Solo Bukan Jakarta!

Ribut-ribut pembangunan mall masih berlangsung terus. Pemerintah propinsi Jawa Tengah kekeh ingin mendirikan satu buah mall di lahan bekas pabrik es Sari Petojo, meskipun Pemerintah Kota Surakarta sudah menetapkan dari awal tidak akan ada lagi pembangunan mal. Apalagi mengingat lokasi lahan yang akan dibangun itu terlalu dekat dengan mal yang sudah ada yaitu Solo Square. Dan, di tengah kisruh itu, Pemprop kabarnya sempat berkata bahwa Pemkot Surakarta (dalam hal ini Pak Wali, Jokowi) sebagai orang bodoh.

Saya senang Solo bukan Jakarta. Tidak kebayang kalau mal di Solo mulai berjubel seperti di Jakarta. Hanya pemimpin yang ga punya visi jauh ke depan saja yang berpikir pemasukan dari mal akan sesuai dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Solo sampai saat ini belum siap secara infrastruktur, kalau maksa membangun mal seperti Jakarta bukankah hanya akan mengulang kesalahan yang sama? Hasilnya pasti macet-macet yang tidak teratasi di jalan arteri (dalam hal ini: Jalan Slamet Riyadi).

Padahal, jalan arteri Slamet Riyadi itu sering ditutup setiap kali kota ini mengadakan kirab atau karnaval. Baru malam minggu kemarin saya terjebak macet di jalan selama dua jam saat Slamet Riyadi ditutup untuk Solo Batik Carnival, apa jadinya kalau nanti setiap minggu warga Solo harus mengalami hal yang sama. Apa bedanya nanti Solo sama Jakarta? Kalau ada orang bodoh di kasus ini, pasti dialah pihak yang dengan tidak bijaksana dan picik memikirkan keuntungan sesaat tanpa melihat gambaran besar dari masterplan yang disiapkan untuk kota ini.

Analoginya seperti kasus mules.

Bayangkan saja si mulut itu pemprop yang maksa mau membangun mal. Dan si perut itu pemkot yang tetap tegas menolak. Dan, sambel trasi pedas yang kami makan itu mal yang akan dibangun. Si mulut ya cuma ngrasain enaknya sambel ulek itu, ga ngerti kalau si perut nggak siap sama yang pedes-pedes. Alhasil apa kalau si mulut maksa? Ya mules lah si perut. Dan, apa yang dilakukan si mulut saat si perut mules-mules? Paling banter mengomel dan mengeluh…

Saya tidak tahu kenapa pemprop kok maksa banget, dan kekeh bahwa mal ini harus dibangun. Kelakuan maksa yang norak ini malah menimbulkan spekulasi bahwa ada yang ngithik-ithik pemprop supaya proyek mal (yang menguntungkan pihak tertentu ini) gol. Yah, berharap saja pemkot Solo masih tetap kekeh menolak, dan tetap stick to the plan.

Solo kan bukan Jakarta… Jangan sampai deh blogger Solo harus curhat soal jalanan macet di dunia maya, dan menyerobot lahan blogger Jakarta. Ya kan?

Oh What A Night

Saya paling benci datang ke acara pernikahan. Setidaknya selama ini saya tidak pernah mengalami datang ke acara pernikahan yang saya datangi dengan suka dan rela. Paling-paling kalau saya menawarkan diri untuk menghadiri pesta untuk menggantikan mama saya yang tidak bisa datang di Jakarta; artinya saya sedang menukar favor dengan mama saya.

Tapi, saya suka rela datang ke acara pernikahan teman saya di Solo kemarin, dan ternata menikmatinya. Tentu saja, saya datang setelah saya yakin kalau saya diundang. Satu, yang punya acara menghubungi saya langsung, dan dua, yang punya acara sesuai dengan manner, mengirimi saya surat undangan resmi.

Tanpa bermaksud tak hormat, tapi beberapa waktu sebelumnya saya baru saja TIDAK menghadiri pesta pernikahan teman yang pernah sempat dekat banget sama saya. Bukan karena saya sedang berantem sama yang brsangkutan, tapi yang  punya gawe tidak mengirimi saya surat undangan resmi, sedangkan teman saya yang kaya raya dapat undangan. Ya saya SENGAJA tidak datang lah…

For what it’s worth, temen saya yang kaya raya dan dapat undangan resmi juga ga datang ke pesta yang dihelat di hotel mewah berbintang lima itu. Mungkin sebagai bentuk solidaritasnya kepada saya. Eat that sucker…

Sebaliknya pesta kemarin seru abis. Entah saya yang seru sendiri di sana, atau memang suasananya juga lebih kekeluargaan. Saya bertemu dengan teman-teman lama saya. Bertemu dengan pacar-pacar mereka. Bertemu dengan mantan yang sudah jadi teman saya, dengan pacar yang akan segera dinikahinya. Amazing!!

Bahkan contact list saya di bb tiba-tiba nambah overnight. Ajaib…

Yang lebih menyenangkan lagi, di penghujung pesta saya baru tahu kalau nanti sebelum saya farewell-an masih ada satu wedding lagi yang akan saya hadiri. Yay!!

Hometown Challenge

Masalah yang selalu saya hadapi setiap kali saya berada di kampung halaman saya di solo adalah memastikan saya akan selalu punya waktu untuk posting. Tidak usah deh muluk-muluk berharap bisa membuat satu entry sehari. Bisa posting sekali seminggu saja sudah prestasi. Alasannya sama… tidak ada inspirasi, dan terlebih lagi, tidak ada jaringan internet yang memadai.

