Are You Chinese?

Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan di sini. Memang pada kenyataanya banyak sekali mahasiswa dari Cina belajar di sini, dan jujur saja kemampuan berbahasa inggrisnya jauh di bawah minim. Salah seorang teman saya mengatakan bahwa kurangnya kemampuan berbahasa orang-orang Cina ini adalah karena mereka tidak mau berusaha menggunakan bahasa Inggris, bahkan cenderung berkumpul terus dengan teman-teman Cinanya.

Saya?

Saya hanyalah korban.

Karena mereka selalu ingin, karena lebih nyaman menggunakan, bahasa Cina, mereka selalu mencari orang yang kira-kira bisa berbahasa Cina untuk ditanyai kalau mereka sedang dalam kesulitan. Bukan hanya sekali dua kali, bahkan saya bisa ditanyai hal yang sama tiga kali dalam sehari, apakah saya orang Cina atau bukan. Bahkan yang lain, yang tidak bertanya akan langsung nyerocos dalam bahasa Cina kepada saya, yakin bener saya bisa membalas mereka dengan bahasa yang sama.

Akhirnya saya dilema.

Saya memang Cina. Muka saya Cina. Mama Papa saya Cina. Bahkan Nenek saya masih berbahasa Cina sesekali dengan teman-temannya. Tapi saya tidak berbahasa Cina, mengertipun tidak… Tapi mengatakan saya orang Cina pun rasanya tidak tepat… Karena saya berbahsa Indonesia, lahir di Indonesia, dll dll…

Biasa lah curhatan WNI keturunan Cina.

Jadi, coba bilang, apa yang harus saya katakan pada mereka kalau mereka bertanya apakah saya orang Cina atau bukan? mereka tidak menjelaskan apakah mereka menanyakan ethnicity atau nationality saya sih… Akhirnya saya bilang saja, saya tidak mengerti mereka ngomong apa, tapi kalau mau nanya dalam bahasa inggris, saya bantu sebisanya…

Baik banget kan saya?

Tapi… itulah yang saya sebel dari mereka.

Kemarin saya tidak sengaja bertemu dengan orang Indonesia sewaktu saya pulang dari City Center. Pada awalnya dia memberikan seat pada saya, jadi saya bersopan-sopan bertanya apakah dia murid di kampus saya. Dalam bahasa Inggris tentunya… Setelah dia menjawab dan menjelaskan jurusannya, saya baru nanya, asalnya dari mana…

“Indonesia” katanya.

“Oh… Orang Indonesia,” jawab saya.

See?

 

Norwich, A Fine City

Saya tidak tahu kenapa tagline kota ini seperti itu. Tapi, memang sih… this is a fine city.

Sepanjang perjalanan saya dari London menuju Norwich, saya bisa melihat betapa indahnya pemandangan di kanan kiri kami. Jadi bukan sekedar sawah ladang membentang, tapi sawah ladang hijau subur dengan sapi dan domba bertaburan. Meskipun saya kesal harus mengakui bahwa tebakan Mon benar, dan bahwa banyak sapi di sini, dan bahwa sapi di sini beneran belang-belang, tapi saya senang mengetahui bahwa saya tidak akan tinggal di tengah kota yang padat seperti Jakarta.

Sampai saya menulis ini, saya belum sempat melihat seperti apa city center karena saya tinggal di lingkungan kampus. Tapi inilah yang bisa saya ceritakan tentang kampus saya…

Saya tinggal di University Village, letaknya tepat di seberang kampus. Meksipun tidak berada di dalam kompleks kampus, tapi masih berada di lingkungan yang sama. Meksipun namanya VIllage, tapi sebenarnya kompleks residensial untuk mahasiswa ini berbentuk seperti kompleks apartemen kecil. Saya harus berjalan sekitar 15-20 menit dengan kecepatan sedang dan dengan lebar langkah perempuan asia rata-rata. Hasilnya setelah beberapa hari berada di sini, saya sudah merindukan tempat pijat refleksi langganan saya… :D

Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, dari tempat tinggal saya di Village, kita bisa melihat taman dan padang rumput. Taman itu disebut Earlham Park, orang-orang yang tinggal di sana sering datang ke taman membawa anjing jalan-jalan. Saya suka melihat bagaimana orang-orang di sini memperlakukan anjing mereka dengan sangat baik hati dan bahwa orang-orang tidak suka menjahati anjing-anjing itu. Padang rumputnya adalah favorit saya…

Saya jatuh cinta dengan padang rumput itu saat saya melihat sunset di sana, pada waktu perjalanan pulang dari kampus. Pegal di kaki seketika hilang, dan saya sempat berhenti mengambil gambarnya. Saya akan post kapan-kapan.

