Panggil Saya Bitchbyq…

Standard

**WARNING: POSTINGAN INI PANJANG BANGET, HARAP SEDIAKAN POPCORN DAN AIR MINUM UNTUK JAGA-JAGA**

Sepertinya sudah berabad-abad sejak terakhir saya ngetik blog dengan menggunakan enam jari (saya memang nggak bisa ngetik dengan 10 jari, sedangkan gaya mengetik 11 jari sudah basi). Akhirnya saya bisa mengistirahatkan jempol saya barang sejenak, karena saya sudah berhasil mendapatkan koneksi internet saya kembali.

Apakah saya ganti provider? Tentu tidak! Bwek… saya masih mau yang murah ini, apalagi saya sudah berhasil meluapkan emosi saya di counter layanan pelanggan di salah satu mall di dekat tempat di mana saya tinggal. Jadi tidak ada masalah. Lalu kenapa saya harus disebut bitchbyq? *maniacal laughter misterius*

Yap… saya bener-bener berlaku menyebalkan tadi. Bukan tanpa alasan tentunya, tapi karena saya baru menyadari bahwa saya ini salah sepenuhnya. Mungkin CS yang terima telepon pengaduan itu memang ngomong seperti kaset rusak, tapi mereka nggak ada apa-apanya dibanding sama customer service yang saya temui hari ini. Buat saya, CS di telepon kemarin terdengar seperti bawang putih, dan yang tadi saya temui adalah si bawang merah. Dan saya ga doyan bawang.

Eniwei. Mumpung saya belum lupa bagaimana cara membuat rekapan wawancara hasil skripsi kemarin, saya coba jabarkan kejadian yang saya alami tadi selama menunggu mereka menyelesaikan masalah yang terjadi pada kartu saya.

Latar belakang permasalahan:

Beberapa hari yang lalu internet saya mendadak dangdut tidak bisa dipakai, dan itu menyebalkan sekali mengingat saya tidak bisa hidup tanpa internet (lebay mode). Saya sudah menghubungi CS berkali-kali, dan akhirnya kemarin saya memutuskan untuk mendatangi langsung markas mereka di dekat-dekat sini. Gerombolan penyamun itu sedang berkumpul menghitung hasil jarahan mereka. Di sana salah seorang CS mengatakan bahwa dia sudah mengirimkan email ke pusat untuk ‘push’, dan saya katanya bisa menggunakan internet kemaren.

Kesabaran saya masih diuji sekali lagi. Ternyata internetnya gabisa dipake, bahkan sampe tadi jam 4 sore, maka, dengan kesungguhan hati saya kembali lagi ke sana untuk menyelesaikan masalah antara saya dan dia (baca: perusahaan penyedia layanan internet itu lah..). Tekad saya sudah bulat. Hari itu saya harus mendapatkan koneksi internet saya, atau saya harus berhasil mendapatkan uang saya kembali. Maka, tampang jutek dipasang, dan saya melangkah dengan gagah berani menuju kursi panas.

Literally, kursi itu beneran panas, soalnya orang yang duduk di kursi itu sebelumnya memang berpantat panas, so… yeah…

BYQ: Mbak saya yang datang kemarin, untuk ngurusin kartu ini… *jujur aja, saya udah males menjelaskan sekali lagi, masalah apa yang terjadi pada kartu itu*

CS: Kenapa kartunya? *nyolot*

BYQ: Mbak kemarin ada di sini kan? Masa ga tau? *ikutan nyolot*

CS: Mana saya inget. Pelanggan saya kan banyak… *makin nyolot*

(dalam hati: buset… pertarungan hari ini bakalan berjalan dengan alot… Semoga ga usah sampe adu pinalti)

BYQ: *menjelaskan SEKALI LAGI (mungkin sudah yang ke seratus delapan puluh enam ribu tujuh ratus tiga puluh tiga kalinya saya menjelaskan ini) kenapa kartu saya bermasalah*

CS: Saya coba dulu…

(dalam hari: coba aja… bosen dengernya… dari kemaren dicoba hasilnya sama aja… bikin lama. Buang-buang waktu saya aja)

Lima menit

Sepuluh menit

Lima belas menit dan yang ngantri di belakang saya sudah mulai gelisah, sepertinya kebelet pipis tapi takut begitu dia berdiri, saya selesai. Sebenarnya saya pengen kasih tahu mereka, bahwa ini akan lama. Mungkin akan semingguan lagi baru selesai, karena mbak yang ini masih tidak percaya bahwa koneksinya ga bisa dipake untuk akses.

Untuk mengisi waktu luang, sekaligus untuk membalas tampang nyolot CS, saya menyobek-nyobek brosur yang ada di counter menjadi potongan kecil-kecil yang sangat artistik. Kalau saya punya lem, mungkin sudah saya hiasi meja customer service itu. Pasti cantik.

