Pertunjukan Seni dan Budaya Tionghoa, di Gedung Kesenian Jakarta, 26 Juni 2010

Standard

Beberapa hari yang lalu, saya dan kedua adik saya pergi ke GKJ untuk menonton pertunjukan seni budaya Tionghoa. Pertunjukan ini diadakan dalam rangka merayakan hari ulang tahun kota Jakarta. Saya pikir karena acara ini adalah bagian dari sebuah perhelatan besar ibu kota, maka seharusnya juga dikemas dengan baik.

Ternyata rupanya saya berharap terlalu tinggi bahwa kota Jakarta memiliki visi untuk memamerkan image kebudayaannya dengan lebih baik. Acara yang seharusnya bisa menarik ini tidak dipromosikan dengan baik, buktinya malam minggu itu kursi-kursi tidak terisi penuh. Saya curiga, pamor acara ulang tahun Jakarta tenggelam oleh Piala Dunia, bahkan di mata warganya sendiri.

Pertunjukan seni ini, sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai pertunjukan seni tari dan lagu tradisional Tionghoa. Saya sedikit berharap ada drama, namun sepertinya saya berharap berlebihan. Meskipun tari-tariannya dapat saya katakan menarik, menghibur, dan beberapa malah bisa membuat saya bengong menonton… tapi tanpa pengemasan tema, tari dan musik itu terasa tidak nyambung satu dengan yang lainnya.

Penonton, menurut saya adalah bagian dari acara. Tidak mungkin sebuah pertunjukan berjalan tanpa ada penonton. Maka, dapat dibilang peran penonton sangat besar dalam kesuksesan suatu acara. Sayangnya, tidak banyak yang menyadari hal ini. Dengan kurangnya “kontak” antara performer dan penonton, penonton tidak merasakan apa bedanya menonton TV dan menonton seni panggung. Akibatnya jelas, penonton merasa bisa seenaknya sendiri seperti sedang menonton bioskop saja.

Saya, sejujurnya tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran penonton-penonton yang lain saat mereka datang ke GKJ hari itu. Apa yang mereka harapkan akan dipertunjukkan hari itu? Apa yang mereka pikirkan tentang para performer itu? Karena saya sempat berpikir, kelakuan penonton-penonton itu tampak tidak seperti sedang menikmati sebuah pertunjukkan seni. Bahkan saat saya menonton teater di Santa Ursula saja penontonnya lebih tahu aturan daripada mereka yang ada di GKJ kemarin.

Di awal acara, sudah diumumkan bahwa segala jenis peralatan elektronik yang dapat menimbulkan bunyi harus dimatikan. Masih saja saya mendengar suara HP ibu-ibu yang duduk di depan saya (ngangkatnya lama pula). Juga bapak-bapak yang duduk di sebelah kanan saya, menghabiskan sepanjang acara dengan mengobrol dengan entah siapa di telepon (jujur saja saya terganggu dengan aktivitasnya). Tapi yang membuat saya benar-benar tidak sabar adalah keluarga yang duduk di belakang saya, membawa rombongan anak-anak kecil menonton.

Saya tidak mengerti mengapa orang tua membawa anak-anak yang terlalu kecil untuk mengerti sebuah pertunjukan, dan membiarkan mereka mengacau dan mengganggu penonton yang lain. Saya mungkin memaklumi tujuan mereka untuk memperkenalkan kebudayaan kepada anak mereka sejak dini, seandainya mereka menjaga anak mereka agar tetap berkelakuan baik. Tapi anak-anak yang duduk di belakang saya benar-benar mengganggu. Entah berapa kali kursi saya ditendang saat mereka berganti posisi di tempat duduk mereka, dan orang tuanya sepertinya tidak peduli.

Dan, jangan mengira semua orang kulit putih punya apresiasi terhadap kebudayaan tradisional. Di sebelah kiri Mon, sekitar lima orang warga berkulit putih tertawa-tawa dan mengobrol dengan keras satu dengan yang lain selama pertunjukan, dan (untungnya) menghilang setelah jeda rehat. Jadi jangan pernah lagi menggeneralisasi bahwa bangsa asing lebih menghargai kebudayaan dibanding bangsa kita. Sama saja ternyata…

Tetapi… Yang paling mengenaskan justru bukan dari penonton.( Segi artistik tidak perlu dipertanyakan lagi karena menurut saya sudah cukup bagus. ) Melainkan, dari segi teknis.

Saya tidak tahu kenapa, tapi secara teknis pertunjukan ini mengenaskan. Entah apakah karena kendala dana, atau kendala yang lain, tapi kekurangan-kekurangan teknis ini bukan hanya mengganggu tapi sudah merusak dengan fatal. Saya tidak mengerti kenapa di pertunjukan ini tidak ada satupun properti panggung yang digunakan. Saya juga tidak mengerti kenapa background yang ditampilkan melalui infokus adalah gambar kuburan. Saya tidak mengerti kenapa tidak ada persiapan lagu iringan untuk encore penyanyi mereka. (Ya! Penonton bahkan minta encore untuk lagu penutup)

Saya tidak bisa menjelaskan kenapa ada satu lagu yang sama digunakan untuk dua tarian yang berbeda. Saya tidak tahu bagaimana bisa lagu yang digunakan berhenti di tengah-tengah saat tarian masih berlangsung. Saya juga tidak memahami jalan pikiran si koreogerafer yang menggunakan lagu versi “unplugged” dengan suara tepuk tangan di akhir lagu, yang membuat tepuk tangan penonton di auditorium terdengar konyol.

Saya terdengar terlalu baik kalau saya mengatakan, bahwa secara teknis pertunjukkan ini kurang sukses. Mestinya saya katakan, hancur total gagal berantakan. Dan… Acara ini digelar dalam rangka ulang tahun kota Jakarta? Apanya? Oh! Bahkan tidak ada satupun dari rangkaian acara menunjukkan sisi “Jakarta” mereka. Bahkan mereka menyewa penari luar negeri… Bahkan… Bahkan…

Ah.

Mengenaskan ah…

Advertisements

4 responses

  1. ¿Tionghoa?. Oh ya betul. Tapi disini di Barcelona (Spain) kita pangil CBI, Chinese Born in Indonesia.
    Salam kenal.

    Like

  2. after – before

    Before : lihat judul post si bibiks di blogroll, terbesit keinginan nonton, kayanya menarik tuuh.
    After : khatam baca post si bibiks, terbesit pikiran “kok ancur getoh ya…buat menyesal nontonnya”

    Kesimpulan : makaseeh..kayanya gak usah nonton deh

    Like

    • Wah salah review yah? Justru mesti nonton acara ini kamu, Oei. Acaranya sebenernya bagus banget…. tari-tariannya cantik banget… Kalo kamu suka musik tradisional Tionghoa, yakin.. kamu bakalan bengong saking bagusnya…

      Sayang aja… nggak maks di fasilitas dan atributnya 🙂

      Like