Pro Life? Pro Choice?

Standard

Beberapa kali gwe berhadapan dengan diskusi (cenderung berubah arah menjadi debat) tentang aborsi. Partisipan diskusi akan kemudian terbagi menjadi dua kubu, yaitu yang menentang aborsi dan mereka yang tidak menentang aborsi. Well… Gwe ga akan mengatakan mereka sebagai pendukung aborsi, karena memang pada kenyataanya mereka tidak mendukung aborsi, melainkan tidak menentang.

Masing-masing tentu saja memiliki alasan mereka masing-masing. Yang menentang, biasanya diwakili oleh golongan pro life, yang mengatakan bahwa melakukan aborsi adalah tidakan pembunuhan, atau penghilangan nyawa. Sedangkan yang tidak menentang, biasanya diwakili oleh golongan pro choice, beralasan bahwa perempuan memiliki hak atas dirinya, dan apapun yang ada di dalamnya (dalam hal ini fetus).

Gwe?

Gwe tidak mengatakan kalau gwe ini pro choice, namun demikian gwe tidak menentang aborsi. Beberapa hal secara prinsip gwe memang lebih berpihak kepada mereka yang pro choice, tapi alasan gwe lebih bersifat pribadi. Intinya gwe tidak menentang aborsi, cenderung setuju apabila aborsi dilegalkan secara hukum, dan diawasi sepenuhnya oleh negara.

Sebelum gwe dicaci dan dimaki oleh mereka yang pro life, gwe mau melakukan pembelaan terlebih dahulu.

Sekali lagi, gwe bukan pro choice, meskipun gwe setuju bahwa sebenarnya perempuan berhak menentukan apa yang terjadi pada tubuh mereka. Tapi sayangnya alasan pro-choice itu sering kali menjadi bumerang apabila alasan itu digunakan oleh perempuan yang tidak bertanggung jawab. Instead of doing safe sex, they use abortion as a contraception. Nah, kalo itu gwe ga setuju.

Tapi legalisasi aborsi tetap harus dilakukan, karena:

1. Dengan tidak adanya legalisasi terhadap aborsi, kegiatan aborsi yang dilakukan secara gelap justru membahayakan bagi para pelaku aborsi. Bayangkan betapa banyak klinik aborsi memakan korban karena “dukun aborsi” tidak memiliki kemampuan yang mencukupi, bahkan tidak memiliki fasilitas memadai dan kebersihan yang baik. Melakukan aborsi secara gelap seperti ini justru malah membahayakan, selain karena kurangnya kemampuan dokter dan minimnya fasilitas, jumlah aborsi tidak bisa dikontrol dan diawasi.

2. Sering kali terjadi kasus di mana perempuan tidak menginginkan kehamilan itu dikarenakan kasus pemerkosaan. Banyak yang mengatakan bahwa itu bukan kesalahan si anak, tapi berapa banyak yang berani mengatakan bahwa itu juga bukan kesalahan si perempuan yang hamil. Apakah si pemerkosa harus mengalami kehamilan? Apakah si pemerkosa harus menghadapi malu seumur hidup? Apakah si pemerkosa harus menanggung luka batin seumur hidup? Anak hasil pemerkosaan adalah garam pada luka batin seorang perempuan yang akan dirasainya seumur hidup apabila dilahirkan.

3. Ibu tidak siap untuk menjadi ibu. Berapa banyak anak yang dilahirkan hanya untuk kemudian dibuang? Yang apes mungkin dibuang di sungai hingga mati tenggelam. Yang lain mungkin ditinggalkan di tengah jalan menunggu ditemukan. Yang sedikit beruntung mungkin ditinggal di rumah sakit atau dibuang ke panti asuhan. Yang bernasib baik diangkat anak oleh keluarga kaya dan mengubah nasib. Yang kemudian besar di kolong jembatan, hidup dengan penolakan sejak bayi akan cacat batin seumur hidup dan kemungkinan besar mengikrarkan diri menjadi sampah masyarakat seumur hidup, dan mencetak bayi-bayi lain yang senasib dengannya. Lalu apa?

.

Sebagai penutup…

Pernah mendengar pertanyaan tentang, “kenapa bayi menangis saat lahir ke dunia?”

Dalam film “Pintu Terlarang” yang disutradarai oleh Joko Anwar, sang tokoh utama mengatakan bahwa, “Tidak ada satu bayipun ingin dilahirkan ke dunia. Beberapa ibu dimaafkan karena memperlakukan anak-anak mereka dengan baik.”

Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain?

Advertisements

5 responses

  1. Pingback: Pro Life? Pro Choice? (pt. 2) | SuperByq

  2. hahaha!! soe hok gie itu hero nya soe the blogwalker (ada posting soal itu d blog saya, eits!! bukan ngiklan!!) soal pro choice ato pro life…. saya cenderung pro life. makanyaaa, saya hati2 sekali urusan anak beranak ini. Jangan sampe saya yang sembrono, anak saya yang harus membayar 🙂 btw, thank’s atas kunjungn baliknya, bener-bener kilat!!

    Like

    • Soe penggemarnya Soe ternyata… hehehe… senangnya ya kalau punya nama mirip hero 😀

      Hihihi… terima kasih kembali, senang bisa mampir ke sana juga, temanku yang Pro Life 😀

      Like

  3. Halo, Soe… Selamat datang, dan makasih sudah berkunjung yah…

    Yang lo tulis itu pernah dikutip Soe Hok Gie juga kan? (HAH! SOE Hok Gie itu siapanya Soe The Blogwalker?)

    Ngomong-ngomong soal pilihan, apakah kemudian itu membuat kamu menjadi seorang pro-choice? Hehehe…

    Like

  4. hmmm… pernah dengar :
    nasib terbaik yg bisa di dapatkan manusia adalah, TIDAK dilahirkan sama sekali
    nasib kedua yg agak baik adalah, di lahirkan dan berumur pendek
    nasib terburuk adalah, di lahirkan, dan berumur panjang……

    tapi… semua kembali dari sudut mana mau melihat….. Yang jelas, semua pilihan mengandung konsekuensi, berani milih, berani tanggung jawab!

    btw, salam kenal, great writings 🙂

    Like