Life is Drama Enough…

Standard

So, Please don’t dramatize…

Jujur saja, saya punya sedikit masalah dengan drama. Selama ini saya berteman dan berada di lingkungan drama queens, dan saya tidak terlalu menikmatinya. Bagi saya, hal-hal yang didramatisir itu melelahkan untuk ditanggapi, baik secara logis, maupun secara emosional. Saya bahkan meng-unfollow beberapa orang di twitter yang isi twit nya terlalu emosional. Too much drama…

Okelah, saya tidak masalah dengan orang yang merasa perlu mencurahkan isi hatinya… Mungkin seru juga kalau sesekali menjadi lebay dan nggak jelas sendiri, karena mood tidak bisa ditebak, dan kadang-kadang kebanyakan makan gula bisa bikin orang jadi hiperaktif… (nyambung nggak ya?). Gwe juga suka lebay kalo lagi ngantuk, atau kelaperan (seperti saat ini)…

Tetapi, drama queen itu beda. Dia menarik orang-orang di sekitarnya dalam drama yang dia buat. Bahkan tanpa perlu curhat, segala tindak-tanduk tingkah lakunya seolah meneriakkan, “Tolong saya! I’m dying! Saya belum sarapan pagi ini…”(Ngeblog sambil laper ternyata membuat saya menulis banyak hal tentang kegiatan makan memakan…) So, apa pendapat awal dari seorang Bybyq? Lebay? Fine… Drama queen? Annoying.

Jangan marah dulu, saya punya alasan bagus untuk tidak suka dengan drama queens.

Saya punya sedikit emotional unstability. Saya akui, ini lebih dari sekadar moody. Kalau yang saya intap intip dari hasil browsing-browsing di website, ini dekat dengan gejala Manic Depression Disorder. Bagi saya, bergaul di lingkungan yang penuh drama, bisa menyeret saya ke fase depresi, dan saya tidak suka itu. Yang saya baca dari forum-forum, untuk menghindari saya masuk ke masa depresi, sebisa mungkin saya harus menghindari ‘trigger’. Bagi saya, drama queen itu adalah pemicu yang efektif untuk membuat saya jadi depresi.

Pernah lihat saya depresi? Saya yakin ga ada yang suka liat saya lagi depresi. Nggak ada cantik-cantiknya. (Menjawab beberapa pertanyaan: Kenapa foto di album FB muka gwe berubah-ubah. Juga menjawab pertanyaan kenapa ada fase narsis, dan ada beberapa tahun tanpa foto sama sekali)

Drama Queen, seperti yang saya katakan tadi, memiliki kecenderungan untuk memblow up hidupnya, tentu saja dengan full dramatisasi. Bukan hanya memblow up, dia akan menyeret orang-orang di sekitarnya untuk menjadi bagian dari dramanya… (dengan mendapat peran lain, selain peran utama… Dia ratunya, kan?). Yang terjadi, dan yang mudah diamati adalah, masalah kecil bagi kita, kelihatannya adalah masalah hidup dan mati kalau menurut si Drama Queen ini.

Parahnya, orang-orang di sekitarnya akan juga terseret dalam masalah hidup dan mati itu. Yah… hidup dan mati ala drama deh. Abis mati, nanti juga hidup lagi abis layar ditutup…

Kadang suka rancu sama orang mellow. Kalau orang mellow itu kan memang bawaanya kaya gitu. Emang dia perasa banget, dan emosional banget… emang begitu yang dia rasain. Lagi bete nangis, lagi seneng nangis, lagi marah nangis, lagi cemburu nangis, naik kelas nangis, ga naik kelas nangis juga, skripsi kelar nangis, ga kelar nangis juga… *Dihajar massa*

Bedanya, kalau orang mellow itu plain, murni perasaan. Nggak pake drama. Gimana ya cara menjelaskannya? Saya pakai contoh deh…

Misalnya, Bybyq diumumkan lulus sidang skripsi… *sambil ngarep*

Bybyq yang mellow: *menatap nanar* Terima kasih pak, terima kasih bu… *nangis*

Bybyq yang drama: *bercerita ke temen2nya* gilaaa hampir aja ga lulus gwe… pas di ruang sidang gwe bla bla bla *menceritakan kejadian di ruang sidang dengan hiperbolis*. Gwe rasa pengujinya sensi deh sama gwe… revisinya banyak banget… ADUUH… MATI DEH GWE… NILAI GWE BERAPA YAA?!

Well, yea… dua-duanya seperti diambil dari naskah sinetron kejar tayang, tapi setidaknya saya bisa memberikan sedikit gambaran tentang drama queen, dan mellow menurut saya. Jadi yang mellow, jangan geer dulu yah, ini bukan tentang kalian. Tentang kalian, saya bahas kapan-kapan…

Kembali ke soal si drama queen.

Saya jadi inget beberapa pertandingan sepak bola kemarin. FULL DRAMA. Bukan pemainnya tiba-tiba jadi lebay gitu, tapi pertandingannya sendiri udah drama banget deh. (Dan kata ‘drama’ adalah kata favorit saya bulan ini, jadi… ya gitu deh)

Kesimpulan dan Saran

1. Hidup ini udah cuku drama, bercerminlah pada pertandingan sepak bola…

2. Hidup yang drama ini tidak perlu didramatisir lagi

Saran

1. Tidak ada saran.

NB: *drama queen mode* skripsi kemarin bikin saya gila… bahkan saya membuat kesimpulan dan saran di akhir entry… perlukah saya masukkan daftar pustaka?

Advertisements

One response