Lebaran On The Road: The Batu Experience

September 9, 2011

Batu adalah tujuan terakhir kami, dan kami menghabiskan paling banyak waktu di sana. Kami menginap di salah satu villa dekat taman bermain yang sangat besar di sana. Harganya, luar biasa mahal, tapi untuk satu villa kami mendapatkan 3 kamar tidur, dan makan gratis untuk pagi dan malam. Lagipula, sebenarnya lokasi villa itu dekat ke tempat-tempat wisata, jadi saya rasa untuk harga segitu, apalagi di musim liburan, cukup sepadan. Sayangnya, di villa saya tidak bisa mendapatkan koneksi internet.

Di Batu, Malang, ternyata tidak sedingin yang saya perkirakan sebelumnya, apalagi di siang hari. Rasanya terik dan sumpek, selain karena matahari yang menyengat, juga karena di tempat wisata yang kami kunjungi sangat penuh orang. Saya biasanya dapat dengan mudah menikmati yang namanya kebun binatang dan museum, tapi kali ini saya harus berusaha keras untuk dapat menikmati semuanya.

Bukannya saya rewel, tapi di taman rekreasi itu sangat padat dengan pengunjung yang berjubel. Bukan hanya itu, tapi dari pihak pengelola taman rekreasi itu, pintu-pintu keluar ditutup sehingga kami harus mengikuti rute yang telah mereka sediakan. Maksudnya sih baik. Mereka ingin semua pengunjung dapat menikmati semua wahana yang ada di sana, tapi bagi kami yang tidak ingin melihat semuanya atau ingin memilih sebagian saja, jalan-jalan di taman rekreasi itu serasa siksaan tanpa akhir.

Kami juga pergi ke taman rekreasi yang tidak terlalu baru. Lokasinya memang agak jauh dari villa tempat kami menginap. Pemandangannya memang bagus, tapi lagi-lagi terlalu banyak orang berjubel dan membuat nafsu foto-foto ngedrop seketika. Akhirnya di tempat ini kami hanya duduk sebentar di sebuah kafe di dekat pintu masuk, ngelihatin orang berenang, dan pulang setelah menghabiskan segelas minuman.

Mungkin yang paling bisa saya nikmati adalah acara memakan strawberry. Setidaknya di tempat ini saya menemukan kesukaan saya yang baru. Ternyata saya menyukai strawberry. Beberapa waktu lalu saya sempat komen di blognya si Bedjo. Saya mengatakan bahwa saya senang banget liat strawberry tapi takut memakannya karena saya tidak doyan asam… tapi ternyata bukan cuma doyan… saya doyan banget :p

Sebenarnya saya ingin ikut ke Malang, karena di sana teman-teman blogger saya sedang ada acara, tapi ternyata jadwalnya bentrok dengan jadwal BNS (Batu Night Spectacular). Yang agak mengecewakan adalah, ternyata kami tidak jadi ke BNS juga. Akhirnya, nggak ke Malang ikut halal bihalal, nggak ke BNS. Tahu gitu kan saya maksa pergi ke Malang, ya nggak?

Tiga hari di Malang bukan cuma sukses membuat saya pegal-pegal, tapi juga membuat kulit saya terbakar matahari dengan acara jalan-jalan ke taman rekreasi itu. Ouch!

Gara-Gara Prita, Bybyq Susah Ngeblog

August 8, 2011

Bukan baru kali ini mama saya freak out setiap kali dia ingat kalau saya suka ngeblog. Dulu, setiap kali membicarakan gosip keluarga, dia selalu mengingatkan wanti-wanti agar kisahnya tidak bocor ke media. Juga setiap kali saya bilang kalau saya mau curhat di blog saja tiap kali ada kejadian menyebalkan di customer service (manapun). Tapi gara-gara Prita, mama saya makin anti dengan yang namanya blog.

Awalnya saya mau membuat hashtag #blameprita di twitter untuk sarkastwit, tapi keduluan sama #blamethemuslims. Untungnya saya tidak meneruskan niat saya karena ternyata #blamethemuslims menjadi hashtag gone wrong yang menghebohkan jagad twitverse.

Jadi, begini ceritanya.

