3 Things That I Love The Most

Standard

Saya sempat mengobrol dengan teman-teman saya. Di dunia maya tentunya karena saya jarang ngobrol panjang lebar sama teman di dunia nyata (teman dunia nyata pun, kebanyakan dulunya teman dunia maya… So… Yeah…). Seperti biasa, dari obrolan ngalor ngidul, saya suka mendapatkan inspirasi sendiri. So, yea, saya berterima kasih kepada teman-teman yang mungkin tanpa mereka sadari membantu saya berkembang.

Saya mengatakan pada mereka bahwa ada 3 hal di dunia ini yang saya cintai melebihi apapun. Yang pertama saya mencintai dunia pendidikan (yea, AK boleh ketawa), yang kedua saya mencintai budaya. Yang terakhir, bisa ditebak, saya cinta internet.

Saya mengenal dunia pendidikan justru bukan dari sekolah. Sejak saya sekolah, saya tidak pernah mengalami kesulitan berarti di bidang akademis. Meskipun saya tidak pernah benci bersekolah, tapi saya tidak pernah benar-benar peduli dengan itu. Justru terima kasih pada kampus lama saya (yang dihina di blog produsen sirup markisa), dan kampus borjuis saya sekarang (yang dihina di blog yang sama). Membandingkan keduanya membuat saya mengerti apa yang dimaksud dengan “pendidikan ideal”.

Ya. Saya ingin menjadi dosen suatu hari. Uh, dari blog ini saja mungkin beberapa orang sudah berpikir bahwa tulisan-tulisan saya agak-agak preachy. Yay. Saya ingin mengajar. Kalau memungkinkan saya juga ingin menyiksa mahasiswa-mahasiswa itu, sebagai ajang balas dendam saat saya disiksa selama kuliah. Jadi…

Eh?

*mengalihkan pembicaraan* Saya mewarisi ketertarikan di dunia pendidikan dari keluarga nenek saya. Nenek saya dulunya adalah seorang guru. Salah seorang bibi saya menjadi seorang pengajar di salah satu universitas di luar sana. Ada bibi yang lain yang menjadi editor untuk salah satu publisher buku text pendidikan. Dan, saya tidak keberatan loh, untuk bergabung dalam dunia mereka.

Yang kedua adalah dunia kebudayaan. Dunia kebudayaan ini meliputi banyak hal. Saya tidak membatasi budaya itu sebagai budaya tradisional saja, atau seni-seni saja. Budaya meliputi segala sesuatu yang merupakan hasil ciptaan manusia. Kesenian, dan tradisi termasuk di dalamnya.

Wintje Marintje pernah “bersitegang” dengan saya karena pertanyaannya tentang “kenapa saya tidak mau jadi warga negara Amerika Serikat”. Lepas dari perbedaan ideologi yang saya miliki dari negri Paman Sam ini, saya punya alasan yang lebih pribadi. Alasan kebudayaan. Jujur saja saya tidak ingin menjadi bagian dari negara tanpa kebudayaan ini.

Yang ketiga, internet. Yah. Malang melintang di dunia internet. Ngeblog lah, main forum lah, messengger, social network… Dan yang terakhir (moga-moga ga ada lagi perubahan di sini…) Pekerjaan. Yay!

Makanya saya paling sebel kalau internet saya mati. Bukan apa-apa. Tetapi kalau saat internet saya mati, itu menghambat aktivitas saya secara total. Terbayang kan, bagaimana senangnya saya ketika saya pertama kali mendapatkan blackberry, (nyicil ke si Monyed) dan bisa internetan seharian. Euforia!

Well… Sebenarnya saya ingin bisa bekerja di semua bidang itu sekaligus. Skripsi saya ini, salah satu dari usaha saya menggabungkan hal-hal yang saya suka. Keputusan saya untuk menerima pekerjaan di perusahaan yang menawarkan saya pekerjaan ini adalah salah satunya untuk memenuhi kecintaan saya pada dunia ini juga.

Bukankah itu menyenangkan, bekerja dan berkarya di tempat di mana kita benar-benar memiliki passion. Yah, katakanlah mungkin duitnya nggak sebanyak itu, tapi… Bekerja dengan passion rasanya pasti tidak akan menyiksa, seperti kuliah di bidang yang tidak benar-benar kita sukai (been there done that).

Beberapa orang (yang saya kenal), tidak tahu apa passion mereka. Tidak tahu apa yang mereka sukai, tidak tahu apa yang mereka inginkan. Beberapa orang tidak tahu apa obsesi mereka dalam hidup, dan saya sangat menyayangkan itu.

Pertanyaan saya: bagaimana! Bagaimana bisa seseorang menjalani hidup yang bukan hidupnya sendiri…? Bagaimanaaa?! Berilah Bybyq ini pencerahan…

Advertisements

5 responses

  1. aku masuk jurusan yang mendekati passion,
    masuk konsentrasi training & consulting,
    tapi setelah dirasa-rasa, passionku film!
    Huahahaha… 😀

    Like

  2. Dulunya gw sama skali ga tertarik dgn dunia pendidikan, apalagi sampe terjun di dlm nya. Ga prnh kebayang jg gw bakal jd skrg. Aplg jurusan yg gw ambil sama skali tidak ada kaitannya dgn IPA (hahhaha =D, IPA lg IPA lg)
    Tiba2 gw masuk ke dunia pendidikan. Katakanlah berawal dr ketidaktertarikan, ntah karna mw tidak mw gw bakal berkutat dgn pendidikan, skrg gw sudah mulai mencintai pendidikan wlo pun duitnya ga byk.
    Gw “meracuni” junior2 gw termasuk lo =D buat jd pengajar. Aplg klo lo udh minat di bidang ini, alangkah baiknya byq =)

    Like

    • Sok berjasa lo… bahkan sebelom lo racuni juga gwe udah masuk IPA… eh… maksudnya udah kepengen jadi dosen. Bwek!

      Like