Blognya Berantakan, Byq?

Sejak beberapa bulan yang lalu, si Onyed sering bilang kalau di blog saya suka muncul popup. Saya ingat betul sejak blog saya yang dulu dihilangkan oleh Google, saya tidak lagi memasang iklan-iklan di blog saya. Setidaknya, sampai hari ini saya kok belum kepengen monetize blog saya lagi. Saya juga tidak memasang widget aneh-aneh, dan apapun yang saya curigai menyebabkan blog saya keluar popupnya sudah saya hapus pertama kali saya mendengar si Onyed mengatakannya.

Yah, saya sih agak bingung juga kenapa si Onyed tidak memasang popup blocker, soalnya kan di mana-mana browser sudah dilengkapi dengan popup blocker. Tapi, yang lebih saya bingung lagi, siapa yang memasang popup di blog saya??

Beberapa minggu lalu saya membuang beberapa script yang biasanya digunakan untuk tracking account. Saya pikir sudah tidak ada lagi popup di sini, sampai si Onyed meninggalkan comment penting yang mengatakan bahwa di blog saya masih keluar popup nya. Akhirnya hanya ada satu hal yang saya bisa curigai… theme gratisan ini mungkin sudah dilengkapi dengan script yang memunculkan popup, untuk keuntungan pemilik theme nya. Menyebalkan sekali dia…

Karena di browser saya ada popup blockernya, saya tidak tahu apakah saya sudah berhasil menyingkirkan script sialan itu, jadi sekali lagi saya mohon bantuan yang lain untuk memberi tahu saya kalau masih ada popup muncul di blog ini. Memang tampang blog ini jadi nggak secantik sebelumnya, bahkan cenderung berantakan, tapi saya rasa kenyamanan visitor harus diutamakan, ya kan? Iya kalo popupnya aman, gimana kalo popupnya ada spy ngikut? Nanti saya berdosa menulari komputer orang-orang dengan hal-hal yang tidak diinginkan…

Sementara mungkin blog saya akan tampil jelek begini. Tidak apa-apa kan? Sambil saya jalan-jalan cari theme yang bagusan yang bisa digunakan untuk nampang lagi… ada ide WP theme apa yang bisa saya pakai?

 

SENSOR!!

Dalam sebuah artikel oleh Judy Blume di sebuah website yang saya dapat linknya dari @openculture di twitter, penulis yang sudah saya kenal namanya sejak sekitar sepuluh tahun lalu ini membahas tentang sensor dan book banning. Saya sudah mengenal tentang sensor dan book banning ini sejak saya masih kecil, dan memang baru akhir-akhir ini saya bicarakan di beberapa forum luar. Saya tidak menyangka, masalah yang sama bukan hanya dialami dunia penulisan Indonesia saja tapi juga di dunia penulisan negara besar yang katanya bebas merdeka seperti Amerika Serikat.

Dulu, pada waktu saya kecil, sensor adalah alat penguasa untuk menyortir informasi apa saja yang bisa lolos dan dikonsumsi publik. Dengan alasan perlindungan konsumen atau menjaga generasi muda untuk tidak terpengaruh hal-hal buruk maka pita film digunting, majalah dibredel, dan buku-buku tertentu tidak pernah masuk ke pasaran. Sekarang, dengan adanya internet, informasi melenggang bebas ke dunia maya, dan badan sensor kelimpungan karena tidak bisa menyortirnya satu-persatu. Akibatnya, dibuatlah undang-undang untuk membungkam orang-orang yang hanya bisa bicara di dunia digital ini, dengan alat kekuasaan baru.

Sensor dan restriksi karya sastra, bagi saya bukan hanya membuat orang-orang makin penasaran (bukan membuat orang jadi takut membeli/membaca buku tersebut), namun juga merupakan sarana pembodohan. Sensor yang terbaik bukan dilakukan dengan pemotongan pita film, atau mengedit buku dan membelokkan kisah, atau membuang kata-kata yang dinilai vulgar, tapi dengan memberikan pendidikan yang cukup. Saya rasa bangsa ini bisa jadi pintar dan memilah-milih sendiri mana sastra dan mana pornografi, mana vulgar dan mana blak-blakan.

