E D U

Standard

Beberapa minggu yang lalu gwe menulis review tentang sebuah film berjudul “An Education”. Ya, ya, gwe tahu beberapa orang memang sengaja men-skip bagian review-review itu, mungkin karena nggak penting, atau karena ditulis dalam bahasa Inggris. Atau… Karena reviewnya ditulis dengan bahasa Inggris yang berantakan, jadi bikin males.

Apapun itu lah. Sebenernya film ini nggak terlalu populer, menurut gwe. Hampir tidak ada satupun aktris maupun aktor yang gwe kenal di sana.tentu saja gwe hanya mengenal beberapa selebriti yang terkenal. Kami biasa clubbing bareng di club Paris dengan Paris Hilton Dan sepanjang yang gwe tahu, nggak banyak orang yang membicarakan film ini. Intinya ini bukan film box office deh, lalu kenapa gwe suka film ini?


Yang menjadi kekuatan film ini adalah pesan yang dibawakannya. Tidak menggurui, tidak menasehati, tapi membantu kita untuk sebenarnya mempertanyakan sepenting apa pendidikan itu sebenarnya?

Sepanjang hidup gwe, bukan hanya sekali dua kali gwe mendapati teman-teman yang meninggalkan pendidikan mereka. Alasannya klasik, tentu saja, pendidikan tidak akan membuat lo jadi orang kaya. Lihat bagaimana beberapa orang mundur dari peradaban dengan menyederhanakan tujuan hidup mereka hanya berupa kebutuhan-kebutuhan dasar saja?

Ada yang tujuan hidupnya cuma kawin dan beranak lah… Ada yang tujuan hidupnya cuma banyak uang lah. Barangkali si Maslow itu salah dengan mengatakan bahwa ada lima tingkat hirarki kebutuhan manusia. Mungkin “Teori Kebutuhan” itu memang membutuhkan revisi besar-besaran oleh peneliti sosial semacam *ehem*gwe*ehem*.

“An Education” bercerita tentang bagaimana pendidikan dilihat dari berbagai kacamata. Penting tidaknya, dan apa pengaruhnya dalam kehidupan seseorang. Gwe pun mau tidak mau teringat lagi tentang cerita film ini ketika hari ini gwe mulai membaca buku keempat tetralogi “Pulau Buru” yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, “Rumah Kaca”.

Berbulan-bulan terjun di dunia posting memposting di berbagai forum, mau tidak mau gwe berhadapan dengan banyak jenis orang. Pertanyaan-pertanyaan seputar pendidikan pun tidak luput dari pembicaraan di forum-forum ini. Topik yang berulang kali gwe dengar dari mulut teman-teman gwe dulu pun, kini bergema lagi melalui media yang berbeda. Internet.

Apakah penting gelar sarjana itu? Seberapa penting? School smart tidak ada gunanya tanpa Street smart? Benarkah? Benarkah? Benarkah?

Mengintip buku Pram, betapa orang besar macam beliau pun setuju bahwa tanpa pendidikan, bangsa kita hanyalah sekumpulan orang bodoh yang diperbudak oleh kolonialis. Tanpa kaum intelektual, bangsa kita ini cuma orang-orang kasar yang bekerja dengan otot dan dipecundangi mereka yang berotak. Memangnya Indonesia merdeka karena bambu runcing? Indonesia merdeka karena kaum terdidik melakukan diplomasi politik.

Dan setelah merdeka, dan pendidikan menjadi mudah diperoleh (setidaknya lebih mudah daripada sebelum kemerdekaan) kenapa tiba-tiba lo pada jadi tunduk sama orang Jepang bernama Robert T Kiyosaki dengan buku “Rich Dad Poor Dad” nya, mengatakan bahwa “gelar sarjana tidak membuat lo kaya”. Ya. Gelar sarjana nggak akan bisa kasih lo makan dan ga bisa memberi lo mobil. Lalu?

Berdebat dengan mereka yang tidak peduli dengan pendidikan, sama saja memaksakan musik kepada mereka yang tuli, dan memperkenalkan lukisan kepada mereka yang buta. Gwe tidak mengatakan bahwa gelar adalah segalanya, dan merupakan urusan hidup dan mati. Tapi meremehkan pendidikan?

Gwe cuma bisa ketawa setiap kali ada yang mengambil contoh Bill Gates yang jadi kaya tanpa gelar, dan mereka yang punya gelar cuma jadi pegawainya Microsoft. Heh! Ada berapa orang Bill Gates sih di dunia? Mungkin ini adalah hasil penelitian serampangan yang dibuat hanya sebagai pembenaran mereka yang memang tidak peduli saja.

Bikin lah rasio perbandingan, kalau mau tahu jumlah pastinya, jangan cuma si Bill lagi si Bill lagi yang jadi contoh. Kenapa ga ambil contoh Madame Currie, Einstein, AB Nobel? Heheheh…

Again… Gwe memperdengarkan musik pada yang tuli… Maaf, hanya kewajiban moral saja…

Advertisements

Comments are closed.