Spam dan Broadcast

Standard

Yang pakai HP blackberry pasti tahu yang namanya broadcast message di BlackBerry Messenger. Atau setidaknya yang tidak menggunakan BlackBerry pernah mendengar tentang broadcast message itu. Beberapa bulan belakangan ini, nggak cuma sekali dua kali gwe denger dan liat keluhan yang sama dari beberapa pengguna BlackBerry terkait dengan blackberry broadcast abuse. Sialnya, bukan cuma gwe denger orang-orang ngetwit sambil marah-marah, tapi juga harus mengalami sendiri.

Alhasil, beberapa minggu yang lalu gwe men-delete saudara sepupu gwe sendiri karena kebiasaan broadcast-abuse nya dia. Seberapa menyebalkannya sih broadcast message itu?

Pertama-tama, gwe memang punya sentimen pribadi terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pesan berantai. Paling benci kalau sudah ada yang ngirim pesan berantai, plus diakhiri dengan ancaman di buntutnya, “kalau pesan ini tidak dikirimkan dalam waktu 15 menit maka kesialan akan membuntutimu selama 15 tahun.” Busuk banget kan?

Dulu jaman SMS gratis, pesan berantai beginian berbondong-bondong masuk ke HP gwe. Belom lagi pesan berantai melalui email (atau pas lagi jamannya, pesan berantai lewat private message Friendster). Sekarang, teknologi udah maju, tapi otak kok nggak maju-maju, mau-maunya dibegoin sama pesan berantai semacam itu.

Pesan-pesan sampah semacam itu, nggak ada bedanya sama spam messages yang masuk ke blog gue. Nggak ada bedanya sama spam yang masuk ke e-mail gwe, dan otomatis masuk ke tong sampah. Nggak ada bedanya sama brosur yang ditempelin di kaca mobil yang dibuang, bahkan nggak pake diliat. Yang ada cuman nambah-nambahin sampah di mana-mana.

Dan, yang lebih begonya lagi, mereka yang marah-marah tentang broadcast message sampah itu, menyebarkan amarah mereka melalui broadcast message juga. Yang lain, yang memilih untuk mendelete saja pesan-pesan itu, seperti gwe, mendapatkan pekerjaan tambahan untuk mendelete satu pesan lagi. Sialan banget kan?

Okay… gwe belom tidur, dan mood gwe jelek. Maafkan kalo gwe ngomel-ngomel.

Advertisements

Comments are closed.