Blame

Standard

Beberapa waktu yang lalu, gwe bertanya sama salah seorang teman, yang pada saat itu masih berjuang bersama gwe menyelesaikan skripsi. Atau paling tidak, pada saat itu gwe berpikir dia juga sedang berjuang, sama seperti gwe. Teman ini… gwe ga perlu sebutkan namanya, gwe bahkan tidak perlu membuat nama pengganti seperti yang biasa gwe lakukan di MWWYT, karena nanti kalau yang bersangkutan nyadar, maka dikira gwe sedang berusaha untuk ‘menyerang’.

Pertanyaan gwe sederhana, berhubung dia sudah menjalankan skripsinya selama lebih dari setahun, gwe bertanya apa yang membuat dia stuck. Tentu saja, gwe bukan dosen yang kemudian bisa memberikan dia solusi tentang bagaimana dia akhirnya nanti bisa mengerjakan skripsinya, karena gwe tahu bahwa pada dasarnya dia cukup pinter buat ngerjain itu skripsi tanpa bantuan dari siapapun.

Pada saat dia membawa masalah keluarganya sebagai alasan kenapa dia tidak mengerjakan skripsinya pada saat itu, gwe mendadak hilang respek. Jujur aja menurut gwe hal itu nggak masuk akal. Masalah keluarganya sudah selesai sejak beberapa lama yang lalu, tapi skripsinya masih tetap saja keteteran.

Hal itu membuat gwe berpikir bahwa mungkin memang menyenangkan kalau selalu punya sesuatu atau seseorang lain untuk disalahkan pada saat terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.  Terlambat masuk kantor, salahkan jalanan yang macet. Tugas tidak selesai, salahkan PLN mengadakan pemadaman listrik bergilir. Tidak bisa mengerjakan soal ujian, salahkan teman yang semalam meminjam catatan dan tidak dikembalikan. Nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit, salahkan bos telat ngasih gaji.

Seolah-olah dengan memiliki seseorang atau sesuatu yang bisa disalahkan memberikan excuse untuk kita juga melakukan kesalahan.

Bukan berarti gwe nggak pernah melakukan hal yang sama. Tapi justru karena gwe juga pernah melakukan ini, maka gwe mengerti. Memberikan excuse sama sekali tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Membuat perasaan lebih baik mungkn, sedikit, tapi tidak ada yang berubah dari keadaan.

Gwe juga tidak sedang berusaha menyerang atau menggeneralisasi. Gwe juga tahu kok ada beberapa hal yang tidak bisa kita kontrol. Misalnya kecelakaan di jalan, sehingga tidak bisa menghadiri ujian. Atau sakit parah sampai sekarat sehingga berbulan-bulan tidak bisa masuk kelas. Atau seketika hilang ingatan sehingga tidak bisa mengerjakan skripsi. Atau mungkin kerampokan sehingga tidak punya uang sama sekali untuk bayar tagihan kartu kredit. Untuk hal-hal yang di luar kemampuan kita untuk mengontrol semacam ini, bahkan lo nggak perlu memberikan excuse untuk dimaafkan.

Tapi contoh yang gwe sebutkan sebelumnya? Jalanan macet di Jakarta terjadi setiap hari (kecuali waktu lebaran), tapi ribuan orang lain di Jakarta nggak terlambat masuk ke kantor tuh. Yang kena pemadaman listrik bergilir juga satu kampung, tapi yang lain masih bisa ngerjain tugas tuh. Yang digajinya terlambat oleh si bos juga bukan satu orang doang, tapi sekantor semuanya, tapi yang lain masih sanggup bayar cicilan mobil tuh.

Jadi… kenapa?

Advertisements

4 responses

  1. ……”Jadi… kenapa?”

    The answer is as simple as it is: Harus ada yang bersalah dalam setiap kasus!

    Cuma… klo yg harus bersalah itu orang lain atau hal lain yg sebenarnya gak bersalah, ya salah duong…!
    Dan… Tidak enak menjadi yang bersalah meskipun baru melakukan kesalahan kan?

    Itulah kenapa didunia ini diciptakan pengadilan tinggi… pengadilan agama… dan pengadilan2 lain utk kasus2 berat.

    Kayaknya harus mulai dibikin pengadilan kampus… pengadilan kantor… pengadilan pemadaman listrik… pengadilan jalan macet… gitu ya?

    Salam kenal ya bok…

    Like

    • Nah… sering kali yang terjadi adalah, salah diri sendiri tapi bikin orang lain jadi kambing hitamnya… ehehehe…

      Tapi jujur gwe ga kepikiran tentang ide bahwa “harus ada yang salah”. Perspektif yang menarik… Hehehe…

      Salam kenal juga, Bok…

      Like

  2. karena…. apa ya…kok jd bingung gw mw nulis apa -_-“.
    hmm…byk org yg slalu “mengkambinghitamkan” sesuatu bwt dijadikan alasan/pembenaran, ga mw di cap salah. Jd ya gt deeeh. Di kehidupan bernegara qt ini, jual beli kambing hitam ga melanggar hukum, malah diakui/dilestarikan sbagai budaya asli bangsa tanpa perlu takut bakal diklaim ma negara tetangga =D

    Like

    • Huahaha… kalo yang ini tetangga mau klaim, kayanya Indonesia nggak akan marah deh. Tapi memangnya cuma Indonesia doang yang suka kaya gitu? Kayanya sifat ini manusiawi dan universal deh 😀

      Like