Sisters!

Standard

Beberapa hari yang lalu gwe baru diceritain sama si Mon tentang aturan keluarga yang sudah gwe lupakan. Well, beberapa bulan terakhir ini, gwe sempat memikirkan sebuah pertanyaan, dan ternyata sebuah pembicaraan kecil dengan adik bisa memberikan gwe jawaban yang lebih dari cukup memuaskan. Tau gitu, dari awal gwe nanya sama dia kan? Daripada pusing sendiri…

Eniwei, inilah pertanyaan yang berbulan-bulan mengganggu gwe.

Gwe ini empat bersaudara. Tiga diantara kami cewek. Selama ini gwe selalu melihat bahwa sisterhood bond is stronger than mother-daughter. Lebai sih, tapi mungkin itu adalah gambaran yang paling tepat mendeskripsikan bagaimana sebuah hubungan persaudarian. Atau setidaknya, satu kalimat itu mampu menggambarkan apa yang gwe rasain selama ini.

Nggak mungkin dalam sebuah hubungan tidak terjadi konflik sedikitpun. Begitu pula hubungan dengan saudari. Gwe, Mon dan La, pasti pernah punya konflik satu dengan yang lain. Tapi entah kenapa, meskipun ada konflik besar terjadi, nggak pernah jadi masalah besar antara kami. Bukan nyombong, tapi rupa-rupanya ini fenomenal.

Empat dari lima orang teman cewe yang punya saudari, nggak akur sama saudarinya. Skala ketidak akuran itu beragam, ada kalanya bentuk ketidak akuran itu menjurus ke tindakan berbahaya. Misalnya: sibling rivalry yang menjurus ke nemesis.

Nemesis, bayangin. She’s your sister and your nemesis at once. So sad.

Gwe ga tau bagaimana ini berlangsung di hubungan brotherhood yah. Gwe kira brotherhood pun mungkin mengalami masalah yang sama di sini, dan gwe ga mengerti di mana permasalahannya. Dan karena gwe kepo dan penasaran, gwe mencoba membuat penelitian kecil-kecilan. Sederhana, dan mungkin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar saja.

Mengapa hubungan persaudaraan rusak, dan menjadi permusuhan?

1. Iri
Iri adalah sumber permusuhan di seluruh dunia. Percaya deh, iri itu bener-bener musuh kebaikan. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa jadi sifat dasar si anak yang kompetitif, bisa jadi karena memang anak tersebut merasa mendapat perlakuan yang berbeda dari orang tua mereka.
Menurut gwe, adalah manusiawi kalau orang tua memiliki kecenderungan untuk memfavoritkan salah satu anaknya. Meskipun demikian, bersikap adil dengan memberikan apa yang menjadi hak setiap anak adalah wajib. Kalau kakak dapat uang jajan, adik juga dapat. Kalau kakak dapat baju baru, adik juga dapat. Kalau adik salah dihukum, kalau kakak salah juga harus kena hukuman. Kalau kakak dapat nilai bagus dapat pujian, maka kalau adik melakukan hal yang sama juga harus dipuji dengan bobot yang sama.
Setidaknya orang tua gwe, meskipun gwe dengan kesadaran mengatakan bahwa mereka memiliki favorit masing-masing, tapi berusaha dengan bijak tidak memberikan perlakuan istimewa kepada salah satu dari kami.
Gwe memiliki sifat lebih kompetitif dibandingan kedua adik gwe. Meskipun sifat kompetitif itu tidak dominan, tapi dapat gwe jadikan contoh. Gwe mudah iri, sejak kecil gwe suka ga seneng kalau adik gwe mendapatkan lebih. Tapi orang tua gwe akan langsung marah kalau gwe mulai menunjukkan rasa iri itu. She’s my sister, we protect each other, bukan menjatuhkan.

2. Ini Bukan Punyaku, Ini Bukan Punyamu
Saat kecil, kami tidak punya barang pribadi. Gwe baru tau tentang ini kemarin, saat ngobrol sama Mon. Bokap gwe melarang kami punya benda pribadi. Terutama benda-benda tertentu.
Di saat anak-anak lain mengatakan sesuatu dengan bentuk kalimat kepemilikan, “ini sepedaku, ini bukuku, ini tiviku, ini rumahku…” Kami ditekankan penggunaan kata “kita” dan “kami”. Rumah kami, buku kami, komputer kami, kamar kami. Oh ya, kami punya satu komputer saja, dan satu kamar untuk bertiga sampai kami lulus SMA.
Kami berbagi fasilitas di rumah, dan kami harus bisa mengatur agar kami semua bisa menikmatinya tanpa ada yang merasa dirugikan. Dua puluh tahun sudah berlalu, kami terlanjur terbiasa ber “kami” “kami”.

3. Privacy
Orang tua kami tidak mengajarkan apapun tentang privacy. Tapi itu muncul dengan sendirinya saat kami berbagi kamar. Hey! Kalau tidak belajar beradaptasi dengan hal-hal semacam itu, bagaimana mungkin gwe bisa pacaran di telepon dengan dua adik di kamar yang sama? Tolong ya!
Okay. Gwe memang kepo, tapi gwe ga akan membuka laci adik gwe meskipun kami berada di kamar yang sama. Adik gwe juga ga norak cuit cuit waktu gwe telponan sama orang. Intinya adalah, meskipun lo tinggal di atap yang sama dengan seseorang, belom tentu lo tau semua tentang orang itu. You can ask, but she will only tell you when she feels like she wants it.

4. Don’t Hate The Person
Sifat gwe yang keras semasa kecil sering membuat gwe bentrok dengan banyak orang. Adik gwe salah satunya. Beberapa kali gwe bilang sama Papa bahwa gwe benci sama adik gwe itu, tapi Papa selalu bilang bahwa gwe ga boleh benci sama adik gwe. Menurut Papa, you can’t hate your own blood, even if you try to do it, you just can’t.
Imperfection is humane. Ga ada gading yang ga retak. Ga ada manusia yang menyebalkan. Dua individu dengan dua otak, pasti akan mengalami gesekan suatu waktu, dan suatu ketika saat gesekan itu terjadi, all you want to do is hate. And how to deal with it once it happens?
Papa bilang, “jangan benci orangnya. Bencilah perbuatannya. Suatu hari kalau dia nggak melakukan perbuatan itu lagi, bencinya harus sudah hilang juga. Kalau sama prangnya harus sayang…”
Kenapa?
Because she’s your sister.

.

.

She’s my sister. They’re my sister. Gwe ga ngerti banyak orang benci sama saudarinya sendiri… And should I ask you why?

Advertisements

5 responses

  1. nice post bro… bagaimanapun damai memang selalu indah. apalagi dengan sodara sendiri itu lebih utama… btw, kalo bisa ukuran dan jenis huruf buat postingan berikutnya tolong diganti ya, biar lebih nyaman dibaca dan ga bikin pusing. ukurannya terlalu kecil bro, kadang bikin aku jadi males membacanya secara lebih detail.

    Like

    • Kekecilan yah? Hehehe… Ga tau nih begitu diupdate themesnya jd berubah gt. Ntar coba diubah deh…
      Btw, gwe kan cewe, femme pula, jangan Bro dong manggilnya -_-”

      Like