Hari Ini Saya Bangga Pada Pepita

Standard

**flashback with melodramatic theme song**
Tahun 2003, pertama kali saya mengecap kehidupan ngekos. Pertama kalo jauh dari orang tua. Nyetir belum becus, bahkan seandainya saya bisa nyetir pun, saya tidak tahu jalan di Jakarta ini… Life wasn’t that easy.

Tanpa kendaraan pribadi yang sanggup membawa saya ke manapun yang saya inginkan, sulit buat saya untuk ke kampus bahkan, saat hari terlalu panas atau, seperti sekarang ini, hujan terlalu deras. Kendaraan umum tidak lewat di depan kos saya. Saya hanya bisa mengandalkan apabila ada orang yang pulang ke kos naik bajaj, atau tebengan (yang jarang ada).

Kadang-kadang ada teman-teman yang baik rela memutar jalan, dan masuk muter-muter untuk menjemput saya. Kadang tidak. Kadang kami mengandalkan kebaikan hati teman kos sebelah yang lokasi kosnya punya jalan tembus sehingga kami bisa memotong jalan lebih dari setengahnya. Sering kali tidak berhasil.

Tapi suatu hari, ada seorang tante. Benar-benar asing, meskipun kami tinggal satu kos, tapi dia sama sekali tidak pernah bicara pada kami. Hari itu terlalu panas menyengat, sampai-sampai kepala bisa pusing, atau bahkan mimisan untuk kasus saya. Tante ini berhenti disamping saya dan teman saya,

“Mau nebeng? Sampe ujung jalan besar sana ya…”

Terharu nggak sih?

Sejak punya Pepita, saya tidak lagi harus mengalami hal semacam ini. Saat panas menyengat saya bisa menyalakan pendingin. Saat hujan deras, kap Pepita melindungi kepala saya dari terpaan. Saya tidak perlu menggulung ujung celana supaya tidak kebasahan, atau kena flu setelah berlari-lari menghindari hujan. Intinya, saya tidak harus sengsara seperti dulu. Tapi bukan karena itu tepatnya saya bangga pada Pepita.

Hari ini Pepita menolong dua orang yang sedang kesulitan.

Hujan deras hari ini memang agak di luar kebiasaan. Karena banyak urusan kampus yang harus saya selesaikan, maka saya pun terpaksa harus ke kampus. Kubangan air setinggi ban mobil membuat Pepita harus berjalan perlahan-lahan supaya mesinnya tidak tersedak air dan lumpur. Dan saya berhenti di pos satpam untuk menyerahkan kartu. Itu lho, kartu yang dikasih ke pengemudi sewaktu memasuki kompleks perumahan.

Satpam: “Mau ke mana Non?”
BYQ: “Ke kampus Pak… Tapi kayanya mau ke mal dulu” (kenapa juga saya harus menjelaskan rute perjalanan saya ke Pak Satpam?)
Satpam: “Non, kalo mau ada yang nebeng boleh ga?”

Somebody is actually in the need of MY help? Bybyq si antisosial ini?

Hey. Saya memang bukan pahlawan baik hati yang ramah dan suka menolong. Tapi saya anak kos. (Hidup anak kos!!) Dan se-ansos-ansosnya anak kos, kami tetap memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Setidaknya kami HARUS memiliki kesadaran yang CUKUP untuk bisa get along well sama penghuni kos yang lain. Bukankah begitu?

Oleh karena itu, tanpa saya melihat siapa yang akan saya angkut, saya mengiyakan permintaan itu. Niat saya makin mantap setelah dua orang mahasiswi, masih kecil-kecil (saya memang penggemar daun muda *tante girang mode:on*) masuk ke dalam Pepita. Seorang anak kos senior, memang harus membantu junior-juniornya bukan? Dan saya mengambil jalan berputar untuk menurunkan mereka di tempat yang jauh lebih kering, dekat dengan gedung kampus mereka.

Pepita memang hebat.

Saya bukan super hero. Saya pun bukan tipe pahlawan yang sering mengorbankan diri demi orang lain. Apalagi malaikat (Terlepas dari, tentu saja, popularitas sesaat yang muncul ketika namamu disebut-sebut sebagai malaikat yang diturunkan dari langit sebagai utusan Tuhan. Please don’t do this to me. I’m an atheist.) Anehnya, I actually felt a little happier. Tentu saja, saya tidak membawa misi “sebarkan cinta untuk sesama”, because it is bullshit. Tidak perlu ada misi semacam itu, if only they knew how good it felt when you actually doing it, you’ll do it again when you have the chance of doing it. Ya kan?

Ternyata manusia, tidak perlu diajari untuk berbuat baik. Saya bahkan tidak perlu buku pedoman untuk mengetahui apa yang seharusnya saya lakukan di situasi seperti tadi. Kindness is, maybe, a natural instinct, yang membuat manusia survive selama ini.

So, Pepita sudah melakukan kebaikan hari ini. And I’m going to treat myself with eskrim om today for this. I definitely deserve it. Yay!

Advertisements

11 responses

  1. Hmm,
    seperti intro film-film slasher yang itu lho, yg memberi moral cerita: “Jangan pernah menumpang sembarangan”. *siap dibantai*

    Like