Membahasakan Saya

Standard

Ternyata tidak mudah untuk tetap mengubah kebiasaan saya menggunakan kata ganti pertama “gwe” dengan “saya”. Padahal itu baru permulaan saya memperbaiki tata penulisan saya dalam blog ini. Belum apa-apa saya sudah mendapat teguran ibu editor di tulisan sebelumnya, karena saya kelepasan menggunakan satu kata “gwe” di sana.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menggunakan “gwe”, karena di blog lain saya juga masih menggunakan itu. Tapi memulai sebuah kebiasaan baru memang tidak semudah yang saya bayangkan. Hal ini berlaku tidak hanya dalam menulis saja, namun juga dalam hal-hal lain yang saya lakukan sehari-hari.

Misalnya saya mulai membiasakan diri untuk mulai rajin minum air putih setiap hari. Saya yang tidak terbiasa dengan banyak-banyak minum sering kali lupa bahwa saya baru minum satu gelas hari itu. Juga kebiasaan untuk bangun pagi, meskipun saya sudah menyalakan alarm di telepon genggam saya, tetapi tetap saja saya selalu tergoda untuk mematikan alarm itu dan tidur kembali.

Memulai kebiasaan baru saat dirasa kebiasaan lama sebenarnya tidak mengganggu sungguh sulit. Apalagi saat kebiasaan lama membuat saya merasa nyaman untuk melakukannya. Dibutuhkan tekad dan sekali lagi, konsistensi untuk membuat kebiasaan itu berjalan, dan menjadi sesuatu yang rutin dilakukan, dan pada akhirnya membuat saya juga nyaman dengan kebiasaan baru ini.

Menggunakan “saya” dalam menulis blog, bukanlah hal biasa saya lakukan. Bahkan sebelum saya menggunakan “gwe” di blog, saya tidak pernah menggunakan kata “saya”. Awalnya saya menggunakan “aku” kemudian dengan penyebutan nama diri, dan pada akhirnya menyesuaikan dengan kebanyakan blogger yang menggunakan “gwe” pada saat itu.

Lingkungan ternyata juga berpengaruh terhadap kebiasaan yang saya lakukan, dan juga mempunyai peran yang cukup besar dalam usaha mengubah kebiasaan. Saya yang sebelumnya tidak terbiasa makan pagi, sekarang lebih sering makan pagi, daripada melewatkan makan pagi seperti yang saya lakukan sebelumnya. Misalnya mungkin, karena tinggal satu kos dengan adik saya yang selalu mengajak saya makan pagi.

Sedangkan untuk membahasakan “saya” tidak semudah itu karena dalam kehidupan sehari-hari, saya jarang menggunakan kata “saya” selain dalam pembicaraan saya dengan si Monyed. Mungkin beberapa blogger teman saya menggunakan “saya” juga dalam menulis, tapi tidak semuanya saya baca setiap hari, membuat saya kurang terkondisi untuk melakukan hal yang sama.

Menumbuhkan kebiasaan baru dapat dibilang gampang-gampang susah. Apalagi saat hal yang menjadi motivasi saya untuk melakukan kebiasaan itu juga menghilang. Saya sudah jarang mendengar gaung tagar #bahasaku di twitter, yang sebenarnya menjadi alasan awal saya untuk mulai menata bahasa saya di sini.

Saya yakin banyak blogger yang lain juga sedang bergulat dengan kesulitan yang sama. Saat kalian sedang berusaha menumbuhkan suatu kebiasaan, tantangan apa yang paling sering kalian dapatkan? Bagaimana cara kalian membuat diri kalian tetap termotivasi untuk meneruskan kebiasaan yang kalian anggap baik itu?

Advertisements

One response