Udaranya tidak sedingin yang dikhawatirkan beberapa orang lebay. Sedingin di Puncak waktu malam, tapi di dalam ruangan sangat hangat saya bahkan menyesal tidak membawa beberapa baju tanpa lengan yang sengaja saya tinggal demi menghemat tempat untuk baju-baju hangat yang sekarang tidak ingin saya pakai. Serius… saya sepertinya akan membeli beberapa baju bagus besok saat saya ke City Center…

Blackberry saya masih aktif… bukan berarti saya berani memakainya berlebihan, karena saya masih pake nomer Indonesia. Moga-moga saya bisa menyelesaikan urusan blackberry besok, meskipun saya tidak janji juga (emangnya saya mau janji sama siapa?)

Singkat kata, apakah saya happy? Terlalu cepat untuk memutuskan, tapi sementara ini saya benar-benar menikmati tempat ini. Saya menyukai semuanya, termasuk kaki saya yang pegal dan makanan yang rasanya hambar itu. Bahkan walaupun saya bolak balik nyasar pun saya mungkin akan tetap mengatakan saya menyukainya.

Jadi…. ada yang mau nyusul ke sini?

Journey To The West

Awalnya saya tidak yakin kalau perjalanan menuju Inggris ini bisa disebut Journey To The West, tapi setelah saya mengecek peta, dan melihat rute perjalanan saya, sekarang saya benar-benar lega bisa menggunakan judul itu tanpa harus diprotes. Saya harap saya tidak terkena sanksi pelanggaran hak cipta :D

Setelah menghabiskan beberapa hari yang penuh cerita di Jakarta (saya tidak akan pernah menceritakan apa yang terjadi di Jakarta. Tidak akan pernah! Jadi jangan repot-repot bertanya), saya terbang menuju ke London via Dubai. Alasan kenapa saya memilih penerbangan ini adalah karena biayanya setengah harga dari penerbangan yang langsung menuju ke Norwich. Bukankah lebih baik uangnya saya pakai buat hidup di sini daripada buat beli tiket pesawat?

Saat menuju Dubai, saya mendapatkan teman seperjalanan yang sangat menyenangkan. Dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Malaysia untuk mendapatkan gelar s1 nya. Tahun terakhirnya diselesaikannya di Inggris, tepatnya di Nottingham. Bukan hanya menjadi teman yang baik selama perjalanan, dia juga menjadi teman yang sangaaaat menyenangkan selama kami menunggu sekitar 4 jam transit di Dubai.

Perjalanan menuju ke London Heathrow lebih melelahkan. Selain karena saya tidak berhasil mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, yaitu posisi duduk kesukaan saya, saya tidak mendapatkan teman mengobrol yang asik. Orang yang duduk di sebelah saya, terlepas dari penampakannya yang mirip-mirip Fachri Albar, tidak suka bicara dan lebih suka main game sepanjang perjalanan. Yang saya tahu hanyalah bahwa dia juga mau ke Nottingham.

Saya sempat bertanya-tanya kenapa semua orang ke Nottingham? Mana yang mau ke Norwich?

Tidak banyak orang Indonesia di sini. Bahkan sampai saat saya menulis entry ini, saya belum bertemu satu pun orang Indonesia di Norwich. Tapi, sisi positifnya adalah, karena saya tidak bertemu dengan orang Indonesia sama sekali, saya mau tidak mau berbicara dengan bahasa Inggris setiap saat. Dan memang itulah tujuan saya memilih Norwich sebagai tempat belajar. Bukan?

Sampai saat ini, saya sudah cukup akrab dengan 3 orang mahasiswa s2. Dua orang dari China, dan satu orang dari Malaysia. Masing-masing mengambil jurusan Business International, Media, dan satu lagu Musik. Keren yah?

Saya heran kenapa ada orang yang takut amat pergi jauh dari rumah. Takut amat nggak bisa make friends. Sampai-sampai mau kenalan aja harus pake comblang… seperti seseorang yang minta tolong sama agen saya, minta nomer PIN BB, supaya bisa dapet temen orang Indonesia di sini. Padahal cowok. Seriously? That’s pathetic.

Eh? Apakah saya sudah terdengar (asal) British?

Haruskah saya mulai posting dengan bahasa Inggris?

Ah tidak usaaah deh… nanti kalau Bedjo tetangga saya itu ikutan posting pake bahasa Jerman, matilah saya…

Jadi… di sinilah saya. Norwich. The Fine City. None Finer :D

To The Royal Family Land

Akhirnya saya posting juga.

