Kader

Standard

Saya sedang tidak salah tulis. Kader. Bukan “keder” atau “kades”, karena tentu saja artinya sangat lain. Mungkin itulah gunanya editor supaya salah ketik yang dapat mengubah arti secara keseluruhan seperti itu dapat dihindarkan. Dan saya memang harus mulai belajar untuk tidak terlalu sering melantur kemana-mana saat sedang menulis sesuatu. Saya kan sedang ingin membicarakan “kader”.

Mungkin beberapa sudah familiar dengan kata ini. Mengingatkan pada orang-orang yang aktif dalam partai politik atau juga pemerintahan. Ada apa sih, si Bybyq ini tiba-tiba membicarakan urusan politik dan pemerintahan? Tidak biasanya…

Tidak. Saya tidak ingin membicarakan urusan politik. Biarlah urusan politik dibicarakan oleh mereka yang ahli di bidangnya daripada nanti salah kaprah kalau ahli melantur seperti saya diserahi tugas seberat itu. Sebelum kita masuk lebih jauh, saya ingin menyalin tempel arti “kader” yang saya peroleh dari kamus besar bahasa Indonesia yang kalian bisa dapatkan di Internet.

ka·der n 1 perwira atau bintara dl ketentaraan; 2 orang yg diharapkan akan memegang peran yg penting dl pemerintahan, partai, dsb;
pe·nga·der·an n proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader:untuk pengembangan kesenian perlu adanya ~

Itu lho. Kader.

Dilihat dari nomer dua, kader adalah orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, dsb. Singkatnya yang namanya kader itu adalah calon orang penting dalam sebuah organisasi. Organisasi apapun.

Saya ingat di sebuah latihan dasar kepemimpinan, yang tidak saya ikuti waktu itu, disebut-sebut merupakan bagian dari rangkaian acara kaderisasi OSIS. Ya, ya, bahkan sejak SMA pun saya memang tidak getol berorganisasi, apalagi sekarang semenjak internet mengambil alih sebagian besar hidup saya.

Kaderisasi, atau kalau dalam KBBI disebut pengaderan, adalah proses membentuk calon pemimpin dari sebuah organisasi. Betapa pentingnya kaderisasi itu, karena dengan memiliki pemimpin penerus, maka sebuah organisasi tidak akan mati (karena visi dan misinya dilanjutkan oleh penerusnya).

Lalu saya melintas di blog seorang teman. Biasa, saya suka berjalan-jalan dari satu blog ke blog yang lain melalui blogroll mereka, dan saya menemukan sebuah cerita yang cukup menarik berkaitan dengan pemimpin. Katakanlah, sebuah organisasi yang sudah cukup terkenal, saya tidak perlu menyebutkan namanya. Pemimpinnya pun sudah banyak yang tahu karena kiprahnya yang disebut-sebut mahadahsyat.

Pengikutnya, tentu saja tak terhitung jumlahnya. Dan tentu saja, beberapa di antara pengikutnya itu ada yang sudah siap menjadi kader-kader di organisasi tersebut. Bayangkan kalau seandainya, seandainya si pemimpin ini memiliki sifat yang tidak baik. Suka marah-marah, memaki-maki sana dan sini, dan memperlakukan kader-kadernya dengan semena-mena. Apa yang akan terjadi dalam proses pengaderan tersebut?

Bukankah kader-kader dalam organisasi tersebut akan meniru kelakuan pemimpinnya? Apabila kader-kader tersebut naik dan menjabat pemerintahan di organisasi tersebut, bukankah mereka akan melakukan persis sama seperti yang dilakukan pemimpinnya terdahulu? Kalau seorang pemimpin melakukan hal yang tidak baik, bukankah penerusnya akan melanjutkan ‘warisan budaya organisasi’ yang nantinya akan menjadi ‘ciri khas’ organisasi mereka?

Bukankah sangat disayangkan apabila sebuah organisasi yang memiliki nama baik, harus menjadi organisasi dengan kader-kader yang ‘dicemari’ oleh sifat pemimpinnya? Bukankah pemimpin seharusnya memberikan contoh yang layak ditiru oleh kader-kadernya?

Atau dalam organisasi kecil misalnya. Bukankah orang tua harusnya menjadi contoh untuk anaknya? Ayah menjadi contoh. Ibu menjadi contoh. Bukankah dari ayah dan ibu seorang anak belajar tentang nilai-nilai yang penting dalam hidup? Moral. Harga diri. Keberanian. Tanggung jawab. Kejujuran. Kesetiaan. (Siapa bilang, anak-anak belajar moral dari sekolah atau dari video aril?)

Saya bukan pemimpin. Belum, mungkin.

Tapi saya melihat banyak pemimpin di dunia ini, dunia nyata, dunia maya (, dunia lain?!?!). Saya senang saya cukup beruntung mendapatkan pemimpin keluarga seperti Papa yang mencontohkan hal-hal baik bagi saya dan adik-adik saya. Saya hanya berharap, apabila kaderisasi saya sudah selesai, dan tiba saatnya saya jadi pemimpin, saya akan melakukan hal yang benar, dan menjadi contoh yang baik untuk kader-kader saya nanti.

Advertisements

2 responses