Dalam artikelnya tersebut Judy Blume diserang (atau bahasa halusnya: dikritik) banyak orang karena buku yang ditulisnya tersebut. Misalnya saat dalam buku yang ditujukan untuk pembaca remaja tersebut membicarakan tentang mimpi basah, masturbasi, maupun pilihan untuk tidak memeluk agama. Saya langsung teringat salah seorang teman saya yang seorang penerjemah untuk teenlit di sebuah penerbitan besar di Indonesia, yang mengeluh saat buku yang dia terjemahkan ceritanya dirombak sampai sama sekali berbeda dengan buku aslinya hanya karena mengangkat cerita tentang seks di dalamnya. Bagi saya, selain membodohi pembaca, sensor semacam itu sama sekali tidak menghargai karya penulis asli.

Betapa masyarakat (atau kelompok masyarakat tertentu, kalau tidak ingin dibilang menggeneralisasi) itu begitu manja, ingin disuapi dengan buku yang pesan moralnya ditulis dengan huruf kapital tebal besar-besar didalamnya. Padahal, dengan sedikit akal sehat, dari sebuah cerita tidak sulit mengintepretasi pesan moral di dalamnya, seperti dalam cerita Blubber oleh Judy Blume (saya bahkan punya bukunya yang ini), yang menceritakan seorang anak yang di-bully di sekolahnya.

Dalam artikelnya itu Judy Blume mengatakan bahwa seorang pemerhati mengkritiknya karena dalam bukunya si “penjahat” atau antagonis yang mem-bully, tidak mendapatkan hukumannya. Tidak seperti dalam kisah dongeng dimana yang baik selalu menang dan yang jahat selalu kalah; buku ini menunjukkan betapa susahnya kehidupan nyata, dimana mengambil pilihan yang benar itu tidak mudah. Saya langsung ingat beberapa waktu lalu Clara Ng, penulis Indonesia favorit saya juga mendapatkan kritikan serupa mengenai buku anak-anaknya, yang tidak menuliskan “pesan moral” di akhir ceritanya.

Saya kagum dengan keputusan Clara Ng bertahan dengan pilihannya. Menuliskan besar-besar pesan moral di karyanya adalah proses menggurui, bukan mendidik dan menyampaikan. Lagipula karya sastra adalah sesuatu yang sifatnya apresiatif, bergantung sepenuhnya kepada bagaimana cara pembaca/pemirsa/penonton mengintepretasi ceritanya. Sensor hanya akan menghalangi perkembangan kita yang seharusnya mulai belajar menerima keanekaragaman informasi dan intepretasi.

Yah, tapi pada akhirnya tulisan saya kali ini hanya akan berhenti sebagai pendapat saja. Saya tidak sedang berusaha untuk membuat political statement karena saya bukan politisi, atau saya ingin mengubah dunia (yak, saya mencontek sepenuhnya dari kata-kata Sarah Shahi di promo Fairly Legal-nya). Tulisan ini murni pendapat, kok, yang tidak setuju silakan saja toh orang lain juga boleh punya pendapatnya sendiri, dan nggak akan saya sensor kecuali spam di comment saya (yang otomatis kena sensor dari Akismet), ya kan?

Seminggu Ga Posting, Byq?

Yap…

Seminggu saya nggak muncul dengan satu pun postingan, dan saya tahu bahwa apapun alasannya, bolos seminggu itu tidak bisa diterima. Jadi, daripada saya menghabiskan waktu untuk beralasan, saya pikir sebaiknya saya langsung update dulu saja tentang apa yang saya lakukan selama saya nggak ngeblog.

Pertama, saya memang agak sibuk beberapa hari kemarin karena saudara sepupu saya menggelar resepsi pernikahan dan saya terlibat di dalamnya. Menyebalkan memang, tapi cerita tentang betapa menyebalkannya acara itu akan saya update di post yang lain. Tapi yang jelas acara pernikahan ini memakan beberapa hari untuk persiapan dan satu hari penuh untuk acaranya sendiri.