Sebenarnya saya hanya mau mengupdate beberapa hal yang tidak sempat saya beritakan karena saya agak menelantarkan blog ini. Maaf ya…

Yang pertama, dan yang terpenting menurut saya, adalah saya sekarang sudah ada di negara Britania Raya. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya mengambil gelar s2 saya di sini, dan sekarang adalah permulaannya. Saya pasti akan menceritakan bagaimana perjalanan saya ke sini, tapi sementara begini saja sudah cukup update tentang keberadaan saya.

Selain urusan perkuliahan, ada juga update lain yang sebenarnya agak basi. Saya sebenarnya sudah single lagi sejak hampir tiga minggu yang lalu. Saya tidak mempublikasikannya, selain karena saat itu sedang marak spirit liburan dan lebaran, juga saya masih belum yakin kalau saya bakal putus for good. Jadi, sekarang setelah saya di Inggris… yah… begitulah.

Saya belum bertemu dengan royal family, dan sepertinya hal itu tidak akan terjadi… saya belum pernah lihat salju, karena sekarang belum musimnya. Dan yang terakhir, saya tidak berada di kota London. Sayangku, Inggris itu bukan cuma London saja. Jangan biarkan Harry Potter menipu kalian. Saya harap apa yang saya sampaikan barusan bisa menjawab beberapa pertanyaan dari orang-orang yang suka iseng bertanya kepada saya.

Oh… dan sekarang saya sedang agak galau… tidak perlu saya beberkan kenapa, karena hal itu tidak penting untuk dikonsumsi publik, tapi begitulah keadaanya sekarang. Semoga besok saya cukup mood untuk mengupdate…

Turn Back Time

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman saya di twitter, menge-twit bahwa dia sedang mendengarkan lagu “Turn Back Time”-nya Aqua. Lagu yang sudah bisa dibilang tua itu dulu pernah menjadi satu lagu yang sering saya dengarkan juga. Tiap kali mendengarkan itu, selalu terpikirkan apa yang akan saya lakukan kalau saya bisa memutar balik waktu. Kemudian, sebagai efek lanjutannya, saya pun mulai merangkai “what if…”

Dari sekian banyak “what if” yang pernah muncul di kepala saya, beberapa masih membuat saya penasaran. Namun demikian, entah kenapa, setelah sebuah “what if” muncul di kepala saya, suatu hari akan muncul jawaban dari “what if” tersebut yang menunjukkan bahwa ternyata tidak perlu ada yang saya sesali…

Misalnya: Beberapa hari lalu saya mendengar kabar bahwa salah seorang teman yang pernah saya sukai waktu SMA menikah. Bukan hanya pernah saya sukai waktu SMA, saya juga menolak dia waktu kami sudah kuliah. Beberapa kali saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau keadaanya berubah, tapi tidak lama yang lalu saya mendapatkan jawabannya.

Saya bertemu dengan teman saya itu di sebuah pusat perbelanjaan, bersama dengan istrinya. Saya menyapanya karena saya sedang mengantri untuk membayar di belakangnya. Saya tidak mau kegap sedang berada di sana, mengetahui keberadaannya dan tidak menyapa, dan kemudian muncullah di jagad pergosipan kalau saya sombong atau lebih parah lagi: sakit hati karena ga diundang.

Setelah basa basi singkat (saya yakin dia sedang basa basi karena dia mengatakan saya kurusan – which is impossible karena berat saya sedang naik), saya bertanya sekarang dia tinggal di mana setelah menikah. Dia menjawab dia masih tinggal di rumah orang tuanya setelah menikah.

Seriously, saya tidak bisa bereaksi selain bengong.

Dan juga bersyukur.

Mau jadi apa saya kalau saya waktu itu pacaran sama orang ini? Bagaimana nasib saya kalau saya yang harus tinggal di rumah mertua setelah menikah?

Bukannya saya diberikan kemampuan untuk melihat masa depan, tapi ternyata kemampuan prediksi saya ternyata cukup canggih juga. Ternyata mengambil keputusan itu tidak sesulit yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata banyak dari keputusan-keputusan besar di dunia ini yang pada akhirnya, meskipun meragukan, tidak saya sesali. Ini adalah salah satunya.

Apa yang saya alami hari ini mengajarkan pada saya bahwa saya tidak perlu takut mengambil resiko. Saya tidak perlu khawatir dengan “what if”. Saya tidak perlu sering-sering menengok ke belakang dan menyesali apa yang pernah saya putuskan. Saya hanya perlu menjadi manusia yang bahagia, dan saya rasa semua orang juga setuju akan hal itu