Bhinneka… Again!

Standard

Papa pernah bercerita bahwa pada masa kejatuhan komunis di Cina, Deng Xiaoping pernah mengatakan sebuah kalimat yang oleh papaku diingat sebagai pedoman apabila beliau mau memimpin negara. Which ga mungkin karena Papa anti main politik, dan lebih ga mungkin lagi karena, Papa pasti terlalu males buat kampanye dan ikut partai.

By the way, kalimat yang dimaksud adalah, “Tidak peduli kucing hitam, ataupun kucing putih, selama kucing tersebut bisa menangkap tikus, itu adalah kucing yang baik.” Artinya, pemerintah saat itu ingin mengatakan, entah dari golongan apapun, apabila ada warga negara yang bisa memberikan sumbangsihnya untuk kemajuan negara, maka dia adalah warga negara yang baik.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Percayalah para pembaca superbyq yang cerdas dan bermasa depan cerah, bahwa bybyq tidak pernah ingin mencela negara ini, sama seperti ketidakinginan makhluk baik hati ini menjelek-jelekkan kampus sendiri. Tetapi saya berbicara tentang fakta dan hanya fakta yang berbicara. (Jujur gwe agak merinding menulis blog dengan gaya sok serius kaya gitu). Perbedaanya adalah, gwe sayang dengan Indonesia, tapi gwe ga sayang dengan almamater gwe. Pchuih…

Hari ini, sempat ramai di timeline twitter, (Tentu saja, sebelum tergusur oleh berita Dian Sastro akan menikah) sebuah artikel tentang pelatih tim bulu tangkis Cina yang membawa generasi baru pebulutangkis Cina ke puncak peringkat dunia. Ternyata si pelatih ini, pernah menjadi WNA kelahiran Indonesia (Lampung, tepatnya), dan adalah orang yang berjasa besar dalam perbulutangkisan Indonesia.

Sebutlah nama-nama pemain bulu tangkis Indonesia, Alan Budikusuma, Ardy B Wiranata, Susy Susanti… Mereka yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional lahir dari tangan pelatih bernama Tong Sinfu ini. Bahkan berkat pelatih ini juga Indonesia memenangkan kejuaraan, dari Thomas Cup, Uber Cup, sampai olimpiade.

Lalu kenapa sekarang laki-laki hebat ini malah melatih tim nasional Cina?

Ternyata pada tahun 90an, permohonannya untuk menjadi WNI ditolak. Beliaupun meninggalkan Indonesia dan ditarik menjadi pelatih di sana. Sekarang lihat, bagaimana Lin Dan menghabisi Taufik Hidayat.

Cerita semacam ini pasti terdengar basi. Tentu saja, karena kejadian seperti yang dialami Tong Sinfu ini bukan hanya sekali dua kali saja. Berapa banyak Indonesia harus kehilangan orang-orang hebat hanya karena negara ini tidak mampu menghargai sumber daya manusia yang mereka miliki? Masih dari bidang olah raga bulu tangkis, ada yang ingat Mia Audina? Pebulutangkis ini “dibeli” oleh Belanda, pada akhirnya.

Atau, yang baru-baru ini terjadi? Ibu Sri Mulyani yang kemudian diingini oleh World Bank, sedangkan di rumah sendiri beliau dihujat dan dicacimaki oleh “wakil rakyat” (entah rakyat yang mana yang diwakili, karena sepanjang yang gwe liat suara rakyat di twitter mengatakan sebaliknya).

Masih ingat dengan engineer kita yang berjasa mendirikan IPTN? Oh, bapak BJ Habibie sekarang ada di Jerman, di mana kemampuannya sebagai ilmuwan dan akademisi diakui kompetensinya. Tentu saja setelah di Indonesia hanya dilihat sebagai “mantan presiden lungsuran orba”. Apakah sesulit itu untuk tahu bahwa ilmuwan dan politik itu dua hal dari dua dunia yang berbeda?

Nggak terbayang betapa banyak nama-nama lain lagi selain yang udah gwe sebutkan di atas. Sesulit itukah tidak melihat kucing hitam kucing putih? Sesulit itukah melihat jasa apa saja yang sudah mereka lakukan? Sesulit itukah memperjuangkan harga diri bangsa sendiri?

Masih ingatkah pada David Hartanto? Masih ingat sumbangan apa yang pernah dia berikan untuk mengharumkan nama Indonesia dengan memenangkan olimpiade fisika dunia? Kenapa harus negara tetangga yang menawarinya beasiswa? Dan ketika kasus kematiannya merebak, di mana perlindungan negara terhadapnya? Sekecil itukah arti warga negara pagi negara ini?

