Bybyq Menulis (2)

Standard

Bagi saya, menulis blog tidak sama dengan menulis di media massa. Tentu saja karena tujuannya sendiri berbeda. Pertanyaannya adalah, apakah seorang penulis blog harus menulis demi pembacanya? Atau pembaca yang menyesuaikan dengan tulisan di blog tersebut? Apa arti blog tanpa pembaca? Dan apa arti pembaca tanpa blog yang dibaca?

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah obrolan ringan bersama dua orang teman di YM, saya baru mengetahui ada ‘gosip’ di lingkungan LBlogger. Salah seorang penulis yang blog-nya cukup ramai akhir-akhir ini (katanya) ditinggalkan oleh pembacanya karena apa yang ditulisnya di blog beberapa hari sebelumnya. Karena penasaran, saya pun mencoba mencari tahu, tulisan semacam apa sih yang membuat pembaca sampai kabur?

Ternyata, si blogger curhat di blognya, bahwa ada salah seorang pembacanya yang menurutnya kurang sopan pada saat mengontaknya melalui YM. Secara tidak langsung si blogger ingin menegur para ‘penggemar’ yang lain untuk tidak melakukan hal serupa. Akan tetapi ternyata tindakannya ini membuat beberapa pembaca yang ternyata masuk ke golongan ‘tidak sopan’ ini menjadi tersinggung berat. Saya sendiri tidak mengerti kenapa mereka jadi tersinggung kalau mereka merasa tindakan mereka baik-baik saja. Tinggal dijelaskan keadaanya kepada yang bersangkutan, kenapa harus marah?

Si blogger tadi, kemudian mendapatkan banyak hate e-mail. Beberapa menyesalkan tindakan si blogger yang menulis seperti itu di blognya, dan beberapa yang lain bahkan terang-terangan berkata bahwa tidak akan lagi menginjakkan kakinya ke blog tersebut. Dan saya pun lebih bingung lagi, apakah perlu sekeras itu reaksinya hanya terhadap sebuah tulisan di blog pribadi?

Sekali lagi.

Blog pribadi.

Menurut saya personal blog atau blog pribadi adalah blog yang mewakili sifat dan karakteristik seseorang. Seperti blog saya ini. Jujur saja, seandainya saya mau kembali ber”gwe-lo” lagi pun, tidak perlu ada yang protes, karena ini adalah milik pribadi saya. (Mohon bedakan antara protes dengan ‘kritik dan saran’) Anggaplah saya berbagi isi buku harian saya dengan anda para pembaca yang baik…

Banyak personal blog yang isinya jauh lebih keras, kasar dan frontal, dan buktinya blogger-blogger dengan karakteristik tertentu ini sanggup menjaring pembacanya sendiri. Sama seperti membaca novel dan menonton film, sama seperti memilih makanan, ini hanya soal selera, kalau tidak suka ya tidak perlu protes, apalagi mengecam. Apalagi kalau isi blog nya tidak mengandung unsur pelecehan SARA.

Kalau dikembalikan lagi oleh pembaca yang merasa penting. “Apalah artinya blog tanpa pembaca?” Sama saja seperti infotainment yang ngotot mengatakan “Apalah artinya artis tanpa infotainment”. Jelas-jelas tidak ada hubungannya. Kami kan ngeblog untuk menulis, berkarya, dan berbagi. Sebagian besar blogger (yang bukan menjadikan blogging sebagai pekerjaanya) menulis tanpa dibayar, banyak maupun sedikit pembacanya. Apalagi blogger yang mau melakukan kerja sosial ekstra dengan melayani pembacanya melalui YM Pingbox, benar-benar membuat saya salut setengah mati.

Saya tidak ingin bersikap arogan, saya rasa pembaca pasti memiliki ekspektansi tertentu terhadap sebuah blog, terutama apabila pembaca sudah susah payah, dan suka rela mengikuti blog tersebut dari awal sampai akhir. Tapi blogger juga manusia toh? Sepandai apapun dia menulis, dia masih manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan dengan segala permasalahan hidupnya. Bukankah wajar kalau dia tidak tahan lagi, lalu dia akan curhat sukarela di blognya.

Kalau pembaca selalu berharap pada sebuah blog agar isinya ceria selalu. Senang-senang melulu. Kasihan blogger itu nantinya, akan dikurangi kemanusiaannya oleh pembacanya.

Advertisements

7 responses

  1. haha…benul itu benul…pembaca itu kan kayak “pulang tak diantar datang tak dijemput” penulis kan gak pernah maksa massa untuk membaca tulisannya. Blogger kan nulis sesuai dengan hatinya, gak bisa dipaksa nulis sesuai keinginan penggemar toh toh toh toh…..

    Like