Yeah… So?

Standard

Saya paling tidak suka kalau ada orang mengomentari apa yang sedang saya kerjakan. Apalagi komentarnya bukan komentar yang membangun, bukan saran, bukan komentar yang berguna melainkan komentar sambil lalu, yang sama sekali tidak enak untuk didengar. Apalagi komentarnya dilontarkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Dan apalagi, ditujukan kepada saya akan hal-hal yang saya sukai dan saya cintai. Tentang pekerjaan yang saya lakukan, atau jalan yang saya pilih. Saya tidak suka itu, dan meskipun saya tidak berterus terang kepada mereka yang berkomentar, tapi saya tidak akan menanggapi lebih jauh. Saya tidak mau membuang-buang waktu saya pada orang yang tidak peduli.

Satu hal yang saya jadikan patokan. Orang yang tidak peduli dengan apa yang dia katakan, tidak akan peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Saya tidak suka ketika orang berkomentar tentang pekerjaan yang saya pilih sekarang. Hanya karena mereka tidak mengerti, bukan berarti saya sedang melakukan pekerjaan yang tidak benar, kan? Tidak ada orang yang saya rugikan, dan tidak ada yang saya sakiti. Saya melakukan pekerjaan yang tidak semua orang ketahui, dan saya hanya bisa berpikir bahwa mereka yang tidak mengerti ini hanya sedang iri karena mereka tidak sedang mengerjakan apa yang saya kerjakan.

Misalnya, ketika mereka bilang, “Kerjaan apa, tuh… duduk sambil online kok dibilang kerjaan?”

Lalu kenapa kalau pekerjaan saya memang duduk dan online? Lha wong bidang pekerjaan saya adalah ini. Kalau kamu menganggap pekerjaan semacam itu menyenangkan (dan memang iya) kenapa kamu nggak keluar aja dari kerjaanmu yang sekarang dan cari pekerjaan yang buat kamu menyenangkan?

Here’s the thing.

Some people think that there is someone who’s so lucky to get a job they want. Mereka berpikir bahwa ada orang-orang yang begitu beruntung bisa bekerja sesuai dengan passion.

Saya? Beruntung?

Mungkin saya memang beruntung. Tapi terlepas dari faktor keberuntungan, adakah yang sempat berpikir bahwa saya memang berhak mendapatkan pekerjaan yang saya sukai? Seperti pekerjaan saya sekarang, gitu? Saya menghabiskan lebih banyak waktu di depan komputer, saya menyukai internet, dan saya juga suka menulis. Saya tidak ongkang-ongkang kaki, dan saya yakin boss saya tidak akan bisa menemukan saya kalau saya tidak sedang mencari-cari pekerjaan di dunia maya terlebih dahulu.

Lalu, kalau memang pekerjaan itu menyenangkan, salah saya gitu? Beberapa orang mungkin menganggap pekerjaan menjadi pemain sepak bola itu menyenangkan. Sudah bekerja sesuai hobi, bisa main bola, digilai banyak perempuan, dan masih mendapatkan bayaran besar. Tapi berapa banyak yang mencari pekerjaan ke arah sana? Sebagian besar menghabiskan waktunya melakukan pekerjaan yang tidak mereka suka hanya untuk kemudian menyesali kenapa tidak melakukan pekerjaan yang mereka suka ketika ada kesempatan. Saya? Saya hanya berusaha menghindari penyesalan itu.

Salah satu alasan kenapa saya pindah jurusan ketika saya kuliah saat itu adalah karena saya tidak menyukainya. Saya kuliah setengah hati dan itu menyiksa. Saya tahu di luar sana masih banyak orang yang bertahan hidup, dan mungkin malah menghasilkan lebih banyak uang daripada saya dengan melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai. Tapi hidup, bagi saya, terlalu singkat untuk dihabiskan mengerjakan hal yang tidak kita sukai, dan menyesalinya di kemudian hari.

Mau dikatakan idealis? Silakan saja…

Tidak banyak orang tertarik mengambil jenis pekerjaan baru yang terdengar masih asing, dan belum mereka ketahui ke mana arah dan masa depannya. Tapi setiap orang memiliki visi yang berbeda. Selalu ada pioneer yang memulai dan menjadi yang pertama. Ditambah lagi, pekerjaan ini jelas bukan yang pertama di Indonesia. Sebagian sudah menunjukkan keberhasilan, dan saya yakin saya akan mengikuti jejak mereka yang sudah berhasil di dunia maya. Kenapa tidak?

Ya, saya tahu saya terdengar seperti sedang membela diri atau sedang marah. Sebenarnya tidak keduanya, saya hanya berusaha memberi tahu bahwa ada hal-hal yang tidak diketahui beberapa orang di luar sana. Mereka yang berpikir bahwa blogging adalah milik mereka yang ga punya kerjaan, atau berpikir bahwa twitter hanya menghabiskan waktu… They just don’t know what they’ve missed.

Advertisements

7 responses

  1. yaaa itu lah yang namanya hidup, bagaimanapun kita punya lingkungan byq. Pasti nanti loe bakal nemuin banyak kalimat2 sinis lainnya…entah cara kerja, cara memimpin dll. selama loe ngerasa itu gak ngerugiin siapapun dan semua bisa dipertanggungjawabkan yaaa nikmatin aja! bener kata yujin, anggap aja itu kritik membangun, jadikan pemacu pembuktian bahwa pilihan loe ga salah….semangaaaad!!

    Like

  2. jadi gak berani komen haha
    tapi salut ama prinsipmu di kalimat ini.. “..Hanya karena mereka tidak mengerti, bukan berarti saya sedang melakukan pekerjaan yang tidak benar, kan? Tidak ada orang yang saya rugikan, dan tidak ada yang saya sakiti. Saya melakukan pekerjaan yang tidak semua orang ketahui, dan saya hanya bisa berpikir bahwa mereka yang tidak mengerti ini hanya sedang iri karena mereka tidak sedang mengerjakan apa yang saya kerjakan…”
    semangat byq *tepuk2 bahu bybyq*

    Like

    • lha iya… kamu bayangin aja kalo ada yang komen tentang kerjaan kamu sebagai editor… “kerjaan apaan tuh, nulis jarang-jarang tapi cuman ngedit doang aja dibilang kerjaan”
      mereka ga tau aja susahnya di mana, liatnya kamu cuma seneng-seneng doang ngeditin tulisan orang… bweek! pada sotoy mengira yang namanya kerjaan itu harus susah payah…
      kerja susah payah hanya untuk mereka yang ga punya skill… yang punya dan bisa pake skillnya ya ga perlu.. ya ndak, mas?

      Like