Birthweek: The Beginning

I believe I have told you before in the previous entry that suddenly I started to think a lot about my birthday here in Norwich. Not that I wanted to make a festive birthday celebration, but I was thinking of being kind to myself because of what I have been doing so far. I really needed to appreciate myself. A lot.

So, when I heard that Coldplay was going to have a small gig in my campus, I decided that the gig was going to be a birthday gift from me for myself. But, unfortunately, in that fateful morning, I couldn’t get the ticket. Like what I said before, it was a small gig, so there were only few could get the ticket, and according to the rumors, the ticket sold out only in several hours.

Lots of student who queued got really angry, because there were many outsider came and bought the ticket. But that wasn’t what made me angry… it was because I couldn’t even give myself something good for my own birthday. I started to feel sorry for myself, and drowned to the most pitiful state, which I didn’t need to do. Little did I know it was the beginning of all troubles for the next days.

First of all, I really got drunk. And, there were so few I could remember about what happened that night. I am pretty sure I did something stupid, I don’t need to explain here in the public area, but you know how stupid anyone when they got really drunk. And, when I am thinking about it now… I feel so silly that I have done that, because it was not supposed to be like that.

And then, I lost my glasses. That was the second hit, because I really love that glasses. No, I don’t have any emotional attachment to that glasses, but it was my favorite glasses, and it was the cheapest glasses I have ever bought. So it meant a lot to me. But I couldn’t find it anywhere in one morning… Like what I have said, I just couldn’t remember anything. Even until now.

Desperation struck me, and I lost my mood to celebrate my birthday. I didn’t talk about to anyone. I just wanted to sleep my birthday away… But this is still the beginning…

Jealous Much?

Saya ga suka kalo orang lain iri dengan apa yang saya miliki atau saya dapatkan. Atau sekedar iri saja tanpa alasan. Atau cemburu buta pada saya.

Beberapa orang bilang, “you’re so lucky”. Atau “lucky bitch” di belakang saya, dan mungkin saya geer, tapi tidak sedikit yang mengatakan itu. Luck mereka bilang?

Dulu setiap kali ujian, semua orang mengatakan, “wish me luck.” Atau mereka saling mengucapkan “good luck” satu dengan yang lain. Saya? Kadang kalau saya cukup dekat dengan orang-orang yang mengucapkan “good luck” pada saya, “thanks, but I don’t need luck.”

Dulu waktu lagi sering-seringnya main billiard dengan teman-teman, paling males kalo dibilang menang karena hoki (luck). Bukan pujian sama sekali. Kemenangan sama sekali ga ada artinya, karena kamu bukan menang karena skill >_<. Akhirnya toh kita mengakui bahwa orang bodoh kalah sama orang pinter, tapi orang pinter kalah sama orang hoki. -_-”

Tapi bagi saya no such thing as luck. One good thing comes with other things to make it balanced. Setidaknya begitulah yang saya percayai.

Misalnya, kalau ada satu orang menang lotere, maka ada satu juta orang lain yang kalah. Atau, kalau kalau satu orang menemukan dompet di jalan, berarti ada satu orang lain kehilangan dompetnya. Atau yang efeknya ke diri sendiri: oh kamu beruntung nyontek ga ketauan kali ini, besok kamu akan lakukan hal yang sama. Atau oh I’m so lucky I don’t need to practice.

Bahkan kritik aja nih ya buat lagi “Lucky”. Lucky you’re in love with your best friend? You just don’t know how complicated it could be if you’re ever break up.

Kadang orang-orang memang ga bisa mikir panjang.

Waktu saya bilang saya ada di Inggris untuk kuliah, mereka bilang saya beruntung. Beruntung dari mana? Ada jalan yang saya tempuh untuk mencapai tempat ini. Ada hal-hal yang saya perjuangkan dengan kerja keras. Berapa banyak argumen yang saya lontarkan untuk meloloskan proposal saya? Berapa banyak hal yang harus saya tinggalkan di Indonesia demi apa yang saya inginkan di sini? Dan, mereka bilang saya beruntung?

