Have You Seen Me Naked?

Well, I am so sorry to disappoint you but you’re not gonna see me literally naked. Seriously… this is a blog not a porn site even if you wish it is…

Come on… If you haven’t got rid of your obscene imagination out your mind, I can’t start talking about anything right now. Are we good now? Yes? So let’s move on…

Referring to the previous entry the other day, I was thinking of how much I have opened myself to my friends. How many of them know me that well, and how many of them I know as well as they know me?

I started to realize that lately I barely knew anyone. I mean, I know who they are but I never knew what they really are. It’s a shame since I knew them for a very long time. I started to understand where I was standing and how far it was from where they were, and I wondered how I became that far.

I always thought that letting myself open is giving a chance to anyone to see the fragile side of me, and I encourage people not to do that. I did okay with that until yesterday I knew that not only making me safe, closing myself up kept everyone away as well. That’s funny because I used to be the wise (wo)man who thought about it and told people how to deal with it. Even doctors can’t cure themselves!

So, fixing up a broken friendship means cleaning up a messy friendshits. I can try but it means I have to be brave an open myself a little bit. Maybe, not by letting them see me literally naked, but at least they know what kind of person they’re dealing with.

Everybody Needs a Punch In the Face

Dedicated to the old good fellow

When you were younger, your parents spanked you in behind to remind you what you did wrong. But when you’re older, and spanking started to be considered as domestic violence, you’re no longer listening to your parents as much as you did when you’re young. You’re lucky if you have at least one friend to always remind you when you’re misbehaving, sometimes by punching you right in the face… figuratively.

Sometimes, when you’re living in a world of your own, building your own realm, you forgot about reality. I am lucky that I still have friends who always try to bring me back stepping ground before I forgot how. I needed a punch in the face, and I got that last night.

If you heard what he said to me today, you might think my friend wanted me to be who I was, you’re wrong. No one wanted me to step back and become the old Bybyq. But the thing is, who I am now is not the better version of who I was then, and somehow I agreed with him. It’s to arrogant even for me to be defensive and finding excuses.

I did what I did, and I needed a kick in the head to wake me up. Maybe I need it even harder to motivate me to change into a better person. I think I should thank anyone who have seen me and talk to me lately because they remind me of who I was, and how good I am supposed to be.

Please don’t worry, and please don’t hesitate to shake me up because everyobdy needs a punch in the face. Well, I admit that some hard punch can knock people out but, hey… what doesn’t kill you makes you traumatize stronger, doesn’t it?

 

When Life is Good…

Siang kemarin Mama saya habis marah-marah. Seorang yang biasanya mengambil jahitan dari pabrik Mama saya tiba-tiba saja memutuskan bahwa dia tidak mau mengambil item-item tertentu, dan bersikap seenaknya. Pada akhirnya orang tersebut memilih tidak mengambil jahitan sama sekali, dengan alasan sibuk karena sedang banyak jahitan yang harus dikerjakan.

Sambil mengomel, Mama saya berkata: “Gitu tuh! Dulu aja waktu masih susah nggak ada kerjaan, datang mengemis-ngemis minta jahitan supaya bisa makan. Sekarang saat usahanya sudah jalan, belagu ambil jahitan pilih-pilih…”

Papa saya yang mendengar hal tersebut hanya tertawa, lalu memandang anak-anaknya. Setelah menenangkan Mama saya yang masih panas, Papa saya pun berkata: “Sudah biasa kok, orang datang pada kita saat kesulitan, tapi saat sudah jaya mereka berubah.”

Dan entah kenapa, sekali lagi dia memandang saya dan menekankan: “Orang kalo dalam keadaan jaya sikapnya berubah kok… Lihat saja…”

Saya hanya tertawa menanggapinya. Who are you talking to, Papa? I know what you’re talking about. Even I know someone like that!!

Bukannya ingin mengungkit belas kasih atau meminta balas jasa. Bagi saya, hal itu tidak sepenting kelihatannya. Bukan mengharapkan gratitude berlebihan, atau membuat mereka menghamba pada saya karena merasa berhutang budi. Hanya saja, apa salah kalau saya (atau Papa saya) berharap bahwa sikap mereka terhadap kami tidak berubah baik saat susah maupun saat senang.

Maksudnya, kalo memang sifat aslinya tengil, ya tengil aja… nggak usah jadi sok manis saat susah untuk minta tolong. Setengil-tengilnya, kalau memang lagi butuh juga dibantu kok… Bahkan orang tua saya mengatakan bahwa kakek saya yang mengajari bahwa selama kita bisa membantu, ya bantulah. Bukan karena mengharap karma baik, atau balas budi, tapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Saya paling sedih setiap kali ada orang yang datang pada saat kere, dan pergi setelah mereka punya duit. Seriously, saya bukan orang kaya, begitu juga orang tua saya, jadi tidak usah menjadi benalu, apalagi untuk mensupport hidup hura-hura. Bermanis muka di hadapan saya tapi setelah mendapatkan pacar kaya, baru sadar bahwa saya tidak bisa mengimbangi tajirnya pacar mereka, lalu… POOF!!

They never talk to me anymore.

*ketawa getir*

But that’s how life works. I did the right thing to do, doesn’t mean everyone else will do the same.

Teror Pendidikan?

Hari ini saya mendengar TV, saat sedang menonton salah satu tayangan televisi nasional kita, katanya teror tidak melulu yang bersifat fisik. Hal-hal yang terasa mengancam dan meresahkan dapat dikategorikan sebagai teror, dan narator yang membawakan acara tersebut mengatakan bahwa rakyat Indonesia juga kadang kala (atau sering?) merasa diteror oleh pemerintah. Dari teror harga barang yang terus naik, sampai teror kurangnya rasa aman untuk menjalankan ibadah menurut agamanya masing-masing…

Saya masih bisa mengikuti arah pembicaraan narator tersebut sampai saya mendengar bahwa masyarakat merasa diteror dengan Ujian Nasional. Oh ya?

Katanya, masyarakat merasa terteror dengan Ujian Nasional sampai mereka yang ketakutan tidak lulus, atau orang tua yang ketakutan anaknya tidak lulus, atau guru-guru yang takut anak didiknya tidak lulus “tidak menghiraukan nurani (kalau tidak salah begitulah media tersebut menggambarkan)” dan berbuat curang.

Mendengar kenyataan yang menakutkan itu, entah bagian mana yang meneror saya. Apakah karena UN yang bagi saya tidak susah-susah amat itu ternyata menjadi teror untuk mayoritas pelajar di negeri ini? Atau apakah karena pelajar di negeri ini dianggap begitu lemahnya sehingga begitu mendapat kesulitan mengerjakan ujian langsung berpaling ke jalan pintas? Ataukah karena ternyata sistem dan support system (guru dan orang tua) malah mengijinkan bahkan mendukung kecurangan itu? Atau karena media massa malah menganggap standar yang diterapkan pemerintah itu sebagai teror?

Saya rasa kali ini saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Memang mental bangsa ini yang harus diubah. Saya rasa masyarakat menjadi manja karena sedikit-sedikit demo minta maunya mereka dituruti. Kalau Ujian Nasional di Indonesia dianggap sulit, lihat ke Jepang sana!

Di Jepang (baca komik sana, kalo males browsing), Ujian Nasional tidak kalah menyeramkannya bagi para pelajar Jepang. Tingginya tingkat bunuh diri di kalangan remaja sebagian juga disebabkan karena depresi ingin masuk ke perguruan tinggi yang bagus dan mendapat nilai Ujian Nasional yang gemilang. Tapi, alih-alih mencontek, para pelajar Jepang belajar, ikut bimbel, atau pelajaran tambahan di sekolah, dan kalau tetap gagal juga… ikut lagi tahun depan.

Saya bukannya tidak simpatik, atau tidak berusaha berempati dengan keadaan masyarakat bawah. Bahkan saya mengerti kok kalau pendidikan menjadi teror karena biaya pendidikan yang tidak kecil, tetapi kalau yang dianggap sebagai teror adalah standar kelulusan, maka betapa menyedihkannya bangsa ini. Mau sampai kapan menjadi bangsa bodoh? Bahkan Kuba yang negara komunis saja standar pendidikannya lebih tinggi daripada ini…

Bukannya saya mau mengkritik media ya, tapi saya rasa media terlalu memanjakan rakyat dengan berita yang kurang berimbang apabila menganggap wajar kalau masyarakat yang terteror oleh sulitnya Ujian Nasional kemudian berlaku curang untuk dapat lulus. Bagi saya, standar kelulusan itu penting, dan bahkan kalau bisa dinaikkan lagi untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara ini. Don’t get me wrong, I do care with my own way….

Rayaaap!! No!!

Sepertinya rumah ini memang sudah harus benar-benar direnovasi. Setelah ditinggali kira-kira lima belas tahun lamanya, dan setelah pembicaraan tentang renovasi rumah yang tidak pernah jelas bagaimana realisasinya, memang hanya tinggal menunggu waktu rumah ini memakan korban. Dan, kali ini saya tidak membicarakan renovasi setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh orang tua saya beberapa waktu lalu, tapi perombakan total. Bongkar!!

Ya. Beberapa waktu lalu memang rumah kami terinfeksi rayap. Beberapa kusen pintu sudah habis duluan, meskipun pintunya masih tegak berdiri. Pada waktu itulah pembicaraan tentang renovasi total mulai didengungkan, tapi pada kenyataanya hanya bagian-bagian yang rusak dan lapuk saja yang diganti. Setelah pengecatan ulang dan penggantian beberapa furniture, pembicaraan tentang renovasipun hanya sekedar bumbu obrolan saat tidak tahu lagi harus ngomongin apa.

Sampai akhirnya serangan rayap berikutnya terjadi lagi. Dua kali. Yang pertama adalah kira-kira sebulan yang lalu, dan yang kedua adalah beberapa hari yang lalu. Kali ini yang jadi korban bukan kusen pintu atau jendela, atau lemari kayu kami, tapi koleksi buku-buku kami yang berharga. Beberapa buku bahkan harus dibuang karena kami takut kalau buku itu menginfeksi buku-buku yang lain kalau disimpan.

Yang lebih menyebalkan, buku-buku yang dimakan rayap bukanlah buku-buku biasa. Bukan buku novel populer yang dapat dengan mudah dibeli di toko buku, melainkan buku rangkaian ensiklopedia untuk anak-anak dengan hard cover yang sudah tidak lagi diproduksi. Sial betul. Saya bahkan belum sempat membaca keseluruhan serinya.

Sekarang, selain kami memanggil pest control service, pembicaraan mengenai renovasi total kembali diungkit. Saya tidak tahu berapa lama topik tentang renovasi ini akan bertahan, saya juga tidak tahu apakah akan benar-benar terlaksana. Moga-moga saja tidak akan ada lagi korban-korban rayap di rumah ini…

Bye bye books…