The End of Mankind?

Standard

Bukan gwe namanya kalau cuma baca, ngereview terus berakhir di situ. Gwe bilang 20th Century Boys keren banget bukan cuma keren sebagai manga, tapi juga keren untuk dijadikan pelajaran. Apalagi bisa diplesetin jadi 20th Century Byqs.

Manga ini memang bisa membuat gwe membayangkan bagaimana akhir dari umat manusia. Apa yang terjadi jika seluruh dunia dikontrol oleh satu kekuatan yang dogmatis dan tidak boleh dipertanyakan. Apa yang terjadi kalau dunia diatur oleh sebuah buku ramalan, yang bahkan cuma diketahui isinya oleh beberapa orang penulisnya saja.

Gwe ga akan mengajak yang lain untuk menjadi atheis dengan membaca entry kali ini. Gwe hanya ingin mengajak berpikir. Terutama bagi yang sudah baca manga nya atau sudah nonton filmnya. (Manga bisa dibaca di mangafox, dalam bahasa Inggris, film bisa dicari di toko DVD terdekat)

See? Yang gwe lihat dari manga ini, yang disebut dengan kehancuran umat manusia (the end of mankind) adalah berakhirnya sifat kemanusiaan seseorang. Manusia dilahirkan dengan kemampuan mengolah data, berpikir dan berlogika, dan membedakan baik buruk benar salah dengan moralitas yang dimilikinya.
Saat seseorang sudah kehilangan akal sehatnya, kehilangan kemampuannya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka mereka sudah kehilangan kemanusiaan. Semudah itu.

Poin penting dari kehancuran umat manusia yang ingin disampaikan oleh manga ini adalah, saat lo ditakut-takuti oleh sesuatu yang mungkin-tapi-belom-tentu terjadi sampai ke titik desperate, lo akan jadi boneka yang gampang dikontrol. Lo akan kehilangan kemanusiaan saat lo ketakutan setengah mati, dan mau melakukan apapun supaya hal yang lo takuti itu tidak terjadi.

Apalagi kemudian, di dalam keputusasaan atas hal-hal mengerikan itu lo diiming-imingi impian akan kebebasan, kemenangan, dan keselamatan. Lagi-lagi mungkin-tapi-belum-tentu juga akan terjadi. Lo akan melakukan apa saja, bahkan membunuh, untuk mencapai pembebasan itu.

Dan gwe berkata: “benar kan? Kemanusiaan sudah mati”

Kenapa tidak menggunakan sedikit dari apa yang sudah kita punya. Mencerna dengan apa yang kita miliki. Bukankah dengan begitu kita tidak akan terjebak dalam permainan yang dibuat orang lain? Bukankah dengan begitu, setidaknya kita tetap menjadi manusia, bukan boneka yang dikendalikan dengan kata-kata yang diucapkan orang-orang yang dianggap membawa pesan berisi ramalan.

Manga ini menyindir mereka yang mengaku “the prophet”, “the messenger”, atau apalah sebagai orang-orang yang terjebak dalam imajinasi kanak-kanak. Oh, itu lah kenapa gwe suka manga ini.

Let’s think!

Advertisements

Comments are closed.