Thomas, Uber dan Nasionalisme

Standard

Beberapa hari ini timeline gwe di twitter penuh dengan dukungan terhadap tim bulu tangkis Indonesia dalam memperebutkan piala Thomas dan Uber. (By the way, gwe merasa agak aneh kalau mengatakan piala “Thomas Cup” dan “Uber Cup”, karena arti “cup” itu sendiri adalah “piala”.)

Tim Piala Thomas Indonesia hari ini kalah oleh tim bulu tangkis Cina, yang berarti berakhir sudah perjuangan Tim Indonesia dalam memperebutkan piala kejuaraan bergengsi tersebut. Isi timeline gwe nggak jauh-jauh dari kekecewaan, dari kekecewaan terhadap menpora, terhadap pemainnya, termasuk kepada wasit yang bertugas untuk memimpin pertandingan tadi.


Beberapa komentar di twitter membuat gwe teringat sebuah film yang gwe tonton beberapa waktu yang lalu. Film ini berjudul “Invictus”, bercerita tentang Nelson Mandela (diperankan oleh Morgan Freeman) yang berusaha untuk menyatukan Afrika Selatan yang pada saat itu masih bergulat dengan isu apartheid dengan menggunakan olah raga rugbi. Melalui kapten rugbi Afrika Selatan (diperankan Matt Damon), tim Afsel yang semulanya hanya tim kelas bawah kemudian memenangkan kejuaraan dunia untuk rugbi. Kemenangan ini tidak hanya membuat pamor Afsel meningkat di mata dunia, namun juga membuat rakyat Afsel yang awalnya terpecah menjadi golongan hitam dan putih menjadi bersatu.

Olahraga itu benteng trakhir nasionalisme. Menang ato kalah, kita udah disatukan karenanya. – @mumualoha

Dalam film “Invictus” tersebut, presiden Nelson Mandela mengetahui bahwa apabila tim nasional Afsel bisa muncul ke kancah dunia, akan tumbuh rasa bangga rakyatnya sebagai warga negara. Baik itu warga negara yang berkulit hitam maupun warga negara yang berkulit putih akan duduk berdampingan mendukung tim negara mereka memperjuangkan harga diri bangsa.

Presiden Soekarno membangun Gelora Bung Karno (dulu kalau nggak salah, namanya Istora Senayan) untuk membangun kebanggaan tersebut, dengan membuat Indonesia terlihat layak untuk menjadi tuan rumah untuk event berkelas internasional.

Olahraga bisa menyatukan bangsa dan membangun nasionalisme. Presiden Soekarno tau persis hal ini. SBY, bagaimana? – @clara_ng

Pertanyaan ini bukannya pertanyaan yang kurang ajar, melainkan wajar mengingat betapa pentingnya olah raga. Bahkan pemerintah kota Solo membangun ulang Gelora Manahan, dengan menggunakan bahan bangunan terbaik sesuai dengan standar lapangan olah raga internasional dengan tujuan tersebut. Bukankah kelihatan hasilnya, rasa memiliki yang timbul dari warga Solo terhadap tim sepak bola mereka? Itu hanya contoh kecil saja.

Untuk penutup saja, waktu kecil dulu, menonton pertandingan Thomas Cup dan Uber Cup merupakan agenda wajib tahunan. Alih-alih menonton bersama Papa dan Mama di ruang depan, gwe bergabung dengan pekerja-pekerja konveksi kami di ruang nonton mereka, bersama dengan adik-adik gwe. Lebur dalam semangat dan kegembiraan (kalau menang) dan kekecewaan (kalau kalah) yang sama.

Beberapa tahun ini, entah mengapa, gwe tidak lagi merasakan hal yang sama. Tanya kenapa?

Advertisements

2 responses

  1. Hm.. jadi inget dulu juga entah kenapa aku rajin ikut nonton bulutangkis.. tapi sekarang bahkan ga nyadar kalo ada. Ahahaha.. dulu juga sekeluarga sering nonton bareng sih, tapi sekarang udah pada nggak lagi…

    Like