Satu Hari

Standard

Beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran pekerjaan untuk menulis, oleh salah seorang yang saya kenal dari sebuah forum dulu. Baru kali ini lho, saya mendapatkan tawaran untuk menulis, dan apalagi ternyata calon klien saya baik hati dan sangat sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang newbie dalam bidang freelancing ini.

Akhirnya saya diberi waktu bebas untuk menulis, dan bebas menentukan topik apa yang saya inginkan. Saking kepengennya saya mendapatkan pekerjaan ini, saya membutuhkan berhari-hari untuk berpikir dan mengulang-ulang pekerjaan yang sama. Tentu saja di sela-sela mengerjakan skripsi yang menyiksa, pekerjaan ini malah menjadi semacam hiburan yang menyenangkan.

Baru kemarin saya menyerahkan hasil pekerjaan saya, dan rupanya tulisan saya masih belum cukup kualitasnya untuk menjadi content writer. Tidak apa-apa, namanya saya belajar, suatu hari saya pasti bisa menulis dengan lebih baik. Tetapi ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar…

Kakak baik hati yang memberikan saya pekerjaan ini mengatakan pada saya, seandainya saya mengumpulkan peer saya lebih cepat, bisa jadi saya yang diterima bekerja. Rupanya pekerja freelance itu seperti sekumpulan ikan di dalam kolam yang untuk bertahan hidup harus berlomba “siapa cepat dia dapat” mendapatkan makanan. Pekerja freelance harus berebut job, dan menyelesaikannya dengan tenggat waktu yang cepat, dan kualitas yang baik.

Saya cukup shock mendengar Kakak baik hati itu berkata bahwa seandainya saya mengumpulkan satu hari lebih cepat, maka bisa jadi peluang itu milik saya. Ternyata saya tidak profesional, menganggap bahwa pekerjaan itu bisa menunggu, mentang-mentang tidak ada deadline dari client, bukan berarti tidak ada deadline sama sekali. Saya seharusnya memberikan deadline kepada diri saya sendiri.

Ternyata memang saya seperti itu. Kebiasaan saya membuang-buang waktu membuat saya kehilangan satu peluang baik untuk memulai apa yang sejak dulu ingin saya lakukan. Sama seperti cara saya memandang hidup ini juga, selama ini saya berpikir bahwa tidak ada deadline dalam hidup saya. Sebenarnya, bukan orang lainlah yang seharusnya memberikan deadline, sayalah yang seharusnya mengeset deadline sejak awal.

Tidak ada yang memberikan deadline kapan saya harus menyelesaikan skripsi, atau mendapatkan pekerjaan, atau kapan saya harus bisa mapan dan membeli rumah sendiri. Tapi kalau saya tidak memberikan deadline, tidak akan ada yang ‘mengejar’ saya untuk berusaha mencapai apa yang sebenarnya saya bisa capai. Mungkin seperti hari ini saya berpikir “seandainya saya menyerahkan tulisan itu satu hari lebih cepat”, saya akan menyesal dan berpikir “seandainya saya lulus satu tahun lebih cepat”.

Benar! Benar! Menyesal kemudian tidak ada gunanya. Justru itulah…

Okay! Tidak ada lagi Bybyq yang suka membuang-buang waktu. Tidak ada lagi Bybyq yang menunda-nunda pekerjaan. Sekarang Bybyq punya deadline sendiri untuk masing-masing pekerjaanya. Termasuk Skripsi…

Oh… Iya. Saya sekarang sedang mengerjakan skripsi… *tertunduk-tunduk pergi dengan malu*

Advertisements

8 responses

  1. ooh pamernya kurang lengkap ya??
    jadi aku jadi editor di bola.net check aja klo ada berita trus ada inisialk (fjr) itu pasti aku

    klo ada artikel oleh kel Oleh: Fajar Rahman itu juga pasti aku

    HAHAHAHAHAHA

    Like

    • Ealah pameran tunggal di blog orang… Mbok ya kancamu ki diwenehi gawean to, Jar… Mosok dipameri tok.

      Paling ndak, kecipratan makan2 gitu…

      Like

  2. weh yg baru dapet pengalaman hebat euy.. slamet-slamet.. menulis itu memang menyenangkan, tapi itu tidak terjadi pada skripsi hahaha

    btwfyi, aku juga baru ketrima jadi editor.. sebuah pekerjaan yg pas di hati 😀

    Like

  3. Pingback: Satu Hari » superbyq.com | Cari Judul Skripsi, Makalah, Laporan