Gwe Aku Saya Bybyq

Standard

Jalan-jalan sana sini, menemukan banyak blog-blog bagus yang seru untuk dibaca dan (kadang) dikomenin. Lagi-lagi blogwalking membawa pelajaran baru untuk gwe. Atau setidaknya meskipun belum mulai mempelajari apapun, gwe mulai melihat sesuatu untuk gwe pertanyakan, dan kemudian gwe pikirkan.
Jadi beginilah ceritanya…

Setelah dipikir dan dirasa, mungkin ada baiknya gwe meninggalkan kebiasaan menggunakan bahasa slang, seperti “gwe”, “lo”, dan lain sebagainya di blog. Pertimbangan gwe, tentu saja gwe bukannya sedang mengikut trend… (Trend apa pula coba?) tau sendiri gwe agak anti-trend…

Semua ini berawal dari google translator yang ada di browser gwe. Pas gwe lagi ngecek blog gwe sendiri, tiba-tiba muncullah bar di bagian atas browser menanyakan apakah gwe mau menerjamahkan laman ini. (Laman? That’s so lame… Laman… Lame.) Well, it almost rhymes.

Ga penting.

Intinya adalah… Saat gwe mentranslate laman… Aaargh! Gwe nggak suka pake kata laman!

*tarik nafas* *buang nafas* *mencoba normal*

Jadi waktu gwe mentranslate blog gwe, ternyata hasil terjemahannya jadi aneh! Terutama karena gwe menggunakan kata “gwe” yang nggak ada di kamus bahasa Indonesia. “Gwe” bahkan tidak bisa dikategorikan sebagai kata benda atau kata kerja. Coba deh, kalo ada yang iseng, pake google translate buat menerjemahkan… Pasti aneh…

Lalu gwe melanglang buana, mencoba menerjemahkan blog-blog orang lain pakai mainan yang sama. Ternyata blog orang lain yang pake “saya” dan “aku” instead of “gwe” mendapatkan hasil yang nggak terlalu aneh!!

Luar biasa!

Gwe terkejut!

Gwe pun curiga bahwa penggunaan kata ganti orang pertama tunggal (percaya deh, waktu SMA pelajaran bahasa Indonesia gwe bagus), sangat mempengaruhi hasil translate. Jadi gwe sempet berpikir apakah gwe sebaiknya mulai ber “aku” atau ber “saya”? Ide yang cukup brilian, bukan?

Ditambah lagi penggunaan “saya” dan “aku” lebih universal daripada “gwe”, mengingat nggak semua orang nyaman dengan kata “gwe”. Tapi untuk mengubah style menulis itu kan nggak gampang. Pasti nanti aku… (Tuh kan geli sendiri) jadi kagok nulisnya. Atau apakah nanti menjadi bisa karena biasa?

Well… Untuk awalnya, baiklah kita tentukan dulu… “Aku”? “Saya”? “Gwe”? Atau “Bybyq”?

Advertisements

9 responses

    • Hla… ini…

      Bener juga yah, tapi kalo Rangga Nicsap mampir ke sini dan nanya kaya gitu, musti dijawab apa dong? Udah lupa dialognya Cinta Distro waktu itu sih…

      Like

    • Baru nyadar ternyata linkmu itu dibaca spam sama Akismet, pantes kemaren musti tak approve dulu… hahaha…

      Blog ku biasa-biasa saja, sederhana dan nggak sombong tentunya. 😀 tapi makasih link nya yah, udah sering mendengar nasehat yang sama seperti yang di blog itu di forum2 luar dulu… kamu baik sekali…

      Like