In Your Head!

Standard

Serius deh. Dulu gwe nggak ngerti apa gunanya melakukan blogwalking selain untuk nitip link di blog orang lain. Akhir-akhir ini gwe sangat senang melakukan blog walking karena dari blog walking itulah gwe bisa mendapatkan banyak informasi, dan menemukan banyak blog yang menarik dan menghibur gwe. Kebalikan dengan website lucu bin ajaib yang gwe temukan kemarin, hari ini gwe menemukan blog yang berisi ‘pencerahan’ buat gwe.

Beberapa orang teman, sangat suka kalau gwe menggunakan kata ‘pencerahan’, karena mereka mengira gwe sudah ‘kembali ke jalan yang benar’. Well… sayang sekali, padahal gwe berharap gwe bisa membawa mereka untuk mulai menempuh jalan yang benar. Sayangnya, gwe bukan misionaris yang berusaha membujuk dan mengusahakan segala cara dari baik-baik sampe cara paksa untuk membuat orang lain percaya dengan apa yang gwe percaya. Bukan?

Lalu apa yang gwe percaya?

Setiap kali Mama menanyakan hal ini, gwe selalu pengen ketawa sekaligus menangis. Beneran deh, ini pertanyaan selalu terdengar lucu, namun juga gwe kasihan sama Mama yang meskipun sudah menghabiskan lebih dari seperempat abad bersama Papa yang free thinker, masih nggak bisa mengadaptasi kemampuan Papa.

Gwe percaya pada hal-hal yang reasonable. Nggak susah kan untuk membuktikan sebuah kebenaran apabila ada bukti yang menyertainya? Buku panduan agama itu bukan bukti. Hanya karena tertulis begitu di buku itu, maka bukan berarti itu bener. Gwe bisa aja menulis buku, dan mengarang cerita bahwa dunia ini tercipta dari upil tuhan, tapi hal-hal fiksi semacam itu nggak bisa dijadikan bukti.

Dan ada apa dengan buku itu sih?

Bayangkan saja, untuk gampangnya. Untuk mengerjakan skripsi, gwe dituntut paling tidak membaca 20 buku dan lebih banyak lagi jurnal dan referensi. Apa sih gunanya skripsi? Skripsi hanya digunakan untuk bisa lulus s1. Kalau mau s2 bikin lagi deh satu thesis, dengan menggunakan lebih banyak lagi buku dan lebih banyak lagi referensi. Dan bagaimana mungkin orang-orang ini menggunakan hanya satu buku, udah outdated pula (berabad-abad nggak ada perbaikan) untuk HIDUP?

Mengenaskan.

Oh oh.. jangan mulai dengan debat. Gwe nggak memulai perang dengan mengatakan hal-hal semacam ini, karena menurut gwe, gwe hanya mempertanyakan. Apakah kemudian bertanya juga salah?

Kalau mempertanyakan sesuatu itu dianggap salah, maka apakah salah kalau gwe mengambil kesimpulan bahwa dalam agama, berpikir itu dilarang?

Advertisements

6 responses

  1. Nggak apa2 kamu mempertanyakan, asal jangan menuduh kami yang memilih untuk percaya sebagai orang2 yg menyedihkan :p Faith can never be explained by logic, that’s the way how it has always been. Tapi aku respek opini kamu dan berharap sebaliknya juga ^^

    Like

  2. hehe ngintip dari kontak di email yahoo.
    yg diikuti? ….hm agak susah sih, paling sama si eneng, yg reasonable, yg bisa dinalar. pokoknya kalo suatu ajaran cukup percaya diri untuk mengizinkan pengikutnya mempertanyakan ajaran itu beserta konsep2nya, biasanya itu tanda2 bagus.
    btw baca postingan terakhir donk (di link)…rada mellow karna lagi mellow tp.., is that a good way to adore the girl your love?

    Like

    • Link mu dibaca sebagai spam sama Akismet… haahahaha.. bego si akismet itu ternyata.
      Udah tuh udah ditanggapi… tiba-tiba otakku kecapekan abis komen dalam bahasa inggris…

      Like

  3. eh nitip link hihihi….

    jangan asal nuduh ya, saya sama sekali ga ngupil pas lagi cipta-mencipta 😀 tapi emang kadang orang mensakralkan sesuatu n menganggap sesuatu benar hanya karena sesuatu itu (baca “buku”) sudah tua. padahal, hanya karena ntu buku dah tua bukan berarti itu bener. yg jelas sih karena ketuaannya, n menceritakan hal2 yg tua2 juga jadi susah dibuktikan kebenaran maupun ketidakbenarannya, jadi dianggap benar…halahh!

    Like

    • Eeeeh… Situ kok bisa nyampe ke sini? Hahaha… Ngomongin soal yang tua… Km sendiri setuju bahwa yg tua belom tentu benar. Lalu mana yang harus diikuti?

      Like