CS terlihat malas-malasan ngecek, dan sesekali ngobrol bisik-bisik sama temennya yang kerja di bagian cashier. Kadang-kadang cekikikan. Blah. Dan saya pun mengambil beberapa lembar kertas brosur untuk saya sobek-sobek.

Setelah dia menyerah ga bisa browsing, akhirnya dia memutuskan untuk ngecek laporan tentang keluhan saya kemarin. Bener-bener ga efektif, mestinya dia liat keluhan saya dulu sebelum berusaha dengan percuma kaya gitu. Buang-buang waktu. Yah, ternyata memang keahlian dia sebelumnya adalah buang-buang waktu.

CS: Kemarin sama CS sebelumnya, dia bilang mau balikin pulsa?

BYQ: SAYA bilang, kalo SAYA belom bisa pake internetnya, SAYA mau uang saya dikembalikan…

CS: Terus CS sebelumnya setuju?

BYQ: Tanya aja sama orangnya…

CS: Orangnya ga ada…

BYQ: Telpon ga bisa?

CS: Orangnya lagi kuliah, makanya saya nanya sama mbak…

(Iya sih… tapi kan ceritanya saya lagi menyebalkan, so, saya ga mau jawab. Biar aja dia mikir sendiri)

Pada saat ini CS terlihat seperti tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bodoh! Akhirnya saya berbaik hati memberikan SOLUSI. SOLUSI! DARI AWAL SAYA CUMA BUTUH SOLUSI BAGAIMANA SAYA BISA MENDAPATKAN INTERNET HARI INI, CS BODOH!

BYQ: Telpon lah ke pusat… (dapatkah anda membayangkan bahwa saya, sebagai customer, harus mengajari CS bagaimana cara menyelesaikan masalah ini dengan mudah?)

CS: Henpon… henpon… *ngomong ke temennya yang cashier itu*

Selama CS menelepon, saya menyobek-nyobek lebih banyak lagi brosur. Kegiatan ini ternyata addictive. Rasanya lebih menyenangkan daripada merokok. TAPI BOHONG. Intinya saya nggak kekepoan dengerin dia ngomong apa sama orang di pusat.

CS mulai kembali ke laptop, dan dia berubah menjadi Tukul Arwana. Dan dengan senyum kemenangan penuh keberhasilan dia menunjukkan bahwa dia bisa membuka facebook. So?

Saya cuma menatap dia dengan bingung. Ya! Bisa nyambung. Yay! Terus?

CS: *kali ini dia pinter dikit, bisa baca ekspresi ‘sowhat’ saya* APN nya diganti jadi 3gprs

ALAHALAAAH! Kalo cuma itu sih saya juga tau. Tapi kan setau saya itu kena cas lagi! Shit! Jadi kartu saya di modem colok si CS kena cas?!?! I’ll choke you to death loh, kalo kena cas!

BYQ: 3gprs kan kena cas mbak!

CS: *trsenyum so wise* nggak

BYQ: *senyum misterius annoying abis* Kalo kena cas gimana? *pada saat ini saya sangat menyesal saya ga bisa ngangkat alis sebelah doang. saya yakin muka saya bisa lebih menyebalkan kalau saya punya kemampuan itu*

CS: *bingung. mungkin serem juga ya kalo saya tuntut dia karena dia ngilangin pulsa saya untuk buka facebook tadi* *akhirnya lari ke belakang dan kembali lagi… kali ini dengan supervisornya*

ASTAGA! Ternyata di store ini ada supervsornya. Kenapa nggak dari tadi? Saya ga harus adu urat syaraf sama orang ini kalau dari tadi saya dihadapkan dengan supervisornya yang terlihat baik dan tidak bertampang nyolot.

SPV: Mbak… ada masalah dengan sistem kami *blah blah saya ga terlalu perhatiin dia ngomong apa intinya dia jelasin ada masalah yang mengharuskan saya pindah APN*

BYQ: Kena cas? (Ya! Memang hal itu yang paling saya khawatirkan. Kena cas)

SPV: Saya jamin, mbak… nggak akan kena cas…

Lagi-lagi saya harus mengeluarkan tampang ‘huh?’. Saya benar-benar iri pada mereka yang punya kelainan syaraf wajah sehingga bisa mengangkat alisnya asimetris seperti itu. Saya benar-benar ingin mengeluarkan tampang paling menyebalkan yang saya bisa. Untungnya tidak jadi, karena ternyata si supervisor ini baik.

SPV: Saya tunjukkan aktivitas kartu mbak… nanti kelihatan apakah terpotong cas atau tidak… *ketik-ketik*

beberapa detik kemudian…

SPV: Sebentar saya sambungkan ke LAN dulu

Beberapa detik selanjutnya…

SPV: Tunggu ya Mbak… saya harus restart komputernya.

Oke… kelakuan CS tadi memang menyebalkan, tapi saya juga tidak memahami esensinya, kenapa supervisor ini harus melaporkan semua kegiatannya pada saya. Saya tidak perlu tahu dia ngapain kan? Saya ga heran kalau sebentar lagi dia akan mendiktekan password perusahaan kepada saya.

