Once Upon A Time In Solo, With My Grandfather

Standard

Gara-gara menonton pertunjukan seni budaya Tionghoa beberapa hari yang lalu, saya jadi teringat kakek saya. Jujur saja, kakek saya adalah satu dari sedikit (atau mungkin malah satu-satunya) orang yang mendekatkan seni dan budaya kepada saya. Seni dan budaya Tionghoa, salah satunya.

Kakek saya mencintai seni dan budaya, dan juga olah raga. Kepada kami, dia mengajarkan sesuatu yang lepas dari kawalan Papa dan Mama yang lebih menekankan nilai-nilai akademis. Kakek saya menghargai lukisan kanak-kanak yang kami buat. Kakek saya suka menyanyi dan mendengarkan saya bermain organ di rumah. Beliau juga yang pertama mengajarkan kami tenis dan berenang.

Menonton pertunjukan seni dan budaya kemarin mengingatkan saya pada masa kecil saya ketika kakek saya suka menyanyikan lagu untuk kami. Salah satu lagu yang saya dengar di sana, seolah-olah terdengar seperti senandung yang sering dinyanyikan oleh kakek saya. Tari-tariannya seperti gambar-gambar yang ada di buku musik beliau. Dan tiba-tiba saya kangen kakek saya.

Beberapa bulan sebelum beliau meninggal dunia, beliau sempat mengungkapkan keinginannya untuk pergi ke Cina. Sayangnya pada saat itu kami belum ada cukup dana untuk memberangkatkan kami semua ke sana. Sampai akhir hayatnya kakek tidak pernah mengunjungi tanah leluhurnya, membuat kami sekeluarga menyesal kenapa tidak memberangkatkannya duluan, padahal tahu bahwa kakek saya sedang sakit saat itu.

Kata Papa, kakek saya adalah orang yang cukup moderat untuk jamannya. Beliau tidak penah melarang anak-anak perempuannya untuk sekolah tinggi. Menurut beliau, dapur bukan di mana keempat anak perempuannya harus berakhir. Dari beliau, Papa dan seluruh anggota keluarga yang laki-laki mendapatkan pelajaran yang mungkin tidak pernah sama dari apa yang didapatkan di keluarga lain.

Salah satunya, tentang bagaimana memelihara anak perempuan. Sepanjang yang saya ingat, etnis Tionghoa adalah etnis patriarkal yang selalu mendampa punya anak lelaki untuk meneruskan nama keluarga. Sekalinya punya anak laki-laki, apalagi anak laki-laki satu-satunya, maka anak tersebut akan dihujani segala kemewahan. Semua saudara perempuannya harus mengalah untuk anak laki-laki tersebut. Tapi kakek saya melihat itu salah.

Anak laki-laki keturunannya, harus bisa menjaga saudara-saudara perempuannya. Laki-laki harus mengalah pada saudara perempuannya, baik yang lebih tua maupun yang lebih muda. Tidak ada dalam kamus hidup kakek saya, laki-laki menindas perempuan. Laki-laki semacam itu sudah gagal sebagai laki-laki. Bahkan gagal sebagai manusia. Mungkin itulah sebabnya, adik laki-laki saya, sebagaimanapun kami ketiga kakak perempuannya sering mengganggunya, dia hanya menerima dan tidak pernah membalas. 😀

Saya menghabiskan masa kecil saya mengenal kakek. Kakek saya suka menghabiskan waktu di depan organ, bermain musik dan bernyanyi. Pada hari-hari tertentu beliau pergi ke lapangan tenis untuk berolahraga. Di waktu lain beliau suka menulis di kamarnya, saya tidak pernah tahu apa yang beliau tulis. Atau beliau mengasah pisau atau parang, sebagai hobi sampingannya selain memelihara kebun.

Dan saya kangen kakek saya. Mungkin setelah selesai skripsi ini saya akan jenguk beliau di kuburan beliau.

Advertisements

4 responses

  1. Hehehe… komennya berombongan yah? Pada kangen gwe ga pernah online lagi… sabar yah.. abis skripsi deh… :p

    Like

  2. jadi inget eyang kakung dari nyokap gw deh…dulu waktu gw pulang kerumah badan belepotan lumpur karena abis mainan kue dari tanah dimarahin nyokap, trus eyang gw bilang ” biarin aja jangan terlalu banyak dilarang, biar dia belajar hidup dari pengalamannya selagi gak berbahaya biarin aja” hehe tapi cuma kenal eyang kakung sampai umur 10 tahun, kalo eyang dari bokap malah ga pernah lihat…

    Like