Mungkin dibanding beberapa orang lain, jalan saya termasuk lebih mudah. Tapi tidak ada keberuntungan. Saya tidak percaya keberuntungan. Luck. Saya percaya semua datang satu paket dengan usaha. Saya percaya hukum sebab-akibat.

So please don’t be jealous. Jangan sama saya. Jangan pada siapa pun.

500 days of Byq

Oke… Saya mengakui bahwa judul entry saya kali ini memang tidak kreatif. Biasanya juga judul entry saya tidak kreatif, tapi kali ini bukan cuma tidak kreatif, tapi juga obvious mengenai apa yang akan saya bicarakan kali ini. Ini semua adalah salah Mr. Atheist dan teori barunya mengenai karakter dalam film (500) Days of Summer. Katanya, gwe mengingatkan dia pada Summer, dalam cerita film tersebut.

Awalnya saya tidak terlalu bernafsu nontonnya. Biasa, lagi jomblo, lagi hepi, males juga nonton lovey dovey drama. Takut mupeng juga sih. Tapi tapi tapi, Mr Atheist ini sampe kekeh banget saya harus nonton. Bukan cuma dicariin link buat download, saya juga dikasih download manager (mungkin dia tau saya males banget download 20+ part film itu). Karena ke-kekeh-an nya lah makannya saya akhirnya mendowonload semuanya.

Sebelom saya selesai mendownload, saya sempat chat dengan salah seorang teman saya yang sekarang lagi di Indonesia. Saya pun bilang bahwa saya sedang disuruh download film tersebut karena KATANYA saya mirip dengan si Summer. Saya tanyalah dia sudah nonton atau belum, dan dia reaksinya adalah: “Oh iya, bener juga yah. Nonton gih, biar lo liat sendiri lo tuh kaya apa…”

PLAK!!!

Saya tidak ingin membuat spoiler, tapi saya memang tidak rela kalau saya disamakan dengan karakter Summer ini. Saat menontonnya pertama kali, saya berpikir… oh, she’s kind of cool. Tapi lalu, saya mulai bertanya-tanya, did I treat anyone like she does? Saya bertanya pada Mr. Atheist dan dia bilang, “yap I was his Summer…”

PLAK!!!

I thought I have got enough punched this year but apparently I was wrong. Kalo kemaren saya diingatkan bahwa saya tidak cukup baik pada diri saya sendiri, maka kali ini saya diingatkan bahwa saya ternyata tidak cukup berbuat baik pada orang lain. Malah… I probably hurt many people who loved me. Hanya karena saya seenaknya sendiri melakukan hal-hal yang saya suka.

Karena galau, maka waktu Miss Musician SMS saya malam itu, saya pun curcol ke dia. Saya ngadu kalau saya disama-samain sama Summer, dan nanya apakah dia sudah nonton film tersebut. Bukannya mendapat pembelaan, saya malah dapat balasan kaya gini: “i agree with them. Hehe just kidding. Actually I don’t think you are that bad like summer but I can understand why they said that…”

PLAK!!!

She could understand huh? Bahkan orang yang baru kenal saya selama 3 minggu saja bisa bilang kaya gitu? Oh tidak…

Challenge 25

Berbeda dengan di Indonesia, di sini minuman beralkohol dijual bebas, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Jadi, pada dasarnya siapa saja yang berusia di atas 18 tahun bisa mengkonsumsinya. Yap! Di sini, 18 tahun adalah usia legal meminum minuman beralkohol, bukan 21 seperti di Indonesia.

Akan tetapi, banyak supermarket menggunakan istilah Challenge 25. Maksudnya Challenge 25 adalah, kalau kamu tidak terlihat seperti berusia 25 tahun ke atas, maka untuk membeli minuman beralkohol itu kamu akan diminta mengeluarkan kartu identitas yang membuktikan kalau kamu sudah cukup umur. Bukan apa-apa… mungkin karena banyak anak-anak muda berwajah tua di sana, jadi mereka merasa bisa membeli asalkan tampangnya tuwir.

