Don’t Judge A Book…

Standard

Basi tentunya.

Tapi yang ini tentu saja bagi saya merupakan sebuah pelajaran yang sungguh berharga. Pepatah klasik yang meskipun saya hafal di luar kepala, baik kalimatnya, maupun artinya, suka saya langgar sendiri dalam praktek hidup saya sehari-hari. Rupanya saya nggak kapok-kapok.

Hm… Tapi ternyata saya tidak selalu melakukan salah yang sama. Intinya, saya jatuh di lubang yang berbeda dalam rangka “menghakimi sebuah buku”. Beberapa waktu lalu, saya terlibat sebuah pembicaraan panjang, serius, dan membawa saya pada sebuah kesimpulan bahwa peribahasa, “don’t judge a book by its cover” itu salah.

Kok bisa?

Saya jabarkan panjang lebar. Saya tidak berkeberatan menjelaskan, hitung-hitung latihan jadi dosen suatu hari nanti. Siapa tahu ada yang tertarik menjadikan saya dosen filsafat karena topik byqlosophy saya. Pemilik blog tetangga saja dapat kerjaan jadi penulis karena blog beliau, bukan ga mungkin kan ada yang ngundang saya ceramah dengan byqlosophy saya.

Gawat. Ngelantur.

Don’t judge a book by its cover adalah ungkapan lama, artinya jangan menilai seseorang dari penampilannya. Seseorang berpenampilan gembel bisa saja ternyata dia adalah seorang milyarder pelit (baca: Scrooge McDuck). Seseorang berpenampilan cupu, bisa saja dia ternyata seorang superhero (baca: spiderman). Bisa saja orang berpenampilan perlente ternyata adalah maling kelas kakap (baca: Danny Ocean).
Tapi bagi saya don’t judge a book by its cover adalah ungkapan lawas. Tidak salah, tapi terbukti tidak sepenuhnya benar. Bagi saya, yang mendekati kebenaran adalah: don’t judge a book… at all.

Don’t judge a book by its review.

Pernah denger orang bergosip, “jangan temenan sama si A. Ga baik…” Atau “Coba deh kamu kenal sama si B… Anaknya asik banget”. Tapi begitu kita bertemu dengan yang bersangkutan ternyata kita mendapatkan kesan yang berbeda dari pendapat “reviewer” kita. Jangan menilai seseorang dari pendapat orang lain yang sudah lebih dulu mengenalnya.

Don’t judge a book by its synopsis.

Kesan pertama yang sekilas belum tentu benar. Bisa saja dia memanipulasi kesan pertama. Toh, kita belum mengenal orang itu. Mana mungkin menilai sebuah buku itu menarik atau tidak hanya dari penggalan sinopsis di belakangnya? Sama seperti manusia, tidak mungkin menilai mereka hanya karena kesan dangkal yang kita dapat sekilas saja.

Don’t judge a book by its genre.

Novel remaja, dangkal. Roman dewasa, picisan. Buku sastra, keren. Novel fantasi, kreatif. Lho? Sama seperti kita tidak bisa menilai buku itu menarik atau tidak hanya melalui genrenya, kita tidak bisa menilai orang dari latar belakangnya. Anak SMA, labil (meskipun saya punya contoh nyata anak SMA yang labil, tapi saya tidak mau menggeneralisasikan, karena saya tahu pembaca saya berintelegensia tinggi). Anak kuliahan, idealis. Lulusan S2, berwawasan luas. Akademisi, berpikiran terbuka. Oh, sungguh salah.

Don’t judge a book by its author.

Menilai buku dari penulisnya. Menilai orang dari siapa orang tuanya. Bah… Kalau orang tuanya pendeta, belum tentu anaknya alim. Kalau orang tuanya pinter bisnis belum tentu anaknya bisa pegang perusahaan. Kalau orang tuanya dosen, belum tentu anaknya lulus kuliah. Kalau orang tuanya dokter, belum tentu anaknya sehat. Begitu pula, kalau orang tuanya cerai, belum tentu anaknya brengsek. Lagipula, meskipun buah jatuh tidak jauh dari pohon, tapi tetap saja kalau dia tumbuh sebagai pohon baru, dia adalah pohon yang berbeda dari induknya. So?

Yang terakhir. Don’t judge a book by its author’s writing style.

Saya percaya yang sering blogwalking pernah sampai ke berbagai blog dengan berbagai jenis gaya tulisan. Ada blog yang keras, ada blog yang halus. Ada blog yang berat, ada yang ringan. Ada yang berisi, ada yang ga jelas isinya apa… Ada yang ditulis dengan bahasa-bahasa tinggi, tapi sebenernya isinya nggak penting. Ada yang diungkapkan dengan bahasa sederhana, tapi kalau dipikirkan dalam-dalam, jauh lebih bermanfaat daripada blog yang sok berat itu…

Jadi… Sampailah saya kepada sebuah kesimpulan. Tidak adil apabila kita melempar judge pada seseorang. Meskipun saya sendiri yakin, some people do deserve it *menunduk sebelum dilempar tomat*. Tapi dari apa yang saya alami kemarin, saya merasa menilai seseorang tanpa pernah mengalami keterlibatan langsung, sebenarnya kurang asik. Sering kali salah… Dan sering kali salahnya fatal.

Namun demikian, (astaga, saya pakai kata namun demikian…) saya tetap melakukan itu. Memang bebal saya ini, tapi beberapa orang memang terlalu obvious sih… Apa boleh buat… 😀

Advertisements

5 responses