Bybyq Sedang Marah

Standard

Sebenarnya menulis skripsi tidak semenyiksa itu apabila… hm… tidak semenyiksa itu.

Serius. Saya tidak sedang menghibur diri dengan membuat pernyataan yang mungkin bertentangan di kepala banyak orang. Memang semua orang harus menjalani proses mengerjakan tugas akhir ini, bukan? Saya melihat adik saya yang mengerjakan tugas akhirnya berupa proyek yang menurut saya jauh lebih dekat dengan penyiksaan dan pembantaian, daripada skripsi yang notabene tugasnya hanya menulis saja.

Tapi kejadian-kejadian yang saya alami selama proses pembuatan skripsi saya ini membuat saya menjadi berpikir bahwa sebenarnya ada sebuah konspirasi. Konspirasi yang sengaja dibuat untuk menjegal saya menuju ke ruang sidang. Untuk mengagalkan saya lulus dari kampus itu.

Bukannya saya tertular si AK, dan menjadi seorang conspiracy theorist. Akan tetapi, bayangkan saja…

Mantan kepala jurusan, yang mengacak-acak bab 3 saya, kini hilang entah ke mana rimbanya. Padahal, dia sudah mencabut satu teori yang ingin saya gunakan di bab 3, dan menyuruh saya mengganti dengan teori yang lain. Setelah saya tidak lagi menggunakan teorinya, dan saya ingin bertanya kepada beliau tentang teori apa yang seharusnya saya gunakan. Eh, orangnya ga pernah kelihatan lagi. Muncul di YM pun tidak membalas pesan saya… Akhirnya saya mengatasinya dengan mencari teori baru sendiri.

Pembimbing saya, ternyata bukan dosen komunikasi. Memang benar bapak yang satu ini baik hati bukan main dan bersedia mendengarkan argumen saya dan tidak seenaknya mencerabut konsep yang saya buat. Tetapi lebih sering terjadi, beliau tidak mengerti apa yang sedang kita bicarakan di dalam skripsi ini. Sering kali pembicaraan melenceng ke mana-mana dan saya tidak tahu harus berbuat apa… Yang pembimbing kan dia, bukan saya…

Awalnya saya berharap lebih banyak kepada co-pembimbing, alias pembimbing dua, istilahnya di tempat-tempat lain. Pembimbing dua ini, katanya seharusnya mengurusi masalah teknis, seperti format laporan dan juga pemeriksaan tanda baca, ketikan dll. Dan baru kemarin saya tahu bahwa ternyata co-pembimbing saya ini tidak tahu bagaimana seharusnya format skripsi yang diakui oleh kampus saya.

Okelah, mungkin teori konspirasi untuk menjegal saya menuju ruang sidang, atau tindakan ingin menghancurkan masa depan saya dengan membuat saya tidak lulus skripsi ini terdengar terlalu berlebihan. Akan tetapi, saya tidak mengada-ada soal ketiga dosen yang bersatu padu membuat proses penulisan skripsi ini seperti menjalani proses pembantaian ala SAW. Saya memutilasi skripsi saya karena mereka menginginkannya begitu, tapi ternyata saya sudah melakukan percobaan bunuh diri tanpa saya tahu kenapa saya harus lakukan itu.

Mungkin teori konspirasi yang saya buat tadi terdengar konyol, tapi saya merasa apa yang dilakukan kampus saya terhadap saya (dan juga mungkin teman-teman saya) jauh lebih konyol lagi. Bagaimana mungkin sebagai sebuah institusi pendidikan mereka tidak mempedulikan hal ini? Semua ini terjadi di depan mata mereka sendiri…

Setidaknya mereka bisa bersikap lebih profesional. Seandainya pun, dosen-dosen yang ditugasi membimbing saya tidak tahu tentang apa yang sedang saya kerjakan, tetapi karena beliau memiliki tugas untuk membimbing saya, setidaknya mereka mempersiapkan diri dengan mempelajari dahulu, atau bertanya kepada rekan sejawat mereka. Karena, saya yakin, tidak akan bisa seseorang yang sama sekali tidak mengerti, membimbing orang lain yang sama tidak mengertinya.

Indro WARKOP berkata, “Baru kali ini ada orang buta nuntun orang buta”.

“Di instansi pendidikan pula,” tambah Bybyq.

Advertisements

9 responses

  1. OK…..ini curhat soal TA (tugas akhir) ya bow? keknya seru!! Byq, biar kamu bilang project macam pembantaian dibanding skripsi, sejujurnya, walaupun TA ku pun kulalui dengan darah, air mata, kurang tidur, ga sempet makan, buang duit, dan lain-lain (sumpah, ga lebay!!) teteeep… bagi ku, project (TA) jauh lebih manusiawi dari pada kripsi (karya tulis) Mungkin ini cuma masalah selera ajah siiih…
    Well, selamat berjuang ya!

    Like

  2. kalo loe naga, pasti sudah menyemburkan api ya byq?? hehe…
    hmmm hmmm hmmm garuk-garuk kepala…masih bingung…kok bisa pembimbing loe itu bukan dosen yang harusnya mengerti bidang tersebut? kok ya bisa asst pembimbinnya ga ngerti format skripsi?? aiyoooo…..ra mudeng!

    Like

    • laptop gw aja sampe kbakar jek pas YM-an ma bybyq. wkwkk =D
      Belajar dr pengalaman, jgn prnh rekom ponakan lo atau siapapun yg lo kenal masuk kampus bybyq, kecuali lo ada sentimen pribadi dgn tu org =P

      Like

      • @byq: Iya byq pas buka dunia maya pas lihat tulisan loe wkwkwk…langsung komnen deh, saking bingungnya sama kampus loe…gak bisa nyangkut di otak gw saking anehnya…

        @ Jin: ahahaa..komen jinny oh jinny paraaah!! gw pikir kampus gw udh menyebalkan, ternyata menurut survei jauh lebih wookee dr kampus lain hahaha…

        hehehe tapi sesungguhnya gw masih heran. krn seharusnya yg membimbing itu yg ngerti banget dibidangnya. masalah format penulisan dan packaging skripsi dulu gw dari kampus udah dibekali buku panduan skripsi yang isinya berupa petunjuk penulisan dari bab 1 s-d 5, berapa besar font, spasi, jenis tulisan, paragraf sampai cover dll sudah dijelaskan dibuku itu, jadi pembimbing hanya cukup memeriksa aturan bahasa, ga perlu ada asst.pembimbing. sayang banget kalo hal kayak gitu jadi menghambat generasi penerus bangsa hahahaha….cobalah byq loe naik complain ke kajur or Dekan sekalian…rebeth nyaaaa….

        Like

      • Begitulah, Jek… makanya gwe bilang, dalam kasus skripsi gwe, ini kaya orang buta nuntun orang buta. Nuntunnya ke pembantaian….

        Like