“Can I have your ID for the smirnoff please?”, kasir supermarket itu bertanya kepada saya.

Maklum, ternyata tampang saya masih dianggap dibawah 25 oleh mereka. Padahal… padahal… padahal kan… >_<’

Bukannya nyombong yah… tapi memang tampang saya ga keliatan seperti mau ambil Post Graduate di sini :p Nyombong deng… tapi ga papa kan? Selama ada yang masih bisa disombongin, boleh lah nyombong sesekali. Bukan cuma orang barat aja yang mengira saya masih kecil, bahkan orang asia sekali pun nggak tau kalau saya lebih tua dari kebanyakan dari mereka. Mr Nottingham aja ga percaya waktu saya kasih tahu umur asli saya (yang lebih tua 2-3 tahun di atas dia :p)

Malah, kemaren Mr Atheist bilang kalau muka saya waktu umur 21 sama muka saya sekarang nggak ada bedanya. Sedangkan waktu saya umur 21 teman saya bilang muka saya sejak SMA sampe umur 21 tidak berubah. Saya menyimpulkan, muka saya belom berubah sejak SMA. Enak yah? Apa gara-gara selama ini saya dengan si Onyed yang lebih muda dari saya 5 tahun itu ya makanya saya mukanya muda terus?

Tapi keawet mudaan saya ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan adik saya si Lala itu. Kalau liat dia, yang terbayang bukan anak SMA atau perempuan berusia 20 an. Tapi… tapi… tapi… Anak SMP!! Iri ga sih iri ga sih?

Nggak juga…

 

Bentar Lagi Ulang Tahun Ya?

Biasanya saya tidak pernah memikirkan ulang tahun saya. Sering kali terlewat begitu saja oleh saya sendiri kalau tidak diingatkan oleh orang yang peduli. Mengikuti prinsip Papa saya yaitu: tidak ada bedanya dengan hari lain, toh cuma nambah umur sehari >_<

Tapi, entah kenapa sejak saya nyampe di sini, dan semenjak masuk bulan Oktober kok saya jadi  kepikiran ulang tahun ya?

Bukannya pengen dirayain sih, tapi kepikiran aja. How does it feel ulang tahun di antara orang-orang yang tidak saya kenal? Bagaimana ulang tahun di antara orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang hari ulang tahun saya? Bagaimana rasanya? Kalau dulu saya tidak mau memberi tahukan tanggal ulang tahun saya karena saya benci acara kejutan, kali ini saya malah pengen gembar gembor ke orang-orang kapan saya ulang tahun.

Tidak saya lakukan, karena saya tahu itu hanyalah pikiran impulsif semata. Dan saya masih benci acara kejutan. Bukannya geer bakalan ada orang yang ngasih saya kejutan, tapi tetep aja, apa salahnya berjaga-jaga.

Saya pun berpikir untuk menghadiahi diri saya sendiri dengan sesuatu. Misalnya saya liburan sendiri ke London selama semalam? Atau saya ke Manchester lihat tempat yang selama ini selalu ingin saya kunjungi? Aaaataau ke Nottingham dan main ke tempatnya Mr. Nottingham? Ataaau saya cukup ke city center, keliling kota dan membeli sebuah sepatu yang bagus?

Masih saya pikirkan.

Meksipun begitu, saya merasa berhak menghadiahi diri saya sendiri dengan sesuatu. Saya rasa saya sudah banyak melakukan hal-hal baik selama satu tahun ini. Saya mencapai banyak hal dan saya rasa saya sudah berkembang banyak, meskipun belum seratus persen seperti yang saya inginkan. In fact, I am starting a new life, and that’s worth a celebration :D

Oh! Oh! Oh! Atau saya cukup membeli satu botol Bailey’s dan menghabiskannya di kamar sambil chatting dengan orang-orang yang saya sayang, lalu menceritakan semuanya dalam satu postingan “alcohol talks” >_< There are so much to do. And, suddenly, I love my birthday