita harapkan. Tapi, jalan menuju ke sesuatu yang baik tidak selalu mulus dan menyenangkan, kan? Kadang kala kita akan keseleo, dan jalan terpincang-pincang, atau tersesat dan berbutar-putar di tempat yang sama, tapi ada saatnya kita mengebut pada saat jalan terasa agak lebih mulus. Tapi, jalan yang tidak enak ini harus dilalui, bukannya memilih berbalik dan mencari jalan mulus ke tempat yang salah.