Lalu yang kedua, saya sedang membereskan rumah. Bukan bersih-bersih rumah seperti biasa, tapi saya memang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan apartemen saya ini. Tidak terasa sudah hampir setahun saya tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir habis masa kontraknya. Karena saya berencana untuk meneruskan kuliah di tempat lain, saya tidak memperpanjang kontrak di sini, dan saya harus mengangkut barang-barang saya.

Kesalahan kami adalah membiarkan banyak barang berceceran di mana-mana. Akibatnya, pada waktu kami harus membereskan barang-barang itu, kami jadi kerepotan sendiri. Beberapa kali saya mendapati ada beberapa buku atau printilan tercecer karena benda tersebut tidak berada bersama-sama dengan benda-benda lain yang sejenis. Sampai sekarang saya sudah berhasil memindahkan setengah isi rumah ke dalam box-box yang sudah saya simpan dengan aman di dalam gudang. Sisanya lagi belum sempat dibereskan, dan beberapa masih saya gunakan untuk kegiatan sehari-hari. Moga-moga saja cukup waktu, karena tidak ada yang membantu saya beberes kali ini.

Kegiatan yang lain? Saya mencoba mulai berolah raga dan ternyata cukup menyenangkan juga bangun pagi setiap harinya. Setidaknya saya tidak terlalu alergi dengan debu yang mulai menumpuk setelah saya mulai membereskan barang-barang kami. Lagipula, setelah mulai berolah raga, saya merasa ada sedikit harapan saya bisa kembali ke ukuran baju saya waktu SMA.

Dan, dengan berbagai kegiatan yang sebenarnya agak menghabiskan waktu ini, saya hanya berharap bisa mulai posting satu entry per hari lagi mulai besok. Hehehe….

One Hour Worth

Saya paling sebal disuruh menunggu orang yang kalau janjian selalu telat. Telatnya bukan sembarang telat, tapi bisa telat berjam-jam dan seringnya tanpa kabar. Bukan cuma sebal, saya benci banget menunggu orang-orang semacam ini, dipikirnya waktu dia doang yang berharga sampai dia berani menyuruh saya membuang-buang waktu menunggu dia,

Di banyak negara dengan budaya time management yang tinggi, keterlambatan lima menit saja itu berarti insult terhadap orang yang diajak janjian. Di Indonesia saja telat itu dianggap hal yang biasa, bahkan jam tangan karet lebih popular daripada jam tangan rolex. Itu kenapa kalau di luar negeri profesi pembuat jam dihargai, karena ketepatan waktu itu berharga, sedangkan di sini jam tangan adalah alat gaya (itupun gaya dengan jam tangan bajakan!).

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di twitter: kalau dalam satu hari kita menunggu seorang selama satu jam, maka dalam setahun kita membuang waktu selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Bayangkan tiga bulan bengong tanpa melakukan apapun yang berarti hanya untuk menunggu orang yang tidak jelas juntrungannya, tidak ada kabar apakah akan datang atau tidak.

Yang lebih ngehe (maaf, saya tidak menemukan kata yang lebih tepan untuk menggambarkan perasaan saya mengenai hal ini), kalau misalnya kita yang sudah dibuat menunggu mulai marah-marah, orang lain bisa berpikir kita lebay. Bukan cuma itu, kalau kita main tinggal saja, nanti dibilang kita tidak menghargai orang yang sudah usaha untuk datang menemui kita. Usaha kok telat tanpa kabar? Udah telat kok masih minta dihargai?

Kalau saya seorang psikolog atau pengacara, maka saya bisa minta charge overtime karena setiap menit waktu saya berharga. Kalau saya seorang pialang saham, saya akan tuntut orang yang membuat saya menunggu karena membuat saya kehilangan beberapa ratus poin dari pasar saham hanya karena membuang satu jam saya yang berharga itu.

Datang tepat waktu bukan hanya menunjukkan penghargaan kita terhadap orang yang kita ajak janjian untuk bertemu, tapi lebih tepatnya penghargaan terhadap komitmen kita yang sudah membuat janji temu. Dalam satu jam, pikirkan berapa banyak hal yang bisa kita lakukan, berapa banyak soal yang bisa kita jawab saat ujian, berapa banyak tulisan yang bisa kita tulis…

Berapa harga satu jam untuk kamu?