Selamat Hari Kartini

Standard

Kita mengenal 21 April sebagai Hari Kartini. Sejak masih kecil, udah diajarin betapa pentingnya peran seorang Kartini dan betapa besar jasanya untuk perempuan Indonesia.

Bybyq kecil dulu selalu berpartisipasi dalam kegiatan Kartinian di sekolah. Tapi sampai Bybyq sudah besar, nggak ngerti apa hubungannya pakai baju daerah dengan peringatan hari Kartini. Nggak ngerti apa maknanya memperingati hari itu dengan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan orang yang diperingati.

Baik Bybyq saat masih kecil maupun sudah besar, masih mempertanyakan hal yang sama. Kenapa di hari yang seharusnya menjadi hari untuk memperingati perjuangan menghormati kaum perempuan, malah menjadi hari yang paling merepotkann untuk ibu-ibu. Dari yang harus siapin baju daerah untuk anak-anak mereka, sampai bangun pagi-pagi untuk dandanin anak. Belom lagi kalau ternyata anaknya itu calon buci yang rewel kalau didandanin.

Apakah hari kartini tidak toleran kepada kaum ibu karena Kartini tidak pernah menjadi ibu? Seharusnya tidak begitu, kan?

Buat gwe secara pribadi, hari Kartini seharusnya menjadi hari bagi perempuan muda di Indonesia untuk merenung. Merenungi apa yang mereka miliki saat ini, sebagai sesuatu yang tidak hanya cukup disyukuri, tapi juga dimanfaatkan sebaik-baiknya. Penyakit yang paling sering menjangkiti bangsa ini kan kebiasaan take it for granted.

Lupa darimana datangnya kebebasan. Lupa darimana datangnya pendidikan. Lupa darimana datangnya penghormatan. Dan lupa, bahwa kalau tidak dijaga, hal-hal semacam itu akan bisa hilang lagi.

Bybyq bukan Kartini. Mungkin Bybyq ga akan bisa melakukan apa yang dilakukan Kartini pada jamannya. Tapi menikmati apa yang sudah diperjuangkan Kartini pada saat itu, bukankah wajib buat perempuan saling menolong bukannya saling sikut satu dengan yang lain?

Selamat Hari Kartini, Perempuan…

Advertisements

4 responses