Boro-boro saya bisa update, ini saja saya berusaha sekuat tenaga untuk mengetik di layar sentuh, menggunakan wordpress for android. Meskipin rasanya keren bisa update dari hp, tapi sebenernya keadaan saya di sini mengenaskan. Saya yang biasa hidup dengan internet harus puasa online secara terus menerus.

Jadi, inilah tantangan yang harus saya lewati kali ini. Selaon saya harus bisa melawan kemalasan dan juga godaan untuk menggangalkan diet, saya juga harus tetap bisa posting. Moga-moga saja saya bisa menjalaninya dengan baik sampai waktunya saya berangkat nanti.

Berusahalah, Bybyq!!

Iseng banget saya copy paste ini, sementara nunggu pesawat yang terlambat 25 menit.

MAKNA WAKTU
(Anonymous Writer)

Untuk memahami makna SATU TAHUN
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas

Untuk memahami makna SATU BULAN
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature

Untuk memahami makna SATU MINGGU
Tanyalah seorang editor majalah mingguan

Untuk memahami makna SATU HARI
Tanyalah seorang pekerja dengan gaji harian

Untuk memahami makna SATU JAM
Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya

Untuk memahami makna SATU MENIT
Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta

Untuk memahami makna SATU DETIK
Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan

Untuk memahami makna SATU MILI DETIK
Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade

—-

Untuk memahami makna DUA PULUH LIMA MENIT
Tanyalah MLTR!


25 Minutes
(Jascha Richter)

After some time I’ve finally made up my mind
she is the girl and I really want to make her mine
I’m searching everywhere to find her again
to tell her I love her
and I’m sorry ’bout the things I’ve done

I find her standing in front of the church
the only place in town where I didn’t search
She looks so happy in her weddingdress
but she’s crying while she’s saying this

Chorus:
Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late

Against the wind I’m going home again
wishing me back to the time when we were more than friends

But still I see her in front of the church
the only place in town where I didn’t search
She looked so happy in her weddingdress
but she cryed while she was saying this

Chorus: Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late

Out in the streets
places where hungry hearts have nothing to eat
inside my head
still I can hear the words she said

Chorus:
Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late

I can still hear her say…….

Maling Pulsa

Sudah lama saya menggunakan layanan internet dari sebuah operator telepon selular. Bukannya karena layanan dari mereka paling sophisticated, tapi modem colok bagi saya selama saya tinggal di sini adalah opsi yang paling nyaman. Selain saya bisa berpindah-pindah tempat, saya tidak perlu pasang kabel dimana-mana selama saya tinggal nomaden. Memang saya sering mengeluhkan soal jaringan atau leletnya kecepatan internet, tapi saya tidak pernah merasa sekesal ini terhadap layanan internet mereka.

Oke. Sekali saya pernah maki-maki mereka di counter customer servicenya, dan saya harap itu adalah terakhir kalinya saya merasa dikerjain oleh operator telepon selular itu. Ternyata tidak. Mengingatkan saya bahwa saya masih tinggal di Indonesia di mana layanan konsumen adalah hal terakhir yang bisa diberikan kepada para penyedia jasa. Dimana konsumen adalah mangsa empuk yang bisa dibodohi dan kalo mengadu di internet tiba-tiba mereka terkena tuntutan pencemaran nama baik dengan dasar UU ITE.

Saya tidak usah sebutkan nama providernya, toh kebanyakan pembaca sudah tahu. Kalau belum tahu, ikuti saja cerita saya, pasti nantinya tahu sendiri…

Selama ini saya menggunakan layanan internet unlimited dengan quota 5gb. Tapi karena saya tidak pernah menghabiskan quota saya, maka saya pikir kali ini saya mau downgrade saja menjadi 1gb. Toh saya tidak sedang berencana mendownload apapun. Maka, untuk layanan 1GB seharga 50rb (belum termasuk pajak) saya mengisi pulsa saya sebesar 75 ribu rupiah.

Seperti biasa, sesuai prosedur, saya mengirimkan sms aktivasi MAU 1GB. Tapi dari sana saya mendapatkan informasi bahwa pulsa saya tidak mencukupi. Saya langsung mengecek pulsa dan ternyata pulsa utama saya tinggal 19 rupiah. Ke mana 75 ribu saya?

Saya pikir pulsa yang saya masukkan sebelumnya belum masuk, tapi kode voucher saya ternyata sudah terpakai. Saya mencoba menelepon ke customer service dan nggak bisa, karena nomer 123 hanya untuk ngecek pulsa, dan untuk layanan customer service prabayar saya harus menelepon ke 200 (yang tidak sanggup saya bayar karena pulsa saya tinggal 19 rupiah). Saya menggunakan nomer telepon lain untuk menghubungi customer service, dengan kesal tentunya.

Saat saya meminta penjelasan mengenai kenapa pulsa saya hilang, jawabannya adalah:

“Pulsanya sudah terpakai untuk pemakaian gprs normal. Karena perpanjangan otomatis 5gb pulsanya tidak mencukupi, maka langsung dipindahkan ke gprs normal.”

Oh. Jadi itu kenapa saya baru pake internet 5 menit dan pulsa saya sudah habis?

Pengen saya teriaki maling, tapi nanti saya dibilang mencemarkan nama baik. Pengen saya tuntut ke pengadilan tapi nanti biaya saya menuntut mereka lebih mahal daripada pulsa yang saya minta. See how the system “supports” the customers. Haha *sinis*. This is why our people in another country refuse to come back… This is not the home country we want to live in…

Suck