Emansipasi

Standard

Gara-gara hari ini adalah hari Kartini, semua orang di twitter tiba-tiba rame ngomongin makna Kartini dan emansipasi. Seneng deh akhirnya apa yg gwe dapet dari baca-baca buku feminism itu bisa dipake juga untuk diskusi dengan orang-orang di luar sana.

Terakhir gwe baca soal isu feminism itu, banyak penulis feminis, nggak lagi menggunakan istilah “persamaan” maupun “penyetaraan” untuk mendefinisikan emansipasi. Mereka menggunakan istilah “pengakuan”, yang selain dirasa lebih fleksibel, tapi juga lebih tepat dalam menggambarkan apa itu emansipasi.

Tidak tepat apabila kita mengusung tema emansipasi tanpa sebelumnya melihat bagaimana perjuangan emansipasi itu bisa muncul. Di Amerika, akhir abad 18 perjuangan emansipasi perempuan terjadi ketika perempuan menuntut kesetaraan hak di bidang politik. Di Indonesia, awal abad 19, perjuangan emansipasi terjadi karena perempuan menginginkan persamaan hak di bidang pendidikan.

Sesuai dengan berkembangnya jaman, baik perempuan maupun laki-laki memahami bahwa tidak mungkin, bagaimanapun juga, menyamakan laki-laki dan perempuan. Bahkan secara fisik saja mereka diberikan fungsi yang berbeda. Ideologi “persamaan” dan “kesetaraan” yang dimunculkan dalam perjuangan awal emansipasi itu menjadi bumerang untuk diri sendiri. Tidak ada laki-laki yang minta cuti hamil, salah satunya.

Beberapa pihak yang sinis melihat emansipasi sebagai cara perempuan mengambil enaknya saja. Meminta persamaan hak, tapi tidak mau disetarakan dalam hal kewajibannya. Maka kemudian aliran feminisme yang baru, mengajukan definisi lain untuk emansipasi.

Penggunaan istilah “pengakuan” adalah tindakan yang tepat menurut gwe, karena istilah tersebut lebih luwes saat digunakan. Dalam konsep emansipasi ini ada penjelasan bahwa perempuan dan laki-laki memang tidak sama dan tidak akan pernah sama. Masing-masing membawa peran yang sama pentingnya dalam kelangsungan hidup masyarakat. Emansipasi adalah mengakui peranan perempuan, dan dengan demikian maka otomatis seorang perempuan akan diberikan hak sesuai dengan peranannya.

Tentu saja, masih banyak literatur tentang feminism yang menjelaskan lebih jauh dan mendalam. Gwe bukan ahli di bidang ini, jadi nggak bisa memberikan informasi yang setepat itu. Tapi setidaknya gwe bisa memberikan gambaran apa yang ada di permukaan.

Selamat berpikir

Advertisements

Comments are closed.