Sambil mennggu, saya mencoba menggali informasi lebih dalam, untuk disebarkan dan dilecehkan di blog ini.

BYQ: Bu… itu *lirik si CS* namanya siapa?

SPV: Hilda… (nama sengaja TIDAK disamarkan)

BYQ: Gil..a? (serius itu yang saya dengar)

SPV: Hilda, mbak…

BYQ: Oh…

SPV: Kenapa, mbak? *tampang khawatir*

BYQ: Nggak apa-apa.. *senyum sok misterius yang sangat menyebalkan sekali*

Akhirnya, intinya si supervisor ini berhasil meyakinkan saya bahwa dengan mengganti APN tidak akan terpotong biaya tambahan. Dan saya memutuskan untuk pulang, karena tidak ada lagi yang bisa saya marah-marahkan di sana. Pas saya mau angkat pantat (saya yakin kursi itu lebih panas dari sebelumnya, kemarahan saya sudah turun soalnya…) supervisor itu bilang:

“saya minta maaf sekali untuk ketidaknyamanannya, ya mbak… juga kalo Hilda ada salah-salah saya minta maaf… maklum Hilda masih baru, baru satu bulan ini masuk…”

Semua image pro muncul… saya berasa sedang keluar dari rumah bordil, di mana seorang  mami meminta maaf kepada saya karena pelayanan salah satu anak buahnya kurang memuaskan. (“Maaf ya bos… maklum anak baru, belom pro… Nanti saya latih lagi deh…) Saya nggak becanda. Bukan bermaksud melecehkan juga… tapi begitulah yang saya rasakan, apalagi kemudian si supervisor melanjutkan lagi:

“Lain kali datang lagi…”

Kan…?

Eniwei… sebenarnya saya ingin membuat ini menjadi postingan trilogi karena saking panjangnya… tapi tak apalah… hitgung-hitung belajar nulis novel :D. Intinya saya sudah bisa ngenet lagi… Yay!

Advertisements

14 responses

  1. tahu ga…CS bisa menyelesaikan masalah loooh!! at lest CS yang saya temui. Setelah didahuli dengan 1 kali telpon “Hallo Itu loooh” call ceter, dan 2 kali ke markas CS tersebut…. hasilnya saya tidak ke sana lagi atau telpon call center lagi. soalnya saya dah malas, ngga worth it, sayang waktu saya buat antri kek orang pengangguran, sayang urat bibir saya buat njelasin masalahnya berulang kali, sayang sama pulsa buat telpon call center…. Jadi, saya biarin aja “masalah” saya itu…. mending hidup dengan “masalah”, dari pada ketemu CS-CS itu…… See, CS menyelesaikan masalah kan????

    Like

    • Saya sungguh berduka cita atas pengalaman buruk anda, dan untungnya masalah saya terselesaikan. Dan meskipun SPV nya menyuruh saya untuk balik lagi ke sana, tapi saya berharap saya nggak usah harus bolak balik ke sana ketemu sama CS yang baru kerja sebulan itu…

      Like

  2. belum baca sampai selesai..
    tapi baca yg ini ngakak abis, sumpeh deh.. “Buat saya, CS di telepon kemarin terdengar seperti bawang putih, dan yang tadi saya temui adalah si bawang merah. Dan saya ga doyan bawang.”

    Like

  3. ah… bagus bagus….. bangsa yg maju adalah bangsa yg mampu melayani wn nya sendiri…. bagus bagus… teruskan ngomel2 kalo ada yg gak benar, semakin takut dan gak berani, semakin kita di injak2 padahal kita bayar, mustinya kita yg nginnjak2 kan? … nginjak apa coba? :)))

    Like

    • begitulah… tapi niat awalnya ga ada hubungan sama injak menginjak sih… tak apalah, sekalian jadi customer yang baik…

      Like

    • Kayanya begitu… gwe ga akan muncul di mal tsb untuk waktu yang lama, karena abis kerja nanti kan pindah kos.. ahahaha

      Like

  4. hah? takjub!!! gw pikir provider gw doang yang suka eror di system, masaloooh tp lama bener perbaikannya parah! ya namanya juga murah byq…wakakakakakkk…wakakakakkkk…wakakakakkk…tapi loe mansthab!! coba tu pas mau lebaran ya byq, pasti loe bisa sekalian ikut bantu-bantu menghias counter dengan hiasan ketupat warna warni dibanding menyobek-nyobek kertas gitu…tapi gw ngakak baca postingan loe ini……wakakakakakkk….

    Like

    • tau nggak dalam komen lo itu ada “wakakakakakk” tiga kali berturut2… btw cape ga baca segitu panjang? Jari-jari gwe terasa sehat nih, setelah lama ga olah raga tau2 bisa digerakkan lagi… hehehe…

      Like