Eksis

Standard

Melihat tingkah laku teman gwe yang satu ini, gwe mulai berpikir… Memangnya segitu pentingnyakah untuk menjadi eksis? Oh, gwe nggak bilang bahwa menjadi eksis itu nggak penting loh. Tanpa usaha yang terlalu keras pun gwe sudah eksis dengan sendirinya. Itu sebabnya gwe bertanya, memang segitu pentingnya ya untuk bisa eksis di luar sana?

Yap! Menjadi eksis adalah salah satu kebutuhan yang disebutkan Maslow dalam teorinya yang sangat terkenal tentang “hierarchy of needs”. Gwe yakin AK sudah mau muntah darah mendengar teori ini, tapi biarlah, nanti dia gwe sembuhkan dengan foto Stu.

Di manakah letak kebutuhan untuk menjadi eksis itu?

Ah! Ternyata kebutuhan manusia untuk menjadi eksis itu ada di puncak piramida kebutuhan. Tentu saja menjadi eksis itu adalah kebutuhan yang sangat penting, dengan catatan, apabila empat kebutuhan dasar yang lain sudah dapat terpenuhi. Bagaimana kalau kebetulan empat kebutuhan yang sebelumnya belum terpenuhi, namun buru-buru menuju puncak dengan jalan pintas supaya bisa eksis?

Kata Papa, yang namanya proses itu penting. Yang namanya jalan pintas itu memang tidak selalu buruk, tapi sering kali memang tidak baik.

Begini analoginya. Seorang pengangguran yang tidak berduit, dia berada di piramida kebutuhan yang paling bawah. Tapi udah nggak punya duit, dia mengejar kebutuhan nomer tiga yaitu love and belongingness, dengan kawin tiga kali, dan punya delapan anak berturutan.

Atau seorang mahasiswi perempuan dari keluarga biasa saja. Tapi demi mengejar eksistensi di Ibu Kota yang kejam ini, dia melupakan bahwa dia masih di piramida kebutuhan paling bawah, dengan buru-buru ingin eksis. Akhirnya ngutang sana-ngutang sini, cari pacar kaya untuk membiayai kebutuhan hidupnya, atau malah jalur ekspres dengan jadi simpanan pengusaha kaya?

Tolong dicatat.

Instead of memantapkan kakinya, membekali dirinya untuk memanjat sendiri tangga piramida kebutuhan itu, orang-orang yang butuh eksis dengan cepat ini menggelayuti orang lain untuk bisa ikutan naik. Pernah dengar istilah ‘Social Climber’? Bukan maksud gwe mengatakan hal itu buruk, ya, tapi tentu saja ini ada resikonya.

Mengandalkan orang lain untuk mencapai level yang kita inginkan memiliki sisi gelap yang mungkin tidak pernah dibayangkan mereka yang melakukannya. Bayangkan mereka yang kita andalkan bosan dan mulai merasa keberatan kita gelayuti, dan kita didepak dari lingkungan mereka. Terjun bebaslah kita kembali ke level terbawah karena kita tidak pernah punya pijakan yang cukup kuat untuk bertahan di level tersebut tanpa orang lain.

Sekarang gwe kembalikan lagi ke pertanyaan awal.

Apakah menjadi eksis itu sedemikian pentingnya? Apakah membeli Blackberry supaya gaya itu lebih penting daripada membayar uang kuliah? Atau apakah beli baju baru berharga jutaan itu lebih penting daripada makan? Bukankah eksistensi itu dapat muncul sendirinya tanpa harus menjadi social climber? Status sosial itu akan naik dengan sendirinya apabila kita menambahkan sendiri nilai-nilai dalam diri kita, bukan?

Social climbing, eh?

Advertisements

4 responses

  1. Ahhh teori Maslow *melindungi mata supaya nggak tercemar*

    Tau deh yang bisa eksis tanpa harus susah payah 😛

    Like