It Is Your Dream

Standard

Pernah nggak sih lo punya mimpi? Well… Jangan pake istilah “mimpi” deh, nanti dikira ngikutin gayanya orang-orang MLM, lagi… Hmm, bagaimana kalau gwe menggunakan istilah “cita-cita”?

Iyah… “Cita-cita”, seperti yang ada di lagunya Susan Ingin Jadi Dokter itu loh. Itu loh, yang ada di album kenangan semasa SD waktu lo lagi menulis biodata dan kesan pesan. Itu loh, yang selalu ditanyain om dan tante sewaktu lo masih kecil, dan mulai tidak ditanyakan lagi saat lo beranjak dewasa. Iyah, cita-cita yang itu…


Sebagian dari kalian mungkin adalah mereka yang beruntung karena menemukan jalan untuk mendapatkan cita-cita itu. Sebagian yang lain masih mencari tahu cita-cita mereka. Sebagian lagi, mungkin menukar cita-cita mereka dengan “mimpi” berupa uang dan pekerjaan. Sebagian lain yang punya “cita-cita” sederhana sudah mencapainya.

Sebagian yang kurang beruntung, harus mengubur cita-citanya dalam-dalam. Yang lain, yang tidak rela menerima nasib, akhirnya memaksakan cita-cita mereka ke anak cucu *memandang iba para anak2 yang dieksploitasi orang tuanya di ajang talent show balita*.

Dan di Solo, sering kali gwe melihatnya seperti kuburan cita-cita.

Sekolah ke Jogja, ambil s2 bisnis internasional, berakhir di toko mainan milik orang tua. Sekolah jauh-jauh ke Singapura, berakhir di pabrik orang tua. Belajar bahasa jauh-jauh sampai ke China, berakhir sebagai guru les rumahan. Padahal gwe kenal mereka sejak SMA, gwe tau bukan itu yang mereka inginkan. Mereka ingin sesuatu yang lain.

Bagaimana bila…

Lo punya satu cita-cita yang benar-benar ingin lo capai. Kemudian, karena satu dan lain hal, lo memutuskan bahwa itu cuma angan-angan yang tidak mungkin terlaksana. Setelah itu, dengan pemikiran semacam itu, lo menyerah dan menguburkan cita-cita itu. Sampai suatu hari lo melihat orang lain yang melakukan apa yang ingin lo lakuin. Menyelesaikan apa yang lo udah mulai.

Seperti lo yang memulai di garis start, tapi orang lain yang melewati garis finish, sedangkan lo hanya berlari mundur ke garis start karena merasa finish itu tidak bisa diraih.

..

.

Bagaimana?

Advertisements

2 responses

  1. wkt msh kecil gw bercita2 jd dokter. jgn ketawa lo byq -_-” **ngancam**. sbuah cita2 yg sangat mulia dan sangat diidam2kan oleh sbagian besar orgtua pd masa itu (dan masa skrg jg gw rasa =D)
    prstasi di skolah dr SD sampe SMA cukup membanggakan dan rasa2nya gw bakal bs mewujudkan cita2 itu.
    Ok, gw tw mgkn lo rada ga prcaya dgn yg namanya takdir. Mimpi gw pupus di saat pengumuman UMPTN pd saat itu, gw ga lulus di fakultas kedokteran di daerah asal gw, malah lulus di pilihan ketiga, di Fisip suatu universitas negri kota P yg jujur pd saat itu gw sndiri baru dgr namanya pas ngisi form pndaftaran UMPTN. Pilihan asal2an yg justru “menjerumuskan” gw ke dunia pendidikan.Mnjadi seorang pengajar jauh skali dr cita2 gw dulu kan..Tp inilah jln yg dipilihkan Tuhan bwt gw, dgn kata lain ini takdir gw (sory gw ngomong KETUHANAN di sini, byq).
    Gw ga prnh menyesal dgn apa yg gw jlni skrg, justru gw bersyukur. Mgkn klo dulu gw lulus di fakultas kedokteran, bs jd gw mengalami kesulitan dlm menyelesaikan kuliah sprti yg dialami tmn2 gw.
    Klo nyokap gw msh idup, aahh…pasti dia bangga liat gw. Mnjadi dosen BUKAN hal yg memalukan wlo itu ga sesuai dgn cita2 gw dan cita2 bonyok jg, sama halnya dgn menjadi guru les, bekerja di pabrik atau toko mainan. Gw brusaha melihat ini dr sudut pandang yg berbeda. Tidak dpt mewujudkan cita2 pribadi tp mampu membahagiakan orgtua, sangat mulia di mata gw.

    Like

    • Ah… Lo ga menangkap kata2 gwe sih. Membanggakan orang tua. Gwe pernah punya pengalaman dengan itu, dan gwe salah. Satu2nya yg bikin orang tua bahagia adalah melihat anaknya bahagia. Kebanggaan itu adalah bonus.

      Itu yang dikatakan bokap gwe, saat gwe nangis darah bilang sama beliau gwe ga sanggup lagi kuliah di bidang yg dia pilihin buat gwe dulu. Now while I’m chasing a new dream, Papa ga kurang bangganya kok…

      Bayangkan kebanggaan orang tua memiliki anak yang tangguh, berkemauan kuat dan punya ambisi dan passion untuk mencapainya (dan APALAGI berhasil mencapainya). I’m on my way, bukan kebanggaan instan untuk ortu, tapi kebanggaan beneran untuk mereka dan kebahagiaan murni buat gwe. Caelah…

      Like