Setelah pengadilan kasasi memutuskan Prita bersalah, meskipun dia tidak dihukum, mama saya seperti MUNGKIN banyak orang lain merasa takut. Takut ngeluh, takut ngadu, takut komplain apalagi di media terbuka. Takut kalau-kalau mereka juga bisa kena jerat UU ITE. Secara khusus, mama saya takut kalau saya terlalu vokal di dunia maya, hidup saya bisa dipersulit di dunia nyata.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh teman saya, yang sudah ganti pseudonym lagi… Bahwa menjadi anonim adalah hal paling menyenangkan di dunia maya. Saya pun berpikir begitu. Kalau tidak, apa gunanya saya membuat pseudonym yang susah dibaca seperti Bybyq? Tapi, sebagai natural born popular, saya tidak bisa berbuat banyak… (Tolong jangan bunuh saya, dan jangan hack blog ini).

Bukannya saya gagah berani. Saya juga ogah kalau harus berhadapan dengan hukum hanya karena mengeluh menemukan lalat tergoreng crispy di kremes yang saya makan kemarin siang (true story!), atau mengomel mengenai internet yang tidak pernah berjalan normal di rumah saya sampai jempol saya bengkak karena ngeblog lewat hp terus (another true story!). Saya juga malas kalau saya harus kena denda ratusan juta rupiah karena dianggap mencemarkan nama baik seseorang atau sebuah perusahaan yang sudah lebih dulu mencemarkan nafsu makan saya, misalnya.

Akan tetapi, kalau saya diam saja, saya akan stres dan itu tidak baik untuk kesehatan. Siapa yang akan menunjang biaya kontrol saya ke psikolog, termasuk biaya bolak balik Jakarta-Solo? Siapa yang akan membelikan saya es krim untuk pelipur lara saya setiap harinya? Apakah gara-gara Prita saya harus berhenti ngeblog dan menanggung beban batin itu semua sendirian?

(Kak Irma dan Bung Monty, tolong saya. Apa yang harus saya lakukan?)

The Annoying Old Lady

August 6, 2011

Hari ini, seperti hari-hari lainnya, datanglah perempuan itu. Sebenarnya dibilang tua, tidak juga, karena usianya masih sebaya dengan mama saya yang masih tergolong muda apalagi dibandingkan dengan orang tua teman-teman saya (jaga-jaga kalau mama saya ternyata membaca blog ini). Tapi, perempuan ini tampak hampir seusia nenek saya. Kata mama saya, wajahnya terlihat tua karena beban hidupnya.

Saya tidak keberatan Mama saya membantu perempuan ini. Toh, dulu sebelum bercerai dengan suaminya, mereka berdua dapat dibilang masih berkerabat. Saya juga tidak keberatan kalau dia datang tiap hari ke tempat mama saya bekerja. Tapi, saya keberatan apabila dia mulai mengoceh dan lebih keberatan lagi kalau saya harus meladeni ocehannya.

Kurang lebih dia akan berkeluh kesah tentang sulitnya hidup yang dilaluinya. Kalau ada waktu lebih dan dia masih belum memutuskan untuk pulang maka dia akan melanjutkan ceritanya dengan menceritakan tentang anaknya yang sekarang bekerja di kota besar. Lalu, kalau masih ada waktu sisa, dia akan mulai sok bertanya-tanya pada saya dan adik-adik saya hal-hal yang menurut saya dia tidak perlu tahu. Toh selama ini, sebelum dia susah dan butuh bantuan dari keluarga kami, dia tidak pernah peduli juga dengan apa yang kami lakukan. Kenapa sekarang tiba-tiba kami harus share cerita pribadi dengan dia?

Yang lebih menyebalkan lagi adalah kalau dia mulai nimbrung pembicaraan saya dan adik-adik saya dengan mama saya. Dan, mulai mengalihkan pembicaraan yang sedang asik menjadi… membicarakan nasib dirinya sendiri. Something I don’t really care…

I think there is one thing people needs to know about me. I don’t really care when you’re whining, because it means you’re weak. Saya tidak akan kasihan dengan orang yang jatuh karena kesalahannya sendiri dan membuat orang lain harus repot menariknya sampai bangun dan berdiri di atas kakinya lagi. Saya tidak akan kasihan dengan keluhan-keluhan remeh yang terjadi karena kebodohannya membuatnya terjerat kesulitan sendiri. Bagi saya, orang yang terlalu banyak mengeluh itu menyebalkan, atau lebih tepatnya menyebalkan karena merepotkan.

