Monthly Archives: June 2010

Once Upon A Time In Solo, With My Grandfather

Standard

Gara-gara menonton pertunjukan seni budaya Tionghoa beberapa hari yang lalu, saya jadi teringat kakek saya. Jujur saja, kakek saya adalah satu dari sedikit (atau mungkin malah satu-satunya) orang yang mendekatkan seni dan budaya kepada saya. Seni dan budaya Tionghoa, salah satunya.

Kakek saya mencintai seni dan budaya, dan juga olah raga. Kepada kami, dia mengajarkan sesuatu yang lepas dari kawalan Papa dan Mama yang lebih menekankan nilai-nilai akademis. Kakek saya menghargai lukisan kanak-kanak yang kami buat. Kakek saya suka menyanyi dan mendengarkan saya bermain organ di rumah. Beliau juga yang pertama mengajarkan kami tenis dan berenang.

Read the rest of this entry

Advertisements

Pertunjukan Seni dan Budaya Tionghoa, di Gedung Kesenian Jakarta, 26 Juni 2010

Standard

Beberapa hari yang lalu, saya dan kedua adik saya pergi ke GKJ untuk menonton pertunjukan seni budaya Tionghoa. Pertunjukan ini diadakan dalam rangka merayakan hari ulang tahun kota Jakarta. Saya pikir karena acara ini adalah bagian dari sebuah perhelatan besar ibu kota, maka seharusnya juga dikemas dengan baik.

Ternyata rupanya saya berharap terlalu tinggi bahwa kota Jakarta memiliki visi untuk memamerkan image kebudayaannya dengan lebih baik. Acara yang seharusnya bisa menarik ini tidak dipromosikan dengan baik, buktinya malam minggu itu kursi-kursi tidak terisi penuh. Saya curiga, pamor acara ulang tahun Jakarta tenggelam oleh Piala Dunia, bahkan di mata warganya sendiri.

Read the rest of this entry

Kalau Bybyq Ngomong Jahat

Standard

Harus diakui bahwa saya memang tidak terlalu pandai bermanis mulut, apalagi kepada orang-orang terdekat saya. Tanpa mengurangi respek saya kepada mereka, sering kali saya berbicara cenderung tanpa filter. Jujur saja, gaya bicara saya cenderung pedas dan menusuk, atau minimal saat mood saya sedang tidak terlalu buruk, saya menyindir dengan sangat menyebalkan.

Meskipun demikian, kalau tidak dalam keadaan terpaksa, dan kalau emosi saya tidak dipancing sedemikian dahsyatnya saya hampir dibilang tidak pernah memaki dengan kata kasar. Menurut saya, setidaknya itulah perbedaan saya dalam mengungkapkan kekesalan. Saya nyaman dengan apa yang saya lakukan, dan cukup puas dengan kemampuan saya menahan diri untuk melakukan itu.

Read the rest of this entry

Bybyq Sedang Marah

Standard

Sebenarnya menulis skripsi tidak semenyiksa itu apabila… hm… tidak semenyiksa itu.

Serius. Saya tidak sedang menghibur diri dengan membuat pernyataan yang mungkin bertentangan di kepala banyak orang. Memang semua orang harus menjalani proses mengerjakan tugas akhir ini, bukan? Saya melihat adik saya yang mengerjakan tugas akhirnya berupa proyek yang menurut saya jauh lebih dekat dengan penyiksaan dan pembantaian, daripada skripsi yang notabene tugasnya hanya menulis saja.

Tapi kejadian-kejadian yang saya alami selama proses pembuatan skripsi saya ini membuat saya menjadi berpikir bahwa sebenarnya ada sebuah konspirasi. Konspirasi yang sengaja dibuat untuk menjegal saya menuju ke ruang sidang. Untuk mengagalkan saya lulus dari kampus itu.

Read the rest of this entry

Satu Hari

Standard

Beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran pekerjaan untuk menulis, oleh salah seorang yang saya kenal dari sebuah forum dulu. Baru kali ini lho, saya mendapatkan tawaran untuk menulis, dan apalagi ternyata calon klien saya baik hati dan sangat sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang newbie dalam bidang freelancing ini.

Akhirnya saya diberi waktu bebas untuk menulis, dan bebas menentukan topik apa yang saya inginkan. Saking kepengennya saya mendapatkan pekerjaan ini, saya membutuhkan berhari-hari untuk berpikir dan mengulang-ulang pekerjaan yang sama. Tentu saja di sela-sela mengerjakan skripsi yang menyiksa, pekerjaan ini malah menjadi semacam hiburan yang menyenangkan.

