Pantomim Sapu Di Tangan, 30 Juni 2010

Standard

Heyaaa…

Saya curiga ada beberapa orang yang mulai berpikir, “Bisa-bisanya si Bybyq ini bukannya ngerem di kamar, kerjain skripsi, malah nonton teater mulu…”. Maafkan saya! *menunduk dalam-dalam* Bukannya saya bermaksud untuk bersenang-senang, tapi ini mumpung ada kesempatan untuk nonton, saya tidak ingin melewatkannya.

Belum kapok dengan acara menonton Pertunjukan Seni dan Budaya Tionghoa, saya datang lagi, ke Gedung Kesenian Jakarta untuk menonton pentas pantomim dengan judul “Sapu Di Tangan”, oleh grup teater Sena Didi Mime, dan disutradarai oleh salah seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta, Yayu A.W Unru. Sapu di Tangan ini menggambarkan tentang bagaimana kehidupan manusia urban yang hidup di tengah-tengah sampah.

Saya menggunakan kata ‘menggambarkan’ karena pada brosur yang saya peroleh saat saya menonton tertulis bahwa, pertunjukan ini tidak bermaksud untuk mengisahkan sesuatu, hanya ingin menyampaikan kesan, siapa tahu dapat ditangkap sebagai pesan. Dan, saya harus menyampaikan sujud sembah kepada pertunjukan malam itu, yang berhasil membuat saya tergelak-gelak saat menontonnya.

Lagi-lagi permasalahan sebenarnya bukan pada pertunjukannya. Saya yakin pertunjukan seni sekelas ini, pastinya sudah dipersiapkan jauh lebih matang daripada pertunjukan yang saya tonton sebelumnya. Yang menurut saya benar-benar menjadi masalah sebenarnya adalah sikap penonton yang kurang menghargai apa yang dipertunjukan di panggung sana. Saya tidak mengerti, mereka rela mengeluarkan uang untuk menonton teater, tapi tidak menghargai apa yang mereka tonton… untuk apa?

Jujur saja, tiket menonton teater bisa dua kali lebih mahal daripada menonton bioskop. Saya, bukan sok kaya dengan menonton pertunjukan ini, tapi saya memang menyukai hal-hal semacam ini. Bahkan waktu SMA dulu saya tergabung dalam grup teater yang ada di sekolah saya. Saya pernah merasakan apa yang dirasakan mereka yang berdiri di atas panggung, dan jujur saja, saya tidak suka kalau jerih payah saya, berlatih siang malam untuk perform, dilecehkan… (maaf, saya tidak bisa menemukan kata yang lebih baik lagi).

Pertama-tama yang sangat mengganggu di gedung pertunjukan itu, adalah (lagi-lagi) mereka yang membawa anak, tapi tidak sanggup membungkam anak itu selama pertunjukan berlangsung. Lebih parah daripada pertunjukan kemarin, anak kecil yang kami jumpai pada pertunjukan Sapu di Tangan ini berteriak-teriak di auditorium. Seandainya saya ingin memperkenalkan anak saya pada dunia seni pun, tidak akan saya bawa ke acara-acara bertema dewasa seperti ini. Selalu ada operet Bobo yang sesuai untuk anak-anak. Di sini, mereka sangat mengganggu… SANGAT! Dan masih ada yang ketawa dengan tingkah laku anak-anak ini…

Dan inilah yang kedua, yang tidak kalah mengganggunya bagi saya. Kali ini gangguannya bukan hanya gangguan fisik, tapi juga mengganggu pikiran dan mengusik saya sampai beberapa jam setelah acara menonton ini usai. Sekelompok mahasiswa seni, dari sebuah institut seni yang menurut saya adalah teman-teman dari pemeran pertunjukan itu menonton di depan kami. Mereka tidak hanya melontarkan komentar-komentar yang tidak pada tempatnya, juga menurut saya, tidak memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada teman-teman mereka yang sudah tampil. Dan yang mengganggu saya sampai beberapa jam kemudian adalah, karena pelakunya bukan orang tidak berpendidikan yang tidak mengerti seni.

Mereka sesama pekerja seni, kenapa tidak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan kepada sesama seniman? Saya sering mendengar keluh kesah bahwa seniman di Indonesia merasa kurang dihargai, tapi ternyata kurangnya penghargaan itu bukan hanya muncul dari masyarakat awam yang tidak mengerti seni pertunjukan yang mereka tampilkan. Bahkan pelecehan yang lebih menyakitkan menurut saya adalah karena bahkan seniman atau mungkin calon senimannya sendiri saja tidak bisa membuat diri mereka mendapatkan penghargaan yang layak dengan sikap norak selama di dalam gedung.

Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa menunjukkan muka di depan penonton-penonton dari luar (saya melihat banyak orang asing yang sengaja datang untuk menonton ini). Apakah mereka tidak malu menunjukkan sikap semacam itu kepada karya anak bangsa sendiri? Di mana penonton-penonton yang orang asing itu menatap bengong, tidak mengerti kenapa pertunjukan bagus semacam ini ditonton orang-orang semacam itu…

Bener deh…

Saya sangat suka dengan pertunjukannya. Saya hanya berharap mungkin suatu hari saya bisa menyewa seluruh gedung untuk saya sendiri, menonton lagi pertunjukan ini…

Advertisements

One response

  1. Hrmm aneh, komentar saya tiba2 menghilang. Pokoknya saya ingin mengatakan bahwa artikel ini bagus supaya tahu bahwa orang lain juga menyebutkan ini, karena saya mengalami kesulitan mencari info yang sama di tempat lain. Ini adalah tempat pertama yang mengatakan kepada saya jawabannya. Terima kasih.

    Like