Fiksi atau Real?

Standard

Terinspirasi dari twit salah seorang penulis Indonesia favorit gwe, Clara Ng. Beberapa hari yang lalu salah seorang penggemar Clara Ng nanya, apa isi twit penulis Dim Sum Terakhir ini fiksi atau real. Aseli atau palsu. Clara Ng, yang memang terkenal ramah sama penggemarnya ini menjawab dengan balik bertanya: apa karena dia penulis, maka twitnya pun juga fiksi?

Gwe jadi inget beberapa waktu lalu, mungkin udah lebih dari setahun yang lalu, si Bonbon juga pernah nanya hal yang sama ke gwe dan AK tentang blog kita. Btw, ke mana ya si Bonbon sekarang? Meskipun mungkin formatnya agak berbeda sama format pertanyaan penggemar Clara Ng padanya, tapi intinya mempertanyakan isi blog kami.


Bukannya nggak mungkin sih seseorang menulis fiksi pada blog mereka. Toh selain gwe juga pernah mengusahakan satu blog fiksi, gwe juga banyak melihat orang-orang punya blog untuk memajang hasil karya menulis mereka. Tapi, apakah kalau seseorang menulis fiksi, perlukah dia mengarang cerita tentang hidupnya sendiri? Apakah kalau seseorang memfiksikan tugas wawancara untuk feature writing, benarkah dia akan selalu memfiksikan segala sesuatunya?

Gwe pernah berpikir bahwa mungkin tanggapan si Bonbon itu berarti baik. Bisa jadi tulisan gwe itu udah seperti tulisan penulis fiksi yang sesungguhnya. Bisa jadi kisah hidup yang gwe tulis di blog itu begitu spektakuler sampai sepertinya tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Bisa jadi meskipun gwe adalah diary blogger tapi tulisan gwe tidak semembosankan ‘dear diary’ style.

Atau…

Secara personal gwe tidak bisa dipercaya karena gwe bahkan bisa memfiksikan data, dan melakukan wawancara dengan nara sumber imaginer. Secara personal gwe SEHARUSNYA membosankan, sehingga gwe nggak bakalan punya kisah hidup yang spektakuler. Atau gwe dianggap lebay sehingga kisah hidup yang gwe tulis udah nggak asli lagi.

Penganut aliran positivistik seperti gwe akan langsung mengambil sisi positifnya dengan mengklaim diri sebagai, penulis fiksi terbaik segalaksi.

Terlepas dari gelar baru gwe sebagai “Penulis Fiksi Terbaik SeGalaksi”, sebenarnya ada hal yang lebih baik lagi saat seseorang bertanya seperti itu. Meskipun pertanyaanya adalah: “itu asli atau palsu sih?”, tapi itu menandakan bahwa mereka benar-benar membaca apa yang lo tulis. Bukan hanya benar-benar membaca, tapi mereka bereaksi dan menanggapi.

Sesama blogger pasti tahu benar rasanya waktu ada yang ninggalin komen di salah satu postingan. Mungkin komennya bawel dan banyak nanya yang aneh-aneh, tapi itu menunjukkan bahwa seseorang, entah siapa, di luar sana mempunyai apresiasi terhadap apa yang kita tulis. Dan itu ternyata menyenangkan. Dan itu sebabnya sekarang gwe memilih untuk meninggalkan jejak berupa komen di entry post daripada di shout box

Pertanyaan “tulisanmu di blog/twitter itu fiksi atau real” itu benar-benar pertanyaan yang mencerahkan hati. Bukan hanya dia membaca dan menanggapi. Si penanya bahkan memikirkan tulisan kita hingga dia sampai pada sebuah pertanyaan, mungkinkah sebuah kejadian seabsurd itu ada? Jangan-jangan ini fiksi? Atau beneran?

See?

Tapi, gwe merasa gwe nggak perlu menjabarkan apakah itu real atau fiksi. Atau real dengan kelebaian-kelebaian yang membuatnya cenderung ke fiksi. Menurut gwe, pembaca akan sampai ke kesimpulan mereka sendiri apakah blog itu real atau fiksi.

Kemudian Clara Ng membalas twit gwe waktu gwe ceritain ke dia soal pertanyaan si Bonbon itu. Eh dong, dia malah nanya balik, “real/fiksi?”

Advertisements

2 responses

  1. Termyata kamu suka baca Clara Ng juga.. dia juga salah satu dari (sedikit) penulis Indonesia favoritku. Haha.. aku udah lupa si Bonbon pernah nanya begitu

    Like