Read the rest of this entry

Kader

Standard

Saya sedang tidak salah tulis. Kader. Bukan “keder” atau “kades”, karena tentu saja artinya sangat lain. Mungkin itulah gunanya editor supaya salah ketik yang dapat mengubah arti secara keseluruhan seperti itu dapat dihindarkan. Dan saya memang harus mulai belajar untuk tidak terlalu sering melantur kemana-mana saat sedang menulis sesuatu. Saya kan sedang ingin membicarakan “kader”.

Mungkin beberapa sudah familiar dengan kata ini. Mengingatkan pada orang-orang yang aktif dalam partai politik atau juga pemerintahan. Ada apa sih, si Bybyq ini tiba-tiba membicarakan urusan politik dan pemerintahan? Tidak biasanya…

Read the rest of this entry

Real Human is Living It

Standard

Menjalani kehidupan sendiri tentu saja berbeda rasanya dengan melihat kehidupan orang lain. Sering kali kita melihat di televisi, membaca di surat kabar maupun di blog seseorang kehidupan orang lain yang ada di sana. Mungkin saat membaca di sana, kita merasakan sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang salah, dan tidak sesuai, tapi kita tidak tahu apa itu.

Mengekspos kehidupan pribadi seseorang hanya dari satu sisi saja membuat ketidak seimbangan yang bagi beberapa orang terasa janggal dan kurang manusiawi. Beberapa blog hanya berisi keluh kesah dan sedu sedan, blog lainnya membuat pembacanya merasa muak dengan tidak adanya empati terhadap kehidupan nyata karena terlalu mengekspos kehidupan hedon dan glamor bak cerita sinetron.

Read the rest of this entry

Bybyq Menulis (2)

Standard

Bagi saya, menulis blog tidak sama dengan menulis di media massa. Tentu saja karena tujuannya sendiri berbeda. Pertanyaannya adalah, apakah seorang penulis blog harus menulis demi pembacanya? Atau pembaca yang menyesuaikan dengan tulisan di blog tersebut? Apa arti blog tanpa pembaca? Dan apa arti pembaca tanpa blog yang dibaca?

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah obrolan ringan bersama dua orang teman di YM, saya baru mengetahui ada ‘gosip’ di lingkungan LBlogger. Salah seorang penulis yang blog-nya cukup ramai akhir-akhir ini (katanya) ditinggalkan oleh pembacanya karena apa yang ditulisnya di blog beberapa hari sebelumnya. Karena penasaran, saya pun mencoba mencari tahu, tulisan semacam apa sih yang membuat pembaca sampai kabur?

Read the rest of this entry

Membahasakan Saya

Standard

Ternyata tidak mudah untuk tetap mengubah kebiasaan saya menggunakan kata ganti pertama “gwe” dengan “saya”. Padahal itu baru permulaan saya memperbaiki tata penulisan saya dalam blog ini. Belum apa-apa saya sudah mendapat teguran ibu editor di tulisan sebelumnya, karena saya kelepasan menggunakan satu kata “gwe” di sana.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menggunakan “gwe”, karena di blog lain saya juga masih menggunakan itu. Tapi memulai sebuah kebiasaan baru memang tidak semudah yang saya bayangkan. Hal ini berlaku tidak hanya dalam menulis saja, namun juga dalam hal-hal lain yang saya lakukan sehari-hari.

Read the rest of this entry

Bybyq Menulis

Standard

Mengapa saya menulis?

Sebenarnya saya punya masalah dengan komitmen menulis dan juga konsistensi dalam menjalankan komitmen tersebut. Saya punya puluhan buku tulis yang seyogianya saya gunakan sebagai jurnal, namun berakhir bahkan sebelum setengahnya terisi. Bahkan untuk menulis fiksi, hanya empat atau lima judul sajalah yang sempat benar-benar saya selesaikan. Ratusan judul lain berakhir sebelum bab tiga rampung, sebagian di antaranya hanya berhenti di prolog.

Saya sendiri kagum dengan keberanian saya memilih skripsi sebagai bentuk tugas akhir saya, di mana komitmen dan konsistensi adalah faktor penting yang menentukan akhir perjuangan saya memperoleh gelar sarjana. Dan dari keduanya itu (komitmen dan konsistensi), tidak ada satupun yang saya kuasai dengan baik.

Read the rest of this entry