Bukannya saya tidak peduli dengan orang lain. Kalau kami mau cerita dan curhat, silakan saja. Kalau kamu membutuhkan pendapat saya, saya akan berikan. Tapi kalau kamu mengeluh berulang-ulang seperti kaset rusak di hadapan saya… saya akan melakukan apa yang selalu saya lakukan terhadap koleksi kaset saya yang sudah rusak. Membuangnya ke tong sampah.

I am so sorry for being so rude today. Saya hanya berusaha mengatakan bahwa bukan mereka sajalah orang paling susah di dunia ini. Beruntung mereka masih punya orang-orang yang peduli dan mau menolong mereka waktu mereka susah, meskipun mereka tidak pernah menolong orang lain waktu mereka sedang jaya. So, if you have lots of caring people around you, stop pitying yourself…

Everybody Needs a Punch In the Face

July 28, 2011

Dedicated to the old good fellow

When you were younger, your parents spanked you in behind to remind you what you did wrong. But when you’re older, and spanking started to be considered as domestic violence, you’re no longer listening to your parents as much as you did when you’re young. You’re lucky if you have at least one friend to always remind you when you’re misbehaving, sometimes by punching you right in the face… figuratively.

Sometimes, when you’re living in a world of your own, building your own realm, you forgot about reality. I am lucky that I still have friends who always try to bring me back stepping ground before I forgot how. I needed a punch in the face, and I got that last night.

If you heard what he said to me today, you might think my friend wanted me to be who I was, you’re wrong. No one wanted me to step back and become the old Bybyq. But the thing is, who I am now is not the better version of who I was then, and somehow I agreed with him. It’s to arrogant even for me to be defensive and finding excuses.

I did what I did, and I needed a kick in the head to wake me up. Maybe I need it even harder to motivate me to change into a better person. I think I should thank anyone who have seen me and talk to me lately because they remind me of who I was, and how good I am supposed to be.

Please don’t worry, and please don’t hesitate to shake me up because everyobdy needs a punch in the face. Well, I admit that some hard punch can knock people out but, hey… what doesn’t kill you makes you traumatize stronger, doesn’t it?

 

Rayaaap!! No!!

July 17, 2011

Sepertinya rumah ini memang sudah harus benar-benar direnovasi. Setelah ditinggali kira-kira lima belas tahun lamanya, dan setelah pembicaraan tentang renovasi rumah yang tidak pernah jelas bagaimana realisasinya, memang hanya tinggal menunggu waktu rumah ini memakan korban. Dan, kali ini saya tidak membicarakan renovasi setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh orang tua saya beberapa waktu lalu, tapi perombakan total. Bongkar!!

Ya. Beberapa waktu lalu memang rumah kami terinfeksi rayap. Beberapa kusen pintu sudah habis duluan, meskipun pintunya masih tegak berdiri. Pada waktu itulah pembicaraan tentang renovasi total mulai didengungkan, tapi pada kenyataanya hanya bagian-bagian yang rusak dan lapuk saja yang diganti. Setelah pengecatan ulang dan penggantian beberapa furniture, pembicaraan tentang renovasipun hanya sekedar bumbu obrolan saat tidak tahu lagi harus ngomongin apa.

Sampai akhirnya serangan rayap berikutnya terjadi lagi. Dua kali. Yang pertama adalah kira-kira sebulan yang lalu, dan yang kedua adalah beberapa hari yang lalu. Kali ini yang jadi korban bukan kusen pintu atau jendela, atau lemari kayu kami, tapi koleksi buku-buku kami yang berharga. Beberapa buku bahkan harus dibuang karena kami takut kalau buku itu menginfeksi buku-buku yang lain kalau disimpan.

Yang lebih menyebalkan, buku-buku yang dimakan rayap bukanlah buku-buku biasa. Bukan buku novel populer yang dapat dengan mudah dibeli di toko buku, melainkan buku rangkaian ensiklopedia untuk anak-anak dengan hard cover yang sudah tidak lagi diproduksi. Sial betul. Saya bahkan belum sempat membaca keseluruhan serinya.

Sekarang, selain kami memanggil pest control service, pembicaraan mengenai renovasi total kembali diungkit. Saya tidak tahu berapa lama topik tentang renovasi ini akan bertahan, saya juga tidak tahu apakah akan benar-benar terlaksana. Moga-moga saja tidak akan ada lagi korban-korban rayap di rumah ini…

Bye bye books…