10 Days in North Sulawesi: Simple Life Kotamobagu

Jangan ketawa dulu.

Saya memang tidak menyamakan diri saya dengan Paris Hilton. Satu, saya tidak blonde seperti dia, dan saya juga tidak punya video seks seperti dia. Dua, bapak saya tidak punya jaringan hotel bintang lima di seluruh dunia seperti bapaknya. Tapi, saya merasa seperti dia di reality shownya: Simple Life.

Jujur saja nih ya, sejak kecil saya belum pernah benar-benar mengerjakan pekerjaan rumah tangga. (Please judge me). Bahkan saat pembantu di rumah pada mudik lebaran pun, saya dan keluarga akan pergi berlibur, atau tidak banyak beraktivitas di rumah demi mengurangi sampah dan pekerjaan rumah. Terlebih, selama setahun terakhir ada jasa laundry kiloan tercinta yang selalu bersedia membantu kalau dibayar. Makanan selalu bisa pesan antar, kalau kami terlalu malas untuk keluar rumah. Intinya… Begitu deh.

Saya ini anak manja ya?

Bahkan pada waktu ngekos dan tinggal sendirian di apartment pun, pekerjaan yang saya lakukan sendiri paling mentok bersih-bersih rumah (yang trakhir pun saya serahkan ke jasa cleaning service). Masak sendiri? Yah… Bisa lah, saya tidak sampai masuk RS memakan hasil eksperimen saya itu. Cuci? Selama tidak perlu menyetrika saya masih bisa melakukannya lah. Tapi, di biara ini saya harus melakukan tugas-tugas rumah tangga, membantu suster kepala asrama dan membantu diri saya sendiri.

Betapa kagoknya saya harus mengupas kentang, wortel, bawang(!!! Saya benci bawang!!!). Betapa bingungnya saya dengan memotong kecil-kecil, memotong bentuk dadu, mencacah… Bagus saya tidak memotong jari tangan saya sendiri selama bekerja di dapur asrama. Kerja keras baru akan terbayar setelah jam makan siang, dan anak-anak asrama itu makan di sana.

Tapi, kadang-kadang anak-anak itu suka ga tau diri. Udah dibikinin makanan susah-susah, sampai tangan saya kena parut juga, mereka suka susah memakannya. Sebal kalau mereka menolak memakan sayur yang kita buat karena mereka memilih makan makanan kering yang mereka bawa dari rumah. Dan itu sebabnya saya bilang sama Mama saya, saya ga mau bawa abon ke Inggris!!

Kemana-mana kami pergi jalan kaki atau naik bentor kecuali agak jauh, maka kami menggunakan mobil biara. Nah… Bentor ini nih yang asing buat saya. Bentor itu becak motor. Bentuknya persis becak. Kadang ada penutup depan seperti bajaj, kadang dibiarkan terbuka seperti becak-becak yang sering saya temui di Solo. Bedanya, alih-alih didorong dengan kekuatan betis, bentor menggunakan motor yang sudah dimodifikasi. Begitulah… Saya ingin mengupload foto bentor itu, tapi sayang sekali laptop saya belum betul juga… Moga-moga terbayang bentuk bentor itu…

Suster sahabat saya bilang bahwa di biara nanti saya akan makan seadanya. Tapi… Ternyata biara itu gudang makanan! Saya tidak tahu kenapa biarawati-biarawati di sana kok kurus-kurus, makanan berlimpah dan boro-boro seadanya… Buat saya makanan di sana tidak ada yang tidak enak. Cuma pedasnya yang luar biasa… Hari pertama di perjalanan menuju Kotamobagu, saya berhasil membuat Om Doni tertawa bahagia melihat saya kepedasan memakan dabu-dabu. Dan setelah beberapa kali kepedasan saya baru tahu ternyata semua orang di sana senang melihat pendatang seperti saya sentrap sentrup kepedasan.

Inilah daftar makanan yang sudah saya makan di sana:
- babi rica
- babi kecap
- weris (sejenis burung khas di sana)
- tikus (saya ga tau dimasak apa tapi enak banget)
- cakalang rica
- ikan putih
- mujair bakar punyanya tante Al (nanti saya ceritakan tentang tante Al)
- mujair goreng
- ayam pedas banget ga tau apa bumbunya
- bebek sama pedas banget
- gohu
- klappertart
- daun singkong (daun ubi di sana namanya)
- pucuk labu
- sayur paku
- nasi jaha
- wajik (di jawa juga ada tapi bedaaaaa!)
- tinutukan (bubur manado)
- keong
- paniki (kelelawar) masak santan

Terimakasih Minahasa!!