Atau hanya fakir miskin dan anak terlantar saja yang dipelihara oleh negara, dan sisanya tidak dipedulikan?

Advertisements

10 responses

  1. sama seperti ketidakinginan makhluk baik hati ini menjelek-jelekkan kampus sendiri.

    HAH? Masa?? Yang bener??

    Atau hanya fakir miskin dan anak terlantar saja yang dipelihara oleh negara

    Aduh, UUD jaman dulu banget ini –; Pasal 34 kan? Masih inget aja aku…

    Like

    • Tentu saja… Aku ga mau menjelek2kan almamaterku sendiri kan?! Itu kan karena aku peduli, makanya aku pengen ngebom menjadikan kampus ini menjadi lebih baik.

      Hahaha… Pasal 34, iyah… Skarang ada ayatnya tapi aku ga inget

      Like

  2. emg byk yg nilai si george kyk gt.
    mslh data2 yg dia ungkap valid atw ga, scientific atw ga, qt kesampingkan dulu.
    stidaknya dia BERANI membeberkan hal2 yg slama ini mgkn sbagian org awam tw, tp dipendam doank.
    byk jg yg blg klo dia barisan sakit hati sejak zaman orba, ok silahkan. itu kan pndapat mrk.
    td gw asal comot sampelnya dia.
    gt bro..

    Like

  3. postingan2 kyk gini slalu bwt gw “tergelitik” bwt komen byq drpd review2 film -_-”

    byk “org pintar” (dlm artian sesungguhnya, bkn dukun/paranormal lah ya =p) ga kpake di negara sndiri. sungguh memilukan.

    dr kalangan akademisi cukup byk klo gw hrs list satu persatu namanya.
    msh ingat donk penulis buku Gurita Cikeas ?
    Guru Besar di Indonesia kah dia ? oh..tidak trnyata.
    Keilmuannya justru ga diakui di sini.

    juara2 olimpiade internasional, “cuma” dpt tawaran masuk UI/ITB tanpa test, itu doank. Ga ada embel2 beasiswa dr pemerintah.
    Smntara di negara tetangga, mrk dpt beasiswa yg nominalnya bs bwt mrk emg bener2 fokus bljr, tnpa prlu nyari penghasilan tambahan dgn krja sampingan. klo beasiswa abis, mrk bs ajukan pinjaman lunak yg bs dilunasi pd saat mrk udh kerja di sana (sesuai kontrak)

    gw, dpt beasiswa dr pemerintah RI, yg jumlahnya bahkan ga cukup bwt byr SPP+biaya hidup gw shari2. see ? ga ada “penghargaan” bwt org yg notabene ikut partisipasi dlm upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
    Ga perlu gw curhat lbh panjang di sini tentang nasib gw n tmn2 seperjuangan gw -_-“.

    “hanya fakir miskin dan anak terlantar saja yang dipelihara oleh negara” (???)
    hey..klo mrk diurusin ama negara, ga bakal kliatan lg deh mrk di lampu2 merah, di bawah kolong jembatan, kejar2an ma satpol PP.
    Atw justru karna mereka “dipelihara” oleh negara makanya jumlahnya tiap hari makin byk yaak ? -_-”

    tanya kenapaaaaa…

    Like

    • Gurita Cikeas… Uhm…kalau menurut profesorku, Buku Gurita Cikeas sendiri nggak scientific dan harus dipertanyakan keabsahannya. Tapi mungkin apart from that dia adalah orang pintar yang harus di “pelihara” oleh negara? Gwe ga tau…

      Buat beberapa orang mungkin lo dan teman-teman lo dianggap sudah cukup beruntung. Tapi gwe tau, Jin, dibandingkan kesempatan dan kemurah-hatian yang ditawarkan oleh negara lain, akan terlihat betapa timpang penghargaan yang diberikan kepada kaum intelektual kita. (Haizzz)

      Nah, tuh udah ada sendiri jawabannya. Fakir miskin dan anak terlantar makin banyak karena dipelihara, kaum intelektual dan warga negara berbakat di berbagai bidang makin habis jumlahnya karena nggak dipelihara…

      Heheh….

      Like

  4. topik yang lumayan berat, tp gw suka he he he… orang” pemerintahan mungkin terlalu sibuk dengan urusannya yang ‘maha penting’. urusan tetek bengek yg menjadi hak warga negara jd sering terabaikan. jd mungkin kita kudu bs mengurus diri sendiri bro…. huft.

    Like

    • Bro… Saya yakin kita nggak takut kalau disuruh mengurus diri sendiri. Tapi bahkan kadang mau ngurus diri sendiri saja dipersulit. Cari uang sendiri, dipersulit. Buka usaha sendiri, dipersulit. Lho ini bagaimana?

      Like