Bhinneka…

Standard

Berjalan-jalan ke sana kemari, blog walking membuat gwe melihat sesuatu. Sebenernya gwe udah melihat itu dari dulu, tapi mungkin baru kali ini gwe merasakan kebenaran dari apa yang selama ini gwe lihat. Entah mengapa, nggak banyak orang bisa melihat apa yang gwe lihat selama ini.

Gwe baru sadar, bahwa selama ini, negara yang mengklaim dirinya sebagai negara yang plural dan multikultur seperti Amerika ternyata juga punya kelompok-kelompok radikal yang rasis. Bukan hanya rasis kepada warga negara kulit hitam, tapi juga kepada kulit berwarna lainnya. Dan mereka mengklaim dirinya nggak rasis! Bukankah perilaku semacam ini hanya mengingatkan kita kepada kelompok lain yang sejenis di Indonesia?

Serius deh.

Ada banyak alasan kenapa orang-orang memilih untuk tidak memilih. Tapi alasan gwe untuk tidak memilih satu agama pun adalah karena hal-hal yang semacam ini. Indonesia mengklaim dirinya sebagai negara yang bhinneka. Negara yang multi kultur, negara yang bisa menerima perbedaan. Nggak jauh-jauh kan, apa yang diklaim oleh Indonesia dengan apa yang diklaim oleh Amerika?

Tapi, apakah klaim itu memberikan jaminan terhadap warga negara untuk mendapatkan hak yang sama meskipun mereka memutuskan untuk menjadi berbeda? Masalahnya adalah, BAHKAN kebanyakan tidak pernah bisa memilih untuk menjadi berbeda.

Bulan ini, bulan Mei. Sepuluh tahun lebih sudah berlalu dari peristiwa kerusuhan yang tidak pernah gwe lupakan. Gwe yakin seumur hidup gwe nggak akan pernah lupa akan kejadian itu. Gwe nggak akan pernah lupa bahwa gwe pernah harus mengungsi dari rumah gwe sendiri, ke rumah sakit terdekat hanya untuk menyelamatkan diri. Gwe nggak akan pernah lupa ketika Papa dan Mama mengingatkan gwe untuk menyelamatkan diri dan lari sejauh yang gwe bisa seandainya hal terburuk terjadi.

(Gwe lega bahwa yang terburuk tidak terjadi pada keluarga gwe, bukan berarti itu tidak terjadi pada keluarga yang lain. Mereka mungkin nggak seberuntung keluarga gwe yang kebetulan cukup dekat dengan tempat untung mengungsi. )

Gwe nggak akan pernah lupa ketika rumah gwe dilempari dengan batu, dan ketika gwe harus tidur di malam hari dengan ketakutan. Suara-suara teriakan di luar sana dan bau asap kebakaran rumah yang dibakar nggak jauh dari rumah gwe.

Bhinneka?

Plural?

Apakah semua negara itu sama saja? Semakin mereka berkoar-koar tentang pluralisme, semakin mengenaskan nasib warga negara mereka yang minoritas di sana. Ada apa ini?

Advertisements

9 responses

  1. Miris kalo saya ingat jaman itu. Hari dimana saya dan adek cuma bisa nangis ketakutan.
    Tapi syukurlah, sekarang sudah menjadi lebih baik. Belum di setarakan, tapi minimal ga sesusah dulu, gitu kata ayah saya.

    Like

  2. bener banget. diskriminasi itu dimulai dari hal” kecil. kaya bikin ktp pasti lebih mahal, bikin dokumen”: akta kelahiran, akta nikah, passport dll pasti sll ditanya sbkri (pdhal bukankah sbkri itu udah dihapus?).
    orang”di pulau jawa mungkin mengira orang chinese sll hidup makmur & hidup mewah, hingga menimbulkan kecemburuan sosial. pdhal cobalah lihat warga keturunan yg tinggal di daerah seperti: bangka, pontianak, dll) banyak kok yg hidupnya miskin dan bekerja kasar.
    kuncinya: kita harus sama” memiliki hati yang bersih (tulus). karena, bila hati kita bersih, pasti ga akan ada rasa curiga, prasangka, cemburu, iri hati, dengki, pertengkaran dll.

    Like

    • Mula-mula, terimakasih untuk kunjungan baliknya ya, Farrel…

      Jangankan di luar, Farrel, bahkan di Jawa sendiri masih banyak etnis Tionghoa yang masih susah hidupnya. Nggak usah jauh-jauh, di keluarga gwe juga ada kok yang masih harus susah payah buat makan. Boro-boro buat foya-foya.
      Gwe setuju bahwa yang penting kita harus bisa mengikis prasangka. Itu yang kemudian membuat orang jadi rasis dan diskriminatif.

      Like

      • gw suka sama kalimat pembukanya :p kaya mo pidato bro he he he… (kidding). gw setuju, pembauran akan menciptakan harmony. tapi pembauran itu ga akan terjadi kalo kedua belah pihak ga saling membuka diri…

        Like

      • Pembauran itu istilah yang dipake orba malah untuk memecah belah warga, Farrel… Arti kata pembauran sendiri artinya ada perbedaan yang dicampurkan dan membuat ciri khas sebuah etnis jadi hilang, sedangkan sebelum digembar gemborkan istilah tersebut, antar etnis bisa kok hidup bersama2 tanpa harus dibaur2kan…

        Gwe perempuan, bro… Heheheh…

        Like

  3. Gw turut prihatin atas kjadian yg menimpa klrga lo n mayoritas warga keturunan.

    Kbetulan di Mdn, gw tgl di kawasan yg mayoritas penduduknya Chinese.
    Walo rmh gw ga dijarah/dilemparin/dibakar, walo klrga gw ga ada yg jd korban kebejatan org2 laknat yg ga pnya hati itu, gw bs berempati dgn org2 yg ngalamin tragedi kemanusiaan itu.

    Mal di dkt rmh gw dijarah abis2an, ruko2 slain dijarah jg dibakar. Pd saat itu polisi ga bs brbuat apa2 karna massa yg sungguh beringas.
    Org2 seliweran di jn dpn rmh gw, gotong kulkas, tv, meja mkn, sampe semen n kaleng cat yg mrk jarah.

    Brp hari stlh itu byk org yg menawarkan brg2 yg mrk jarah ke bonyok gw dgn harga yg sangat miring (tentu aja bonyok gw ga mw beli brg hasil jarahan). Tmn2 skolah gw jg “jualan” blocknote, buku tulis, kertas HVS, dll yg brhasil mrk jarah. Gw beli blocknote, plg skolah dgn bangganya gw ceritain ke bokap klo gw beli blocknote merek “Paperline” dgn harga 1000 perak. Eh gw dimarahin abis2an ma bokap, dia blg haram hukumnya make brg jarahan (sprti yg gw blg, klrga gw religius, byq)

    Gw pribadi dlm khdpn shari2 berusaha untuk tidak diskriminasi thdp agama, golongan, suku, ras tertentu.
    Gw menghargai apapun pilihan lo, termasuk pilihan lo buat ga milih salah 1 agama pun, bahkan sesuatu yg ga bs lo pilih skalipun (trlahir di Indonesia, sbg warga keturunan, dll)

    Klo gw terusin, bs jd 1 postingan niy. hehe =)

    Like

    • Makasih ya… Hehehe… Tiba2 aja jadi emosional, kebanyakan baca informasi yang bikin geregetan sih… Terusin aja jd satu postingan, tar gwe komen… šŸ˜€

      Like