Kurang Indonesiakah Gwe?

Standard

Kadang-kadang gwe sering bertanya, apakah gwe ini kurang Indonesia? Gwe lahir di Indonesia dan menghafal Pancasila sama seperti anak-anak Indonesia yang lain. Gwe menyanyikan lagu Indonesia Raya yang sama, juga menghormat pada merah putih yang sama (Kalau putih merah itu bendera Polandia >> main Geo Challenge di Facebook)

Apa yang membuat gwe kurang Indonesia? Apakah kesukuan gwe membuat gwe tidak Indonesia lagi? Apakah pilihan kepercayaan gwe membuat gwe tidak Indonesia juga? Ataukah warna kulit dan bentuk mata gwe yang membuat gwe menjadi tidak Indonesia?


Apakah kalau gwe mencela dan mengkritik sesuatu tentang negara ini maka gwe menjadi kurang Indonesia? Kalau begitu apakah mereka yang apatis dan tidak peduli terhadap apa yang terjadi di negara ini lebih Indonesia daripada gwe yang bersuara? Gwe rasa itu bukan tentang apa yang gwe suarakan, atau bagaimana gwe menyuarakan pendapat gwe tentang negara ini. Tapi itu mengenai gwe sebagai manusia, yang disangkal keunikannya.

Banyak yang mengatakan kalau gwe ingin dikatakan nasionalis, seharusnya instead of mengkriting, gwe harusnya melakukan sesuatu untuk perubahan. Bagaimana kami bisa melakukan sesuatu, kalau tangan kaki dibuntungi? Sekarang kami hanya tinggal bisa membantu dengan pikiran untuk memberi opini dan solusi, kalau mulut dibungkam juga, apalagi yang bisa kami lakukan?

Enak sekali menjadi orang Indonesia. Tapi sayangnya, tidak mudah menjadi orang Indonesia. Sama seperti bagaimana sekolah swasta diperlakukan. Untuk mendapat status “diakui” saja butuh perjuangan, apalagi untuk mereka yang ingin “disamakan”. Padahal, keduanya sama-sama sekolah di Indonesia, sama-sama bertujuan mencetak sumber daya manusia yang unggul. Apakah sekolah swasta itu kurang sekolahan dibanding sekolah negeri?

Sekarang coba bilang apa yang membuat gwe kurang Indonesia. Saat orang-orang yang dianggap lebih Indonesia daripada gwe menggunakan “Twitter” dan “Facebook” untuk tugas skripsinya. Gwe menggunakan Solo, untuk penelitian gwe. Saat orang-orang yang dianggap lebih Indonesia daripada gwe memakai batik tiap hari jumat karena pengaruh trend. Gwe hidup dengan batik dari bayi. Saat orang-orang yang dianggap lebih Indonesia daripada gwe mendengarkan band-band dalam negeri itu, gwe memiliki koleksi lagu gamelan, degung dan kacapi suling.

Bukan berarti gwe menganggap yang lain yang tidak melakukan apa yang gwe lakukan itu lebih tidak Indonesia dari gwe. Gwe tidak mau men-cap orang lain lebih tidak Indonesia daripada gwe, hanya karena pilihan selera. Mungkin saja mereka sama bangganya terhadap ke-Indonesiaan mereka seperti gwe bangga terhadap ke-Indonesiaan gwe.

Setiap kali gwe melakukan perkenalan di forum-forum luar negeri gwe selalu memperkenalkan diri sebagai, “hi! I’m a girl from Indonesia”.

Kakek gwe seorang pejuang. Beliau ikut berperang menumpas pemberontakan DI/TII di Singaparna, Jawa Barat. Papa lahir di Indonesia, tapi beliau tidak diakui sebagai warga negara Indonesia sampai beliau mengubah namanya. Kurang Indonesiakah mereka? Yang satu rela bertaruh nyawa untuk negara ini, yang lain bersedia mengganti identitasnya hanya untuk menjadi warga negara ini?

Kurang Indonesiakah kami?

Advertisements

6 responses

  1. Gw aja yg ga ada darah turunan alias pribumi asli dr nenek moyang gw, masih dpt diskriminasi di propinsi tmpat gw berkarir skrg, cm gara2 gw pendatang, BUKAN penduduk asli sono alias BUKAN putra daerah. parah yaa..hehehe =D

    Lo msh inget donk gerakan riau merdeka yg mereka proklamirkan thn 97 klo gw ga salah. Propinsi itu pgn melepaskan diri dr NKRI, sama aja kyk propinsi yg ada di paling barat dan paling timur negara ini (penggunaan kata “merdeka” seolah2 slama ini mrk dijajah oleh NKRI)

    Mrk memang tidak/belum sukses melepaskan diri dr NKRI, tp imbasnya adalah kpd kaum pendatang seperti gw. Urusan administrasi kyk penerimaan PNS, bantuan beasiswa dr pemda, dll menjadi sangat ribet karna pake akte kelahiran. Mw IPK gw 4,5 pun ga bakalan deh dpt bantuan beasiswa dr pemda, karna gw ga lahir di sono. Mrk sangat2 memprioritaskan putra daerah dlm sgala urusan. wlo pun si putra daerah itu sendiri **maaf** kemampuannya di bawah rata2.

    Gw bs jd PNS di sono, karna seleksi gw dr Depdiknas/pemerintah pusat. Bantuan pendidikan gw jg dr Dikti/Dirjen Pendidikan Tinggi, yg tentu saja penyaringannya sangat ketat, saingannya seluruh dosen yg lg s2/s3 se-Indonesia. Bukan dr pemda, pdhl gw mengabdi di sana, untuk mencerdaskan putra daerah mrk.

    Slama akte kelahiran gw msh “Medan”, sabar2 aja deh. Yg penting gw bs buktiin kompetensi gw.

    Like

    • Oh iya sih. Yang seperti ini juga pernah denger, ga cuma di sana, tapi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Aduuuh… kapan majunya ya kalau orang Indonesianya sendiri lupa dengan “sumpah pemuda”.

      Like

      • jd intinya, mw dr lahir qt udh pake batik/jeans, yg namanya rasa kesukuan, kedaerahan, rasis, tah apalah namanya, ga bakal prnh bs ilang. sumpah pemuda ?? aahh..itu kan 82 taon yg lalu..jaman2 msh dijajah kompeni. skrg kan udh merdeka, gantian donk menjajah bangsa sendiri dgn mengedepankan “kesamaan” suku, daerah, ras masing2. Faktanya itu kan ?
        Bhinneka Tunggal Ika msh cocok ma kondisi bangsa ini ?
        Gw rasa ga…

        Like

      • Kalau dibahas soal kedaerahan ini bisa jadi satu postingan sendiri. Pastinya rasa kedaerahan ini bukan muncul baru2, sudah ada pada jaman Belanda karena politik Devide et Impera. Sayangnya, berpuluh-puluh tahun ini, bukannya dihilangkan, malah dipupuk sampai subur…

        Like

  2. sinyo punya sahabat2 keturunan tinggal di solo, bahasa yang dipake malah bhsa jawa kromo inggil halus banget berikut dialeknya. sinyo sendiri punya oma asli hokkian.
    jadi…. tetap semangat ya sis… semangat indonesia!!! *tentu tdk lupa dengan leluhur kita*

    Like

    • Eeh eeh… Sinyo datang berkunjung… *Kaget*

      Hah!? Hebat banget, gwe pengen belajar bahasa kromo inggil ga pernah sukses. Di rumah cuman bisa latihan sama Mama, sedangkan Papa malah bisanya bahasa Sunda (ga bisa bahasa jawa sama sekali). Hihii…

      Iya… Semangat!! Merdeka!!

      Like