10 Days In North Sulawesi: The Byq Arrival to Kotamobagu

Sebenarnya, terpengaruh dari “Let’s get Lost” nya NGC, dan juga ulasan lengkap dari blog tetangga yang habis jalan-jalan ke Vietnam, saya jadi kepingin menghabiskan waktu berada di tempat asing. Saya jadi kepingin berkeliaran di tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali sebelumnya, misalnya Bali, atau Singapura yang sudah beberapa kali saya sambangi. Kesempatan itu datang waktu saya bercakap-cakap dengan seorang Suster (Biarawati) yang dulu pernah mengajar di SMA saya di Solo.

Berangkatlah saya ke Kotamobagu.

Saya ingin sekali pamer beberapa foto yang saya dapatkan di sana, tapi yah, karena laptop saya sedang rusak, dan saya harus olahraga jempol untuk membuat entry, saya tidak bisa melakukannya sekarang. Maka, bayangkan saja seperti apa Kotamobagu itu, saya akan mencoba mendeskripsikan sebisa mungkin.

Setelah turun di bandara Sam Ratulangi, Manado, saya dijemput oleh Om Doni. Di sana, semua cowok yang sudah menikah (yang biasanya di sini dipanggil Pak) di sana dipanggil Om. Bersama Om Doni yang tampaknya masih muda itu, saya menjemput Bu Hetty, salah seorang pegawai Tata Usaha di sekolah tempat Suster sahabat saya itu menjabat kepala sekolah. Saya diam-diam saja, cuma senyam-senyum kalau diajak bicara oleh mereka. Bagaimana tidak? Saya nggak ngerti mereka ini ngomong apa…

Bu Hetty dan Om Doni bicara begitu cepat, dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa waktu kemudian, setelah satu dua hari di sana saya baru tahu kalau mereka memang jarang berbahasa Indonesia.

Selama lebih kurang empat jam perjalanan dari Manado ke Kotamobagu, diiringi lagu-lagu Minahasa dari mp3 player Om Doni, tampak keindahan alam Minahasa. Di kanan jalan terlihat bentangan pantai yang bersih dan jernih. Udara yang masih segar membawa wangi alam membuat kami tidak perlu menyalakan AC sepanjang perjalanan. Makin lama, hawa makin sejuk, terutama setelah meninggalkan pusat kota Manado yang ramai, dan beranjak naik ke Kotamobagu yang berada di dataran yang lebih tinggi.

Menuju Kotamobagu, kami melewati beberapa desa. Tentu saja saya tidak ingat berapa banyak desa yang kami lewati karena saya tertidur di jalan. Saya benar-benar minta maaf tapi mulai saat ini saya akan selalu meng-skip cerita perjalanan bermobil demi menjaga autentisitas tulisan saya. Saya selalu ketiduran di dalam mobil. Entah kenapa…

Saat saya bangun… Kami sudah berada di pusat kota Kotamobagu. Yap, Kotamobagu adalah kota kecil yang tampak menyenangkan. Kendaraan bermotor lalu lalang dengan damai, karena tidak ada kemacetan dan polusi. Jalan arteri teraspal dengan baik, dan gereja dan masjid bersebelah-sebelahan, semua dihias-hias… Saya tidak tanya kenapa semua gerbang masuk baik rumah maupun tenpat publik dihiasi dengan rumbai-rumbai kuning seperti janur (padahal sepertinya dari tali rafia).

Gedung walikota dihias nampak siap untuk berpesta. Beberapa saat kemudian saya baru tahu bahwa walikota sering mengundang masyarakat untuk berbuka bersama di sana. Dan di sepuluh menit terakhir dalam bengong sambil melalap habis apapun yang dapat saya lihat di sana: pertokoan, pasar tumpah, orang-orang berjalan di trotoar, hiruk pikuk kota, dan kendaraan unik bernama bentor (saya ceritakan nanti), saya pun sampai ke sekolah berasrama dan biara tempat saya akan tinggal selama seminggu ke depan.

Bybyq tinggal di biara? Apa yang akan terjadi pada anak malang itu? Ikuti kisah selanjutnya dalam serial 10 hari di Sulawesi Utara Bersama Bybyq…

I Owe Robbie Williams My Life, and A Big Thank You for Eternity

Setelah beberapa lama melupakan betapa powerfulnya music healing, hari ini saya baru teringat ada satu lagu yang selalu membuat saya emosional setiap kali mendengarkannya. Dari judul postingan hari ini, pasti sudah tahu lagu apa yang saya maksud… Yap! Jadul banget memang lagu ini, tapi memang lagu inilah yang dari dulu membuat saya semangat… atau setidaknya merasa lebih tegar menghadapi segala sesuatu yang buruk…

Saya mah nggak ngerti-ngerti amat maksudnya Bang Robbie menyanyikan lagu ini, tapi lagu ini memang selalu berhasil membuat saya merasa sedang diajak ngobrol, dan dimengerti… This is more effective than talking to a 350K/hr shrink!

Sebenernya saya mau post lirik lagunya sekalian dengan video youtubenya, tapi berhubung saya baru dikomplain bahwa video youtube membuat lelet koneksi internet orang-orang yang membuka blog saya ini maka saya cuma post liriknya saja. Kalo mau dengerin lagunya, cari aja sendiri di youtube.

*lagi galau dan mellow, nggak mood cerita panjang lebar. Pengen karokean pake lagu ini aja*

Close your eyes so you don’t fear them
They don’t need to see you cry
I can’t promise I will heal you
But if you want to I will try

I’ll sing this somber serenade
The past is done
We’ve been betrayed
It’s true
Someone said the truth will out
I believe without a doubt, in you

You were there for summer dreaming
And you gave me what I need
And I hope you find your freedom
For eternity…
For eternity

Yesterday when you were walking
We talked about your mum and dad
What they did that made you happy
What they did that made you sad
We sat and watched the sun go down
Picked a star before we lost the moon
Youth is wasted on the young
Before you know it’s come and gone to soon

You were there for summer dreaming
And you gave me what I need
And I hope you find your freedom
For eternity…
For eternity

For eternity
I’ll sing this somber serenade
The past is done
We’ve been betrayed
It’s true
Youth is wasted on the young
Before you know it’s come and gone to soon

You were there for summer dreaming
And you are a friend indeed
And I hope you find your freedom
For eternity

You were there for summer dreaming
And you are a friend indeed
And I know you’ll find your freedom
Eventually
For eternity
For eternity

Eternity – Robbie Williams

Gara-Gara Prita, Bybyq Susah Ngeblog

Bukan baru kali ini mama saya freak out setiap kali dia ingat kalau saya suka ngeblog. Dulu, setiap kali membicarakan gosip keluarga, dia selalu mengingatkan wanti-wanti agar kisahnya tidak bocor ke media. Juga setiap kali saya bilang kalau saya mau curhat di blog saja tiap kali ada kejadian menyebalkan di customer service (manapun). Tapi gara-gara Prita, mama saya makin anti dengan yang namanya blog.

Awalnya saya mau membuat hashtag #blameprita di twitter untuk sarkastwit, tapi keduluan sama #blamethemuslims. Untungnya saya tidak meneruskan niat saya karena ternyata #blamethemuslims menjadi hashtag gone wrong yang menghebohkan jagad twitverse.

Jadi, begini ceritanya.

Setelah pengadilan kasasi memutuskan Prita bersalah, meskipun dia tidak dihukum, mama saya seperti MUNGKIN banyak orang lain merasa takut. Takut ngeluh, takut ngadu, takut komplain apalagi di media terbuka. Takut kalau-kalau mereka juga bisa kena jerat UU ITE. Secara khusus, mama saya takut kalau saya terlalu vokal di dunia maya, hidup saya bisa dipersulit di dunia nyata.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh teman saya, yang sudah ganti pseudonym lagi… Bahwa menjadi anonim adalah hal paling menyenangkan di dunia maya. Saya pun berpikir begitu. Kalau tidak, apa gunanya saya membuat pseudonym yang susah dibaca seperti Bybyq? Tapi, sebagai natural born popular, saya tidak bisa berbuat banyak… (Tolong jangan bunuh saya, dan jangan hack blog ini).

Bukannya saya gagah berani. Saya juga ogah kalau harus berhadapan dengan hukum hanya karena mengeluh menemukan lalat tergoreng crispy di kremes yang saya makan kemarin siang (true story!), atau mengomel mengenai internet yang tidak pernah berjalan normal di rumah saya sampai jempol saya bengkak karena ngeblog lewat hp terus (another true story!). Saya juga malas kalau saya harus kena denda ratusan juta rupiah karena dianggap mencemarkan nama baik seseorang atau sebuah perusahaan yang sudah lebih dulu mencemarkan nafsu makan saya, misalnya.

Akan tetapi, kalau saya diam saja, saya akan stres dan itu tidak baik untuk kesehatan. Siapa yang akan menunjang biaya kontrol saya ke psikolog, termasuk biaya bolak balik Jakarta-Solo? Siapa yang akan membelikan saya es krim untuk pelipur lara saya setiap harinya? Apakah gara-gara Prita saya harus berhenti ngeblog dan menanggung beban batin itu semua sendirian?

(Kak Irma dan Bung Monty, tolong saya. Apa yang harus saya lakukan?)