Kalau Bybyq Ngomong Jahat

Standard

Harus diakui bahwa saya memang tidak terlalu pandai bermanis mulut, apalagi kepada orang-orang terdekat saya. Tanpa mengurangi respek saya kepada mereka, sering kali saya berbicara cenderung tanpa filter. Jujur saja, gaya bicara saya cenderung pedas dan menusuk, atau minimal saat mood saya sedang tidak terlalu buruk, saya menyindir dengan sangat menyebalkan.

Meskipun demikian, kalau tidak dalam keadaan terpaksa, dan kalau emosi saya tidak dipancing sedemikian dahsyatnya saya hampir dibilang tidak pernah memaki dengan kata kasar. Menurut saya, setidaknya itulah perbedaan saya dalam mengungkapkan kekesalan. Saya nyaman dengan apa yang saya lakukan, dan cukup puas dengan kemampuan saya menahan diri untuk melakukan itu.

“Keahlian” saya untuk menjadi ketus, jutek, dan bermulut pedas ternyata turunan dari keluarga Papa. Bukan masalah ceplas ceplosnya ya, karena kami bukan tipe yang akan angkat bicara kalau hanya untuk sekedar nyeplos (kecuali dalam suasana bercanda). Akan tetapi, kebiasaan kami untuk tanpa rem dan tanpa filter itu sering kali membuat beberapa kuping menjadi panas, dan yah… berbuah beberapa orang memilih untuk menjauh.

Tak masalah.

Saya hanya akan mengatakan sesuatu hanya apabila saya merasa dekat dengan orang tertentu. Tidak ada perlunya bagi saya untuk cerewet pada orang yang, bahkan, tidak saya pedulikan. Apa untungnya bagi saya menasehati orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya? Jadi pertama-tama, apabila saya mulai bisa cerewet dan kepo tentang seseorang, artinya saya peduli. Dan apabila saya cerewet, artinya saya ingin orang tersebut menjadi lebih baik.

Bukankah begitu?

Pengalaman mengajarkan saya untuk tidak memberi nasehat apabila tidak diminta. Tapi sekali waktu ada seseorang meminta nasehat, mereka harus bersiap mendengar kata-kata terpedas dari saya. Anehnya, beberapa orang menikmati santapan pedas ala Bybyq, dan ‘nagih’ nasihat-nasihat clekat-clekit yang saya lontarkan. Saya suka orang semacam ini, setidaknya mereka melihat kebenaran dari kata-kata saya.

Saya sendiri, tidak keberatan dengan orang-orang yang suka berkomentar pedas. Contohnya Simon Cowell, salah satu juri American Idol (saya tidak tahu apakah beliau sudah diganti atau belum), atau Monty Tiwa, tweeps favorit sayan, atau Hercule Poirot detektif rekaan karya Agatha Christie. Kata-kata pedas, tajam, dan menyebalkan adalah ciri khas mereka. Terkadang terselubung sikap badass, yang membuat mereka dibenci beberapa pihak. Tapi di balik itu semua, komentar-komentar mereka sebenarnya cerdas, kritis dan objektif.

Tapi saya tidak suka model kasar macam komentar kemenangan pegulat yang baru saja menyelesaikan pertandingan. F words sana sini, sama-sama membuat kuping panas, dengan cara yang berbeda, tentunya. Juga saya tidak suka dengan komentar asal ceplos, yang sok lucu, sok pedas tapi dangkal. Perbedaanya jelas. Yang pertama saya sebutkan tadi bertujuan untuk membangun, yang kedua dan ketiga bertujuan untuk menjatuhkan.

Saya percaya dengan kekuatan kata-kata. Kalau tidak, buat apa saya mengorbankan jempol saya untuk menulis blog? Itulah mengapa saya percaya bahwa sepahit apapun, sebuah komentar yang bertujuan membangun akan lebih baik efeknya daripada kata-kata yang bertujuan untuk menyakiti. Contoh paling jelasnya kita bisa lihat dari komen-komen yang muncul di forum-forum, misalnya tentang kasus Ariel Luna (ya… Ya… Saya tahu, kasus ini sudah mulai membosankan). Tapi coba tengok komentar-komentar orang-orang ini.

“LM sudah sombong, sok suci pula. Mampus sekarang ketauan, ternyata p*rek” atau “Ariel memang udah ketauan PK, ng*ntot di mana-mana, mampus skarang karirnya hancur” atau komentar sejenisnya. Sering dengar?

Bagaimana dengan ini? “Ngapain sih mesti direkam? Bego banget ga sih, ga belajar dari pengalaman orang-orang yang videonya bocor?” Atau, “Those two idiots… Pake kondom kek. Ga takut kena penyakit apa?”

Can you see the difference? Can’t you? Tentu saja bisa, karena saya yakin semua pembaca Superbyq memiliki intelejensia tinggi. Contoh pertama menunjukkan komen asal ngomong, yang tujuannya murni buat menyakiti perasaan orang lain. Contoh kedua, adalah nasehat yang dibungkus dengan kata-kata menyebalkan, kalau yang dengar sakit hati ya apa boleh buat.

Advertisements

3 responses

  1. Eugene likes this!!
    Gw suka tulisan2 lo, gw suka gaya bicara lo, ceplas ceplos apa adanya. Gw suka cara lo temanan ma gw.
    Intinya gw suka ma lo,byq. wkwkwkk =D **plakplak**

    Eniwei tq lo udh kepo2in gw, cerewet2 ke gw, menyadarkan gw lwt obrolan2 mlm qt atau lwt tulisan2 lo =)

    Like