Sumpah Saya Bukan Peramal

Standard

Saya lupa kapan tepatnya saya punya bakat nge-jinx. Kata orang, mulut saya ‘bau’. Bukan dalam artian saya malas gosok gigi, tapi karena saya sering mengatakan sesuatu (yang kesannya asal-asalan) tapi terus jadi kenyataan. Beberapa kali terjadi, dan membuat beberapa orang merasa dirugikan.

Saya sendiri yakin bahwa saya bukan penyihir, dan saya tidak pernah melakukan praktik-praktik perdukunan, yang membuat kata-kata saya menjadi kenyataan. Saya juga bukan peramal, saya tidak bisa membaca masa depan (dan masa lalu). Saya juga tidak melakukan praktik-praktik pencarian pesugihan yang membuat saya menjadi sakti dengan kata-kata saya. Dan saya yakin saya tidak punya kata-kata bertuah yang membuat itu menjadi kenyataan. Pokoknya, kalau sampai kata-kata yang saya ucapkan berubah menjadi kenyataan, saya yakinkan kepada semuanya bahwa itu tidak ada hubungannya dengan hal yang mistis-mistis.

Oh… saya sudah pernah bilang kalau saya nggak percaya sama yang kaya begituan kan?

Dan… Oh… Nama saya bukan Paul, dan saya tidak bertentakel delapan.

Dan nama saya bukan Mani.

Saya manusia.

Dan, meskipun tebakan saya tentang pemenang piala dunia menjadi kenyataan… Saya yakinkan bahwasanya, saya bukan Deddy Corbuzier.

Anyway…

Sebelum saya semakin dituduh yang tidak-tidak, sebaiknya saya segera membeberkan rahasia saya. Yaitu… tidak ada rahasia!!

Dalam ilmu matematika, ada yang dinamakan peluang. Dan juga ada yang dinamakan dengan logika. Suatu kejadian, sebagai symptoms, atau gejala (yang terjadi sebelum hari ini), ditambah dengan apa yang dilakukan oleh seseorang (hari ini), pasti akan menyebabkan ‘result’ (yang terjadi setelah hari ini). Itu rumus sederhananya. Teori yang menjelaskannya adalah cause and effect theory (yang saya anut sejak beberapa tahun ini).

Peluang, berhubungan dengan presentase kebenaran result tersebut. Apabila menurut analisis saya (courtesy to Butet dalam “Sentilan Sentilun”), peluang kebenaran result tersebut lebih dari 70%, maka saya akan mengatakannya sebagai ‘tebakan’.

Kalau presentasi kebenaran resul tersebut lebih dari 90% menurut kalkulasi saya, maka saya bisa mulai menggunakan kata, “gue berani taruhan…” Itu menandakan seberapa pede saya dengan analisa “result” yang akan terjadi di kemudian hari.

Kalau kemungkinannya lebih kecil dari 70%, saya mengatakan, “bisa jadi” atau “mungkin” yang berarti masih besar kemungkinannya untuk salah.

Jelas, saya bukan peramal. Saya menggunakan logika untuk mengkalkukasi apa yang akan terjadi di kemudian hari. Saya menganalisa, apabila A mengatakan ini dan B mengatakan itu, maka A dan B akan mengatakan ini dan itu… Kemudian C akan beranggapan bahwa A dan B adalah begini begitu. Gampang kan? Semua itu ada dalam system, dan semua itu bisa diamati. Tidak perlu menjadi jenius (atau peramal) untuk bisa menebak hal-hal yang sederhana seperti itu.

Misalnya, kenapa saya tahu si K dan si O akan putus seminggu setelah saya mengatakannya? Jelas, saya melihat symptoms nya. Saya melihat perubahan gelagat antara keduanya. Saya melihat perubahan posisi antara mereka berdua. Saya mendengar perubahan nada suara saat mereka bicara. Saya mengamati semua itu, sehingga saya berani mengambil kesimpulan.

Kenapa saya tahu N ga akan hidup tenang sama si I? Karena saya tahu bahwa ada orang ketiga, dan saya tahu bahwa tidak akan ada yang berani mengambil langkah pertama. Saya tahu dari mengamati, saya tahu, dan saya berani mengatakan bahwa tidak lama lagi, mereka juga akan capek sendiri.

Kenapa saya tahu bahwa F akan nembak si B? Cuma orang buta (menurut saya) yang tidak tahu itu akan terjadi, dan sayang sekali ternyata si B beneran buta. Intinya, sekali lagi, saya melihat itu terjadi, bukan karena saya mendapat wangsit, tapi saya sudah lebih dulu melihat gejalanya di awal.

Persis seperti film “Feast for Love”. Nonton deh, ada Morgan Freeman.

Saya bukan orang yang kepo. Tidak seperti si Onyed yang selalu ingin tahu saja apa yang terjadi pada siapa, saya hanya mengamati ketika mereka meminta saya mengamati mereka. Saya hanya mengamati saat ada orang yang menyediakan saya informasi apa pun yang saya butuhkan untuk menganalisa. Saya hanya menjawab apa yang mereka tanyakan (dan saya tidak meminta bayaran untuk konsultasi). Tapi apa yang terjadi kemudian? Ini membuat saya agak kesal.

Mereka datang saat sedang bingung, meminta saya untuk membantu mereka dengan saran (a la peramal). Sekali lagi saya tidak di bayar, dan saya rela menggunakan sel sel kelabu dalam otak saya untuk mencari tahu di mana simpul-simpul yang membuat untaian benang itu menjadi ruwet. Dan setelah saya bersusah payah memberikan mereka saran, dan precaution, mereka melanggar begitu saya saran saya, dan melakukan apa yang mereka suka. Lalu apa gunanya minta saran? Blah.

Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah, saat masalah datang (karena tidak mengikuti saran saya tentunya), mereka akan kembali lagi dan membawa masalah baru ke meja saya. I’m not a rainmaker. Saya bukan dukun atau penyihir, saya tidak bisa guna-guna atau magic. Saya tidak menyediakan penyelesaian, saya hanya memberikan solusi, they have to do the rest.

Begitu bukan?

Advertisements

6 responses

  1. ahhh? Curcol tohhhh???? ihhhh mangap byq 😦 soal naaa pas ama artikelna bybyq
    aisssshhh inyo sering mampir lohhh, cek aja stat-nyaaaaaa… hehehehe

    Like

    • masa siih? masa siih inyo suka mampiir? ga percaya ah… kalo mau curhat sini sini… bybyq temani hingga badai berlalu…

      Like

  2. kadang2 capek juga kalo kita dianggap serba tau serba bisa menyelesaikan semua masalah. menjadi bego mungkin lebih aman yaaakkk… asal ga dianggap bego beneran :))

    Like