Bybyq Menulis

Standard

Mengapa saya menulis?

Sebenarnya saya punya masalah dengan komitmen menulis dan juga konsistensi dalam menjalankan komitmen tersebut. Saya punya puluhan buku tulis yang seyogianya saya gunakan sebagai jurnal, namun berakhir bahkan sebelum setengahnya terisi. Bahkan untuk menulis fiksi, hanya empat atau lima judul sajalah yang sempat benar-benar saya selesaikan. Ratusan judul lain berakhir sebelum bab tiga rampung, sebagian di antaranya hanya berhenti di prolog.

Saya sendiri kagum dengan keberanian saya memilih skripsi sebagai bentuk tugas akhir saya, di mana komitmen dan konsistensi adalah faktor penting yang menentukan akhir perjuangan saya memperoleh gelar sarjana. Dan dari keduanya itu (komitmen dan konsistensi), tidak ada satupun yang saya kuasai dengan baik.

Perjalanan menulis blog pun, sebenarnya sudah berulang kali mengalami pasang surut mood dan ide. Beberapa blog saya hiatus dengan terhormat, sisanya menggantung seperti panci tua di dapur. Jelas tidak akan digunakan lagi, namun tidak segera ditutup untuk kepentingan massa.

Lalu apa tujuan seorang Bybyq ini menulis?

Pada awalnya, sejak SMA saya menulis untuk diri saya sendiri. Ketika beberapa teman menyukainya, maka buku-buku berisi baik kumpulan puisi maupun cerita fiksi mulai menyebar dari teman ke teman. Tetapi rupanya masa SMA berakhir lebih cepat daripada yang bisa saya ingat, cerita-cerita itupun berakhir. Saya mulai berhenti menulis untuk dibaca orang dan kembali lagi menulis untuk diri sendiri.

Saya mulai kehilangan tempat untuk menulis. Pada akhir tahun 2003, saya menulis di sembarang tempat. One line di status MSN, potongan fiksi mini di “about me” Friendster (pada jamannya), hingga suatu hari seorang teman bertanya, mengapa saya tidak ngeblog saja.

Saya bahkan tidak tahu apa itu blog. Dan dia dengan senang hati membuatkan saya satu akun di xanga.

Ajaib. Saya menyukainya.

Hingga saat ini, saya ingin berterima kasih kepada teman saya itu karena telah memberikan tempat untuk saya menulis. Sayangnya kami kehilangan kontak. Saya akan sangat senang menunjukkan padanya bahwa sekarang saya punya rumah sendiri, dan masih tetap menulis setelah hampir tujuh tahun berselang, meskipun komitmen dan konsistensi saya lebih kecil daripada kuaci.

Mengapa blog saya tidak pernah maju jaya? Tentu saja tidak lain karena pengaruh alasan mengapa saya menulis.

Sejak saya kehilangan pembaca setia saya di SMA, saya tidak lagi menulis untuk orang lain. Iya, memang beberapa tulisan saya dedikasikan untuk orang lain, tapi tujuan tulisan saya sendiri adalah untuk diri saya sendiri.

Menulis untuk diri sendiri membuat saya lebih dekat dengan sosok saya sendiri. Bagaimana saya bisa berusaha mengenal orang lain, apabila mengenal diri saya sendiripun saya tidak bisa? Menulis untuk saya adalah alat untuk mengorek hal-hal yang mungkin tidak saya ketahui tentang diri saya. Menulis membuat saya menemukan apa yang sebenarnya tersembunyi dalam alam pikir saya.

Dan bagaimana saya bisa menemukan, mengenal, dan kemudian mengolah potensi yang ada dalam diri saya sendiri kalau saya tidak menulis dengan jujur bukan? Itu kenapa saya menyukai blogger yang jujur dalam menulis, karena saya bisa mengenal mereka melalui apa yang mereka tulis.

Menulis membuat saya merasa lebih baik (dan kadang-kadang juga merasa lebih pintar). Tentunya membutuhkan keberanian besar untuk membagi informasi kepada banyak orang, tentang diri saya sendiri di dunia maya. Tetapi dengan menulis, saya tidak hanya melulu bercerita tentang sesuatu, saya ingin mengajak yang lain juga menggali sesuatu tentang diri mereka juga melalui topik-topik yang saya angkat.

Maka, ya… Saya suka menulis